Ternyata Bukan Sekedar Mimpi

oleh Monika Simamora pada 28 September 2017 (512 kali dibaca)

Ilustrasi diambil http://dpunik.com/dp-bbm-motivasi-cinta/

 

Mataku terbuka secara perlahan. Siluet pagi begitu menyejukkan. Aku terbangun dari tidurku. Namun, entah kenapa, mimpi itu masih menghantuiku. Aku gelisah. Di tempat tidur ini, aku masih termangu di dalam lilitan selimut sembari asyik dalam kepungan mimpi itu.

“Kenapa bisa mimpiku seperti itu?” pikirku dalam diam. Pagi semakin matang dan terang. Sementara itu, aku masih termangu. Mimpi itu masih saja mengepungku. Mimpi itu bahkan membuatku resah tak menentu. Aku gelisah. Darahku terpompa cepat.

“Bagaimana kalau mimpi itu benar-benar terjadi?” gelisahku semakin memuncak. Tetapi, ah, sudahlah. Mimpi hanyalah mimpi. Mimpi hanya bunga tidur. Bunga yang membuat kita lelap dalam tidur yang indah. Maka, kuputuskan untuk segera beranjak dari tempat tidurku. Aku harus segera bergegas ke sekolah.

Sekeluar dari kamar tidur, kulihat Mama sudah mempersiapkan makananku. Aku menyapanya dengan lembut, memeluknya, sembari berharap mimpi itu tak lagi menghantuiku. Mamaku orang yang baik. Pagi ini dia sudah mempersiapkan sarapan. “Cepat, habiskan sarapanmu. Pagi sudah terang, nanti kau terlambat,” ujarnya dan aku memeluknya lagi. Tetapi, mimpi itu masih juga tak pergi. Apakah mimpi tak sekadar mimpi?

Selekas sarapan dan mandi, aku bergegas ke sekolah. Namun, kau tahu, mimpi itu masih mengepungku. Jantungku bahkan semakin cepat memompa darah. “Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan? Aku tak pernah seperti ini? Aduh, andai mimpi itu benar-benar terjadi, aku tak bisa membayangkan betapa aku, ya, betapa aku…,” gelisahku semakin menumpuk.

Tubuh ku mendadak keringat dingin. Betapa tidak, tiba-tiba saja terdengarku seseorang memanggil-manggil dari dari kejauhan. Aneh pikirku. Suarau itu semakin nyaring memanggil. “Apakah ini masih mimpi?”

Di ntara pangilan itu, aku menoleh ke belakang. Tak kusangka-sangka, ada seorang pria yang tak jelas wajahnya. Tapi, aku tahu, kali ini beda mimpi dengan kenyataan semakin tipis. Aku semakin gelisah. Tentu gelisah kali ini sudah punya pengertian yang berbeda. Spontan, aku berlari begitu saja ibarat binatang yang sedang diburu. Entah kenapa, rasa malu, entah darimana datangnya, merayap ke tubuhku.

Aku sudah sangat lelah ketika sampai ke sekolah. Berlari antara batas mimpi dan nyata tentu bukan pekerjaan mudah. Tetapi, tiba-tiba lagi…

“Hei, kamu kelelahan, ya?” lagi-lagi pria itu sudah dekat lagi.

” Mmmhh,” aku tak bisa bersuara. Aku hanya mengangguk perlahan. Rasamaluku semakin menumpuk saja. Tanpa babibu, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Nah, minum ini,” katanya. Suaranya begitu menggetarkan.

” Makasih ya, ” jawabku sangat singkat dan padat. Tapi jawaban itu sudah penuh.

“Duluan aku, ya,” kata pria itu sembari meninggalkan aku.

Rasa kali ini semakin tak terjemahkan. Antara gelisah, malu, bangga, semua bercampur aduk. Aku melongo dan terdiam membayangkan sesuatu yang tak bisa dibayangkan.

“Hei, kamu kok diam aja sih?” seseorang bertanya sambil merangkulku dari belakang.

“Eh, ih,h apaan, sih, kamu. Aku terkejut tau? Aku gak apa-apa kal,” Kali ini jawabanku agak keras. Tetapi, bukan keras untuk marah.

“Oh, jadi gitu kamu sekarang iya? Sudah gak mau lagi cerita?”.katanya setelah melepas rangkulannya.

“Eh, bukan gitu lho.”

“Ya, sudahlah kalau kamu emang gak mau cerita,” katanya dengan singkat dan dengan suara yang datar.

Aku terdiam. Kegelisahan ini sebenarnya membuatku ingin segera mencurahkan semuannya. Kegelisahan ini menjadi beban yang sangat berat. Sungguh!

“Apa harus aku menceritakan mimpi ini?”.pikirku dalam hati.

Bel masuk pun berbunyi. Pelajaran sudah berlangsung. Namun, aku hanya diam dan melamun. Tak ada satupun pelajaran yang masuk ke dalam pikiranku. Lagi-lagi, mimpi itu menyerangku.Seharian penuh aku hanya terdiam,melamun, merenung. Begitu berulang.

Bel pulang akhirnya berbunyi. Kegelisahanku semakin memuncak, tetapi belum terjawab: apakah ini hanya mimpi? Dengan perasaan bingung, aku pulang. Sesampainya di rumah, kuambil handphone-ku. Kuketik kata per kata dalam mimpi itu. Entah kenapan, aku ingin mimpi dan nyata semakin tak berbatas.

“Maaf aku tadi gak bisa cerita di sekolah. Berat rasanya untuk menceritkan secara langsung denganmu. Sekarang aku mau cerita samamu. Tapi sebelumnya aku mau jujur denganmu. Belakangan ini, aku sedang dekat dengan laki-laki sekelas kita. Dan diam-diam aku memiliki rasa dengannya.Tapi tidak ada satu orang pun yang tau tentang perasaanku ini. Aku gak tau mengapa ini bisa terjadi. Semalam tanpa kupikirkan, aku mimpi dengan pria yang ku sukai itu. Dalam mimpiku, pria itu menyatakan cintanya di depan semua siswa sekolah. sangat romantic. Bahkan hujan menjadi saksi dalam ungkapan cintanya ke padaku. Kami berdua menjadi pusat perhatian di tengah-tengah hujan yang lebat. Dia memberikan aku sebuah boneka besar, mencium keningku dan memelukku di hadapan semua siswa. Kamu tau yang ku katakan dan yang kupikirkan satu harian ini adalah aku takut mimpi itu terjadi. Karna aku tahu mimpi itu bisa jadi kenyataan.Aku pernah bermimpi sebelumnya dan mimpiku itu menjadi kenyataan. AKu tak bisa membayangkan, andai mimpi ini kelak terjadi”.

Pesan sudah rampung kutuliskan lalu kukirim.

“Siapa nama pria itu?”.dia membalas pesanku.

“Aku akan memberitahukan namanya ke kamu. Tapi kamu jangan pernah memberitahukan ini semua kepadanya atau pun orang lain, ya”

“Kamu tenang aja. Aku pasti merahasiakan ini.”

“Ciko!” Jawabku singkat.

Sejak SMS itu, aku mulai tenang. Gelisahku sudah mulai mencair. Aku kembali merasa biasa. Namun, ada satu hal yang tak kusadari. Ada sesuatu yang berubah. Mula-mula, kupikir ini biasa saja. Namun, lama-lama, aku mulai merasa perbedaan itu, Ciko semakin dingin. Ada apa gerangan? Apakah ada seseorang yang memberitahukannya kepadanya? Kalau ada, siapa itu? Apakah mungkin Rara? Tak mungkin. Rara sudah berjanji. Rara adalah temanku yang setia.

 

Baca Cerpen Remaja Lainnya: Memimpi Langit

@@@

Hari ini, ketika berjalan menuu kantin, aku melihat dia dari kejauhan. Meski dari kejauhan, aku tahu dia sedang murung dan mutung. Entah apa yang dipikirkannya. Kali ini, aku memberanikan diri. Aku mendekatinya dengan sedikit canggung.

“Kok sendirian saja?”.tanyaku.

“Aku gak apa-apa. Lagi pengen menyendiri saja,”.jawabnya sembari tersenyum.

Lama ku berbincang-bincang dengannya. Dia memang ingin menyendiri. Aku membiarkannya lelap dalam kesendirian. Yang pasti, saya lumaya lega ketika tahu bahwa Ciko tak berubah. Kami masih dekat seperti sedia kala. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuatnya agak berbeda hari-hari belakangan ini. Bukan karena Rara, tentu saja.

Sejak itulah, hari-hariku bersamanya kembali seperti dulu. . Semakin lama, kami bahkan semakin dekat, seperti seorang sahabat. Tetapi, aroma sahabt ini tentu dalam pengertian yang berbeda. Soalnya, setiap malam, aku selalu terbayang pada dirinya. Aku membayangkan bagaimana kalai dia ada di sampingku. Saat itu, kami indahnya langit gelap yang di penuhi bintang berkelap kelip. Dia menggeser tubuhnya dekat ke arahku dan kami mulai bahagia.

Ya, sejauh ini, semuanya itu hanya bayangan. Hanya imajinasi. Hanya mimpi. Mimpi yang kelak kutuliskan dalam sebuah carik kertas. Kertas yang akan menumpahkan semua perasaanku,semua kebahagiaanku, semua mimpiku, tentangnya dan tentangnya. Kali ini, aku sudah mengambil kertas kosong. Semua gelisahku tumpah ke kertas itu. Mengalir dan indah.

Mungkin saat ini aku hanya bisa membayangkanmu saja, melihatmu dari kejahuan dan bercanda ria denganmu, juga dari kejauhan. Kau harus tahu, dekatmu aku bahagia. Dekatmu saja, aku merasa bahwa aku sudah milikmu dank au adalah milikku. Memang, ah, barangkali ini mustahil terjadi. Aku terlalu berkhayal tinggi.

Tapi itu tidak masalah bagiku. Hanya berada disampingmulah hari-hari mendadak bahagia dan cerah. Sampai ku berfikir konyol tidak akan ada sedikitpun jarak yang akan memisahkan kita di setiap detik dan menitnya. Kau tahu, malam-malamku penuh dengan bayangan wajahmu. Selalu wajahmu dan selalu wajahmu. Senang rasanya bisa kenal denganmu.

Ketika kita bercanda aku selalu memperhatikan mata coklatmu yang indah, belahan dagumu, dan bibirmu yang merah. Mungkin itu juga membuat ku tertarik denganmu. Namun, aku harus akui, kamu bukan hanya tampan. Kau juga lelaki yang supel, baik, dan perhatian. Mungkinkah suatu saat aku akan jadi milikmu?

Tak terasa, malam sudah meninggi. Mataku sudah mulai lelah. Namun, aku puas. Aku sudah menumpahkan isi hatiku ke kertas itu. Lalu, kumasukkan kertas itu ke dalam kamusku. Meski mataku sudah semakin berat, aku masih menyempatkan diri untuk berdoa, menyebut namamu untuk-Nya.

 

Baca Catatan Remaja Lainnya: Berhentilah Jadi Pembawa Luka

@@@

Hari-hari berganti. Dan, kita selalu bersama. Memang, perasaanmu padaku masih sebuah misteri. Terus terang, selalu saja ada ragu yang berat dalam hatiku. Tentang, apakah, misalnya, aku pantas untukmu? Apakah kamu mempunya rasa padaku seperti yang kurasakan? Ya, itu terlalu konyol. Orang lain bahkan menyebutnya terlalu dini dan cinta monyet.

Tiba juga masa itu. Pagi sangat dingin.  Kicauan burung yang merdu, lambaian daun-daun dan indahnya mawar merah yang berderet di sepanjang jalan membuatku serasa dunia ini milikku sendiri. Hujan tersimpan di balik mendung. Sesampai di sekolah, aku duduk di taman kelas. Sekilas terlihat kukilat dan suara petir yang menggerudu keras.

Hujan mulai mengguyur. Maka, aku pergi berlari ke ruangan kelas. Guyuran hujan yang lebat membasahiku. Tiba-tiba Ciko sudah berada dibelakangku. Aku terkejut. Spontan, aku menarik tangannya dan mengajaknya bermain di bawah lebatnya hujan. Semua siswa melihat tingkah dan kekonyolan kami. Hanya aku dan dia yang berada di tengah lapangan yang disertai guyuran hujan. Kami tidak peduli.

Sekejap  Ciko diam dan menarik tanganku. Aku pun terdiam. Hati ku mendadak gelisah. Jantungku berdebar kencang. Ciko memegang kedua tanganku. Aku terdiam seribu bahasa.

“Apa ini..?” pikirku dalam hati.

Ciko menjawab suara hatiku.

“Tidak ada kata apa saat ini. Di tengah-tengah hujan ini aku mau mengungkapkan semua isi hati ku.”

“Bagaimana dia tau isi hati ku? Apa ini yang namanya kontak batin?” tanyaku dalam hati.

“Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana aku tahu isi hati mu saat ini. Aku mau jujur,” sahutnya cepat.

“Kamu mau jujur apa?”

“Aku sayang padamu, “jawabnya teriak.

Aku kembali terdiam seribu bahasa.

“Aku cinta kamu, aku sayang kamu…” teriaknya kembali.

Di tengah guyuran hujan dan di hadapan semua siswa, Ciko mengungkapkan perasaannya dengan suara keras. Aku berbalik dan meninggalkannya, tetapi Ciko menarik tanganku dan memelukku.

“Aku sayang kamu…” katanya dalam pelukan.

Aku hanya diam dalam malu.Ia melepas pelukannya dan memegang bahuku.

“Kamu mau jadi pacarku?” katanya dengan menatap aku.

“Apaan sih kamu, semua orang melihat kita loh,” jawabku.

“Biarkan mereka melihat kita. Mereka semua, dan hujan ini, akan menjadi saksi pernyataan cintaku padamu. Dan kamu tidak perlu bohong dengan perasaanmu. Aku sudah tau tentang perasaanmu.”

“Apa yang kamu tau?”

Aku berbalik badan.

“Kertas putih itu…!” katanya.

Aku kembali menghadapnya.

“Kertas putih apa?”

“Kertas putih tentang isi hati mu yang sebenarnya”

Kok yakin kali kamu kalau kertas itu tentang isi hatiku?” kata ku sambil tertawa kecil.

“Karna hanya aku laki-laki yang sangat dekat denganmu. Karena itu, sekarang, di depan mereka semua dan di bawah rinaian hujan, aku menjawab semua isi kertas putih muitu. Setiap waktu berganti,tiap menit maupun detik tidak akan ada lagi jarak di antara kita. Tidak akan ada lagi yang memisahkan kita. Tidak ada yang mustahil, menit ini juga kamu sudah seutuhnya menjadi milikku. Kamu dan aku memiliki perasaan yang sama. Kamu sayang aku dan aku sayang kamu,” katanya dengan tenang.

Hatiku bahagia dicampur dengan rasa malu. Bimbang rasanya. Kebahagiaan sudah di depan.

“Kamu mau jadi pacar ku?” tanyanya sekali lagi.

Sekejap, aku terdiam bahagia. Tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan senyumku. Ciko langsung memelukku dan mencium keningku cukup lama.Ia lalu melepas pelukkannya dan dengan senangnya, ia berlari-lari memberitakan ke semua murid. Aku tersenyum bahagia sekali.

Ciko, ternyata kamu bukan hanya mimpi! Mari, mari menghabiskan hujan ini….

 

Baca Catatan Remaja Lainnya: Cinta dalam Diam

 

 

Baca Catatan Remaja Lainnya: Aku

Info Penulis

Pengurus OSIS di SMA Budi Murni 3 Medan, Sebagai Kordinator Seksi Kekeluargaan

Bagikan:


Komentar