TWF dan Badan Arkeolog Adakan Forum Diskusi (Fokus) tentang Batak

oleh Riduan Situmorang pada 18 Mei 2018 (412 kali dibaca)

Foto oleh Edy Sitohang

Badan Arkeolog Sumatera Utara menyambut baik niat Toba Writers Forum (TWF) untuk mengadakan Fokus (Forum Diskusi) tentang tinjauan sejarah Batak dari sudut arkeolog di Balai Arkeolog Sumatera Utara, Jalan Seroja, Tj. Selamat, Medan (18/05). Pada Fokus itu, Kepala Balar Sumut, Ketut Wiradnyana, tampil sebagai pemateri dan Thompson HS sebagai moderator.

Ketut Wiradnyana membawa topik tentang asal-muasal Batak dari segi arkeolog. “Dari berbagai penelitian yang saya buat, simpulan lebih cenderung, Batak mulai ada sekitar 1.000 tahun yang lalu,” katanya. Menurutnya, ada banyak cerita rakyat tentang Batak. “Kita tidak mengesampingkan cerita-cerita rakyat. Dalam penelitian arkeolog, cerita rakyat dibuat sebagai data sekunder, bukan primer.”

Sementara menurut Thompson HS, sejarah Batak sangat menarik dicerna. “Jangan-jangan Batak sudah ada sejak masa berburu. Dalam spekulasi Thompson HS, adanya bagi-bagi jambar bisa dibuat menjadi bukti sekunder, Batak selalu berbagi setelah selesai berburu.

Diskusi dibuat secara terbuka. Ada banyak pertanyaan sekaligus penjelasan dari berbagai peserta diskusi. Joshua Sinurat, misalnya, setelah membaca buku SHW Sianipar, cukup yakin, Batak itu sudah lama sekali. Bahkan, menurut Joshua, sejarah Batak sudah dikaburkan. “Pusuk Buhit itu dikuasai orang Tionghoa bermarga Lim yang menjadi Limbong, Tang yang menjadi SItanggang, dan Lau yang menjadi Malau,” tambahnya.

Ketut Wiradnyana  tak sepakat dengan Joshua. “Semua harus didasarkan pada penelitian. Harus metodologis,” sanggahnya. Dian Purba juga tak setuju dengan Joshua.  “Maaf, menurut saya, apa yang Bapak Joshua katakana itu serupa dongeng. Mitos, bukan mistis,” tutur sejarawan dari UGM ini.

Dian Purba juga mengatakan, ada kecenderungan sejarah dan arkeolog di Sumut tidak saling sambung. “Ini perlu dikolaborasikan,” paparnya. Riduan Situmorang, pembinat TWF, menambahkan, agar penelusuran sejarah juga dikatikan dengan sastra (folklore). Bahkan, menurut Riduan, perlu dilihat untuk diperbandingkan, mana lebih banyak folklore bermuatan sejarah atau mitos belaka. “Sastra, sejarah, dan arkeolog itu sebenarnya saling kait,” tuturnya.

Di penghujung acara, Thompson HS memantik tanggapan peserta forum diskusi.  “Kita perlu membuat diskusi ini menjadi rutinitas,” paparnya. Nenni Triana Sinaga dan Yessi Pasaribu dari Pascasarjana USU sangat menyetujui usulan tersebut. Ketut Wiradnyana juga sangat terbuka terhadap perkembangan diskusi. “Mungkin, kita bisa mengundang SHW SIanipar bulan depan,” tambahnya.

Turut hadir dalam acara itu anggota-anggota TWF, seperti Firman Situmeang, Niko Adriano Hutabarat, dan Partahanan Simnbolon. Turut juga hadir pengajar dari Prosus Inten Medan, Marudut Nababan dan Efrendy Sidauruk, dan 15 peserta diskusi lainnya.

Baca Juga Berita Lainnya: Perpustakaan Sola Gracia, Asmat, Butuh Donasi Buku

Baca Juga Berita Lainnya: Menghitung Langkah Erwin yang lebih Maju dari Geopark

Baca Juga Berita Lainnya: Thompson HS ke Jerman Lagi

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar