Tunggu Saja Apa yang Kami Lakukan Ronny

oleh Jeremia pada 3 Oktober 2017 (555 kali dibaca)

 

Animasi Cinta Segititga

 

Hai, namaku Sonya. Usiaku sudah mencapai 16 tahun. Aku bersekolah di SMA Negeri yang tak jauh dari lokasi tempat tinggalku. Aku dikenal sebagai cewek yang cantik ramah, manja, dan tergolong berprestasi. Pada akhir semester ini, aku mendapatkan peringkat pertama di kelas. Saking bahagia dan senangnya, aku langsung berlari dan sambil melompat kegirangan didepan kelas untuk menerima hadiah. Saat aku berlari ke depan,tiba-tiba aku mendengar temanku mengucapkan kata selamat.

Nah, ketika keluar kelas, aku tidak sengaja menabrak seorang yang aku kagumi di sekolah. Namanya Bang Roni. Dia itu abang kelasku. Dia menjadi idaman para cewek di sekolahan. Dia itu pintar dan menjadi ketua OSIS di sekolah. Semenjak itu, aku selalu tersenyum malu. Tak disangka-sangka, ternyata dia juga menyukaiku. Akhirnya kami tukaran nomor HP. Hubungan kami semakin dekat.

Suatu ketika, Bang Roni mengajakku pulang bersama. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Bang Roni mengungkapkan perasaannya ke aku. Sungguh, saya sangat tak bisa berpikir apa-apa lagi. AKu tak bisa berbuat apa lagi. Aku langsung meng-ia-kan dan akhirnya kami resmi berpacaran.

Hari demi hari pun berganti dan sudah tidak terasa 1 bulan kami pacaran. Bang Roni yang dulunya ku kenal ramah, kini berubah drastis. Dia  tidak mau lagi memberi kabar. Dia mulai diam dan dingin. Beku. Aku merasa curiga “Akhir-akhirnya, ini mengapa Abang berubah? Rasanya semakin jauh aja sih?”

Tanpa kuduga-duga, dia jawab dengan nada keras, juga membentak. “Kan sudah aku bilang kalau aku mau fokus belajar sebentar lagi sudah UN. Kau kenapa sih curigaan kali!”

“Lah emangnya salah yah kalau aku curiga samamu?”

“Ah… Sudah! Aku capek!”

“Kamu kok gitu sih denganku? Kamu gak sayang lagi samaku?” Aku tersedu-sedu. Namun, Bang Ronny tak memedulikan aku.

Tiba-tiba, aku mendengar suara HP. Aku lantas mencari sumber suara tersebut. “Loh bukan HP aku? Terus punya siapa?” tanyanya dalam hati. Ternyata bunyi HP itu berasal dari tasnya Bang Roni yang tertinggal di bangku taman. Tanpa ppikir panjang, aku langsung mengambil HP-nya. Dana kau tahu, betapa kagetyna aku saat membaca pesan yang masuk.

Pesan tersebut dari Lia. Aku sangat terpukul. Betapa tidak, Lia itu salah satu sahabat terbaikku. Kami sudah lama kenal. Kami sudah bersama sejak sejak SD. Tak berselang lama, Bang Roni datang mencari tasnya. AKu sudah mulai gelisah dan marah. Tapi, aku coba untuk tetap sabar. Bagaiamanapun, sabar jauh lebih baik.

“Bang, ini Lia mana? Sahabat aku itu yah?” tanyaku dengan sabar, mencoba menahan amarah.

“Iya. Emang kenapa? Sahabatmu kan bisa sahabatku juga?”

Oke, aku tetap sabar. Sabar. Sabar. Lalu kujawab dengan tenang, “Tapi tidak seperti ini juga kan sok perhatian, sok peduli gitu sama kamu, aku gak suka kalau ada yang pedulikan kamu selain aku.” Bang Roni pun hanya tersenyum manis dan meninggalkan aku. Air mataku jatuh ke kubangan dan akupun semakin lemas seakan tidak punya daya.

Aku segera memasang siasat untuk segera berjumpa dengan Lia. “Lia aku boleh gak nanya sesuatu samamu? Kamu sama Bang Roni sering SMS-an yah,” tanyak tanpa kata pengantar.

“Loh, kok kamu nanya gitu sama aku?” ” Emangnya salah yah?”

“Aku pernah baca pesanmu sama Bang Roni, kok kamu mengusik aku dari belakang sih?”

” Aku gak paham maksudmu Sonya!” aku langsung meninggalkan Lia. Aku merasa ada sesuatu yang tak beres.

Setelah beberapa minggu aku pun mendapatkan bukti kalau Lia dan Rony sudah pacaran. Aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa mereka tega berbuat ini denganku? Ratapku dalam hati.

Tanpa sepengetahuanku, Roni datang menghampiriku. “Kenapa menangis? Siapa yang sudah buat kamu menangis? Bilang sama aku?” aku langsung tersenyum seakan tidak ada beban”

Siapa yang menangis,mataku cuma kemasuka debu” .

“Oh”. Ya, hanya kata itu dan dia pun pergi begitu saja.

Air mataku kembali menetes. Tanpa kuduga lagi, Lia pun datang, “Kamu kenapa? Kok menangis? Kalau ada masalah, cerita dong! Aku siap menjadi mendengarmu!” Munafik, pikirku dalam hati. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, aku pergi begitu saja. Rasakan, pikirku.

Keesokan harinya, aku duduk di taman sekolah. Lia menghampiriku. Aku tak tahu entah darimana dia datang. “Kamu kenapa sih? Kok gitu samaku semalam?”.

Kau tahu, apa yang kukatakan padanya. Aku mengatakan segala sesuatu kepada orang yang munafik. Aku marah, tentu saja.

Bang Roni pun datang. Dia menghampiri kami berdua. Aku marah. Semakin marah dan emosional. Aku meledak-ledak dalam berkata-kata. AKu sudah tak peduli siapa itu Ronny, siapa itu Lia.

“Sonya, kamu salah paham. Kami tidak ada hubungan apa pun. Kamu tahu bahwa aku sayang samamu. Gak mungkin aku tega samamu!”.

“Sudahlah nggak usah bohong. Aku sudah rela. Tapi aku minta tolong samamu, ya, jaga dia buat aku yah, Lia!” Kemudian aku pergi memasuki kelas.

Tiga hari berikutnya, entah karena apa, Lia datang menghampiriku. Aku tidak mempedulikannya. Lama dia kaku di depanku. Aku tetap tak peduli.

“Sonya, maafim aku yah sudah jahat padamu. Aku sangat bersalah dan aku sangat malu kalau bertemu denganmu. Nggak mungkin aku diam terus-menerus dan dihantui rasa bersalah ini.”

“Sudahlah kan aku sudah bilang kalau aku sudah ikhlas,jadi jangan dibahas lagi yah!”

“Sebenarnya kami tidak ada hubungan lagi”

“Haa? Kok gitu sih? Kan aku sudah bilang, aku sudah ikhlas”.

Lia pun memeluk aku dan berkata ” Gak mungkin aku lebih memilih Bang Roni daripada sahabatku sendiri”.

Sebagai sahabat, aku tetap memaafkannya. Bagaimanapun, ersahabatan lebih berarti daripada pacaran. Jauh lebih kukenal Lia daripada Ronny. Karena itu, aku dan Lia sepakat akan mempermainkan Ronny. Lelaki buaya harus dihajar dengan cara yang tak dia ketahui. Lelaki jahat harus diberikan pelajaran.

Tunggu apa yang akan kami lakukan, Ronny.

 

Baca Catatan Remaja Lainnya: Memimpi Langit

Baca Catatan Remaja Lainnya: Ternyata Bukan Sekadar Mimpi

Baca Catatan Remaja Lainnya: Berhentilah Jadi Pembawa Luka

Info Penulis

Pengurus OSIS di SMA Budi Murni 3, sebagai kordinator IPTEK dan Olimpiade

Bagikan:


Komentar