Teruntuk Fadly Zon dan Mulut Besarnya

oleh Riduan Situmorang pada 10 April 2018 (419 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Tribunnews.com

Vladimir Putin. Itulah sosok pemimpin pujaan Fadly Zon. Supaya redaksinya bagus, baik saya tuturkan balik ekspresi Fadly Zon ini di sini: “Kalau ingin bangkit dan jaya, RI buruh pemimpin, seperti Valdimir Putin: berani, visioner, cerdas, berwibawa, tidak banyak utang, dan tidak planga-plongo. Beragam reaksi pun bermunculan. Salah satunya berasal dari redaktur cantik Geotimes, Cania Citta Irlanie bereaksi. Cania berkicau, “Kalau Indonesia presidennya seperti Putin, kepala situ (Fadly Zon) sudah hilang dari kapan. Tidak sempat lagi jadi selebtwitter (lagi-lagi, saya perbaiki redaksinya).

Apa yang dikemukakan Cania Citta Irlanie benar adanya. Kita sama-sama tahu, kediktatoran melahirkan tirani. Kita pernah mengalaminya pada masa Orde Baru. Pada masa itu, mengkritik benar-benar sinonim dengan menghina. Siapa saja berani bersuara, maka dipastikan, kalau tidak mati, dia akan menjadi penghuni penjara. Silakan googling. Berbagai fakta akan bertaburan. Saat ini, situasi sudah terbalik. Masyarakat bebas untuk bersuara, bahkan dengan lantang. Masyarakat bahkan semacam bebas untuk menginjak-injak foto presiden.

Pada masa inilah menghina disamaartikan dengan mengkritik. Hoax sinonim dengan asli. Rocky Gerung bahkan punya rumus unik tentang hoax. Hoax terbaik adalah versi penguasa. Sebab, mereka memiliki peralatan lengkap: statistik, intelijen, editor, panggung, media, dst!” begitu Rocky Gerung pernah berkicau ketika pemerintah sedang sibuk memblokir situs-situs tak terpercaya. Kalau bisa disederhanakan, pengertian kicauan Rocky Gerung tersebut begini: bahwa kalau kini ada hoax, maka hoax terbaik tetaplah versi pemerintah karena bisa disalurkan melalui media mainstream.

Tiada Tanggung Jawab

Pesan turunannya tentu adalah blokirlah Kompas.com, Detik.Com, Tempo.co, Viva.co.id, atau Geotimes.co.id. Di luar itu, jangan samoai karena itu bukan hoax terbaik! Begitulah era kebebasan. Semua bebas berkoar. Semua bebas mencaci. Sayangnya, dalam kebebasan itu tak ada tanggung jawab. Kita hanya bebas mencaci tanpa mau bertanggung jawab. Lebih parah lagi, kita seringkali mencaci dengan sembunyi tangan. Teknisnya, lahirkan berbagai akun robot. Maka, semakin sempurnalah cacian itu.

Baca Ulasan Lainnya: Supaya Tak Bubar, Prabowo Harus Gabung Jokowi

Di mana-mana, informasi bodong dibagi-bagikan. Di mana-mana, informasi suci dipelintir, dibelokkan, disalintempelkan. Itulah yang dilakukan Grup Sarachen. Itulah pula yang dibuat MCA. Namun, sebagaimana biasanya, elite politik kita yang berseberangan dengan pemerintah selalu menurut pada nasihat Rocky Gerung. Jelas-jelas Sarachen dan MCA memproduksi berita palsu, tetapi mereka malah membela setengah mati melalui delik-delik unik.

Ternyata Geor Simell benar. Bahwa di mana ada anonimitas, di situlah berkembang rasa tidak bertanggung jawab. Semua kata dilontarkan begitu saja seenaknya. Fadly Zon, misalnya. Dia menyebut bahwa Indonesia akan jaya kalau pemimpinnya seperti Vladimir Putin. Kita tak mengerti apa maksud Fadly Zon. Kita hanya mengerti bahwa kalimat Fadly Zon ini miskin tanggung jawab. Fakta bahwa tuduhan komunis mengalir kian deras ke Jokowi. Siapa yang menuduhkan ini kalau bukan elite antipemerintah?

Namun, di mana tanggung jawab semua tuduhan itu? Anehnya, belum ada tanggung jawab, malah timbul hal yang baru: Fadly Zon mengidolakan Vladimir Putin. Tak sulit untuk mengartikan siapa sebenarnya Vladimir Putin. Yang barangkali sulit adalah mencerna makna di balik kata-kata Fadly Zon. Sulit dicerna karena kata-kata ini dipastikan miskin tanggung jawab. Sederhana saja: apakah misalnya dengan mengidolakan Vladimir Putin, maka dengan begitu, Fadly Zon ingin agar Jokowi otoriter saja (tidak palanga-plongo)?

Apakah dengan begitu, Fadly Zon ingin agar Jokowi menjadi presiden yang terpilih sebanyak berapa kali Vadimir kemudian terpilih? Apakah Fadly Zon ingin agar Jokowi seperti Vladimir Putin: menikah lagi, bahkan dikabarkan mempunyai wanita-wanita lain? Ini pertanyaan yang lebih serius: apakah dengan begitu, Fadly Zon ingin agar negara ini menjadi komunis? Siapa pun tak bisa menjawab pertanyaan ini dengan sempurna sebab semua perkataan Fadly Zon, apalagi kalau dari media sosial adalah hanya kicauan semata: nirtanggung jawab.

Baca Ulasan Lainnya: Kampanye SARA

Yang pasti, ada sebuah kecurigaan dalam benak saya. Kecurigaan ini berdasar pada Fadly Zon. Siapa pun tahu, Fadly Zon salah satu kelas kakap “haters” Jokowi. Mengidolakan Vladimir Putin bisa juga berarti mengidolakan agar seseorang bisa menyerupai Vladimir Putin di negara ini. Tentu saja, dia bukan Jokowi. Sederhana saja, Fadly Zon adalah “haters” kelas kakap Jokowi. Lalu, siapa seseorang itu? Tanpa saya sebut, kita sudah pasti sudah bisa menduga siapa orangnya. Pertanyaannya, apakah Fadly Zon sedang menyarankan agar seseorang itu segera belajar untuk menjadi seperti Valdimir Putin?

Tidak Akan Pernah

Pertanyaan ini barangkali tak berdasar. Namun, jika dipaksakan, pertanyaan ini bisa dibuat punya dasar. Fadly Zon tentu lebih bangga dengan Orde Baru. Kalau bisa menebak dengan pikiran kotor, Fadly Zon barangkali ingin kembali negara ini menjadi seperti Orde Baru. Masalahnya, Figur pemimpin Orde Baru itu sudah tiada. Maka, diambillah figur yang setidaknya menyerupai, yaitu Vladimir Putin. Apakah ini maksud Fadly Zon? Saran saya, jangan tanya pada Fadly Zon. Sebab, seperti sudah saya ulang-ulangi, kata-kata ini nirtanggung jawab.

Pada kata-kata yang tidak bertanggung jawab, kita hanya bisa menebak, tentu saja. Inilah dunia kata-kata, apalagi kalau kata-kata itu tanpa gagasan. Kita hanya bisa menerka-nerka. Terkaan itu, barangkali salah satunya adalah, Fadly Zon menyarankan hal sebaliknya: agar Jokowi sesegera mungkin berlagak seperti Vladimir Putin. Lalu, setelah Jokowi, misalnya, sudah seperti Vladimir Putin, apakah Fadly Zon akan berhenti? Mustahil! Fadly Zon akan kembali menggerutu: negara otoriter. Fadly Zon tak akan berhenti.

Fadly Zon hanya akan benar-benar berhenti jika Jokowi sudah semakin seperti Vladimir Putin. Saat itulah kicauan Cania Citta Irlanie tentang Fadly Zon akan menemui definisi terbaiknya. Namun, jangan berharap yang tidak-tidak untuk Fadly Zon. Selama Jokowi masih menjadi presiden, Fadly Zon akan selalu setia menjadi tukang kritik. Dia akan mengkritik apa saja terkait Jokowi. Dia akan menggembor-gemborkan bahwa kini terjadi kesenjangan ekonomi seakan-akan itu adalah ulah Jokowi.

Dia akan menggembor-gemborkan tentang nasib orang kaya yang semakin kaya. Yang pasti, Fadly Zon tak akan pernah menggembor-gemborkan berapa harta kekayaan Prabowo dan adiknya. Tidak akan pernah. Fadly Zon juga tak akan menggembor-gemborkan bahwa dia pernah selfie dengan Donald Trump. Tidak akan pernah. Fadly Zon (ini saya yakin sekali) bahkan tak akan pernah membuat puisi bertemakan Indonesia bubar pada 2030. Sekali lagi, tidak akan pernah! Anda tidak percaya juga? Berarti, Anda adalah salah satu deretan pengagum Fadly Zon!

Baca Ulasan Lainnya: Menghina Diri

Baca Ulasan Lainnya: Menebak Masa Depan Djarot di Sumut

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar