Tentang Tuhan, Biarkan Aku Memaklumi Stephen Hawking!

oleh Andil Siregar pada 16 Maret 2018 (514 kali dibaca)

Stephen Hawking dan Alam Semesta

Sudah lama aku tidak mengikuti berita akhir-akhir ini. Seperti biasa pulang mengajar larut malam. Setibanya di rumah, aku sering langsung ketiduran selekas makan. Dan, baru akan terbangun kembali pada jam 22.00. Bangun inilah yang akan membuatku begadang hingga esok paginya, pukul 01-02 dinihari (begadang satu hari). Berhubung TV-ku lagi  rusak, aku biasanya main game di laptop. Tapi, karena lama tidak mengikuti berita, kubuka media daring online. Tiba-tiba aku melihat berita bahwa Stephen Hawking telah meninggal, tepat pada usia 76 tahun.

Ada persitiwa unik dalam kepergian Stephen Hawking ini. Konon katanya, ia lahir pada 8 Januari 1942, tepat 300 tahun setelah kematian Galileo. Galileo merupakan salah satu fisikawan berpengaruh beberapa abad silam. Saya cukup serius membaca beritanya sembari berpikir sejenak “Pantaslah beberapa kawan kawan di WA dan IG menjadikan gambar Hawking berikut beberapa quote-nya sebagai status.

Baiklah, saya perkenalkan dulu diri saya. Saya adalah orang yang mengenal Hawking. Pertama sekali saya berkenalan denganya adalah ketika saya masih duduk di bangku kuliah Jurusan Fisika Universitas Negeri Medan. Kala itu sudah kebiasaan bagi kami anak-anak fakultas MIPA untuk rajin datang ke perpustakaan. Sebetulnya bukan karena kami kutu buku. Namun, karena kami ada kewajipan membuat tinjauan teoritik di laporan praktikum fisika.

Awalanya waktu itu niatku hanya sebatas mencari tinjauan teori terus pulang kalau sudah selesai. Akan tetapi di saat mau pulang, aku melihat seorang mahasiswi yang cukup cantik untuk ukuranku. Saya lihat dia lagi mencari-cari buku di rak perpustakaan. Karena penasaran waktu itu, aku juga ikut pura-pura mencari buku di seberang rak buku si mahasiswi tadi. Waktu itu, aku asal ambil buku saja dan saya pilih beberapa buku seadanya yang penting tidak jauh darinya.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Siapakah Tuhan?

Setelah itu, aku melihat si mahasiswi tadi duduk dan aku pun ikut duduk di meja yang sama setelahnya. Agar tidak kelihatan modusku, aku pura-pura serius membuka buku yang kuambil sambil sesekali melirik kearahnya. Ada dua buku waktu itu aku pegang. Dan, saat aku lihat salah satu buku halaman sampulnya bertuliskan “In A Brief History of Time” (duarrrrrrrr), aku mencoba membukanya. Mungkin sejenak anda bertanya mengapa saat itu aku memilih membuka buku itu walaupun aku belum tahu apa gambaran isinya?

Yang ada dipikiranku waktu adalah “Ini aja dulu aku buka bah, biar kelihatan smart. Ukuran smart kala itu bagiku adalah membaca bahasa asing, terutama buku sekelas Stephen Hawking. Saat kubuka dan baca, isinya ternyata tepat dengan jurusanku. Dan, isinya ternyata bukan bahasa asing. Buku itu sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akhirnya aku hanyut bercengkerama dengan penuturan Stephen Hawking dalam bukunya tersebut. Lewat buku Hawking ini, saya merasa ditantang untuk membahas pertanyaan-pertanyaan besar seperti: Bagaimana alam semesta bermula—dan apa yang memulainya? Apakah waktu itu, dan apakah ia selalu bergerak maju? Adakah ujung alam semesta, dalam ruang maupun waktu?.

Saking hanyutnya aku membaca, aku jadi lupa dengan tujuan awalku tadi untuk berkenalan dengan si mahasiswi tadi (“Hmm  ini gara-gara kamu Hawking sudah menghilang dia dari hadapanku”) Sejenak aku melihat ke sekeliling, si mahasiswa cakap tidak ada lagi. Sejenak kutarik napasku. Namun, pikiranku kembali ke buku yang tadi. Aku seakan tidak peduli lagi dengan niat awal tadi. Sepertinya buku itu lebih menarik parhatiandibandingkan simahasiswi tadi.

Kulanjutkan kembali mendengarkan pemaparan Hawking tentang adanya dimensi lain dalam alam semesta, pun dengan apa yang terjadi ketika alam semesta berakhir. Hingga pada akhirnya kerena tidak bisa kuhabiskan buku itu, aku memutuskan untuk meminjamnya untuk dibaca di rumah. Yang pasti, kubawa buku itu menjadi sebuah penguatan bahwa bagiku  sosok Hawking cukup menginspirasi dan mengesankan (hingga seorang gadis cantik lenyap).

Bagaimana tidak, pada usia 21 tahun dia sudah didiagnosis penyakit mematikan pada usia 21 tahun. Bahkan Hawking divonis hanya mampu bertahan 2 tahun lagi. Namun, ternyata Hawking bukan hanya bisa bertahan hidup dua tahun. Dia justru meninggal pada usia yang sudah renta. Dan, meninggalnya Hawking bukan membuat dia benar-benar mati. Hingga sekarang dan beribu-ribu tahun kelak, dia akan hidup. Sungguh luar biasa. Hawking adalah wujud mimpi Chairil Anwar: aku mau hidup 1.000 tahun lagi.

Stephen Hawking melakukannya bukan dengan mudah. Dalam buku autobiografi singkat “Stephen Hawking: My Brief History”, ia mengungkapkan bahwa ia tak langsung bisa menerima penyakitnya. Awalnya, ia menyatakan bosan dengan hidupnya, merasa tak ada hal berguna yang bisa dia lakukan. Hingga pada sebuah pengalaman di rumah sakit lantas mengubahnya. “Saya melihat seorang anak laki-laki di ranjang sebelah mati karena leukemia. Itu bukan pengalaman yang baik. Jelas ada orang yang kondisinya lebih buruk dari saya. Kapan pun saya merasa tidak berharga, saya selalu mengingat anak laki-laki itu.”

Baca Ulasan Menarik Ini: Ketika Manusia Menjadi Tuhan Sekaligus Iblis

“Segera setelah saya keluar dari rumah sakit, saya merasa seperti akan dieksekusi. Saya lalu menyadari bahwa banyak hal berharga yang bisa dilakukan jika saya tangguh. Saya juga bermimpi mengorbankan hidup untuk orang lain. Jika saja saya mati setelahnya, setidaknya saya melakukan hal baik,” tulisnya.

Hawking lantas mengabdikan hidupnya di bidang fisika teoretis. Ia melahirkan gagasan baru, di antaranya tentang lubang hitam. Menurutnya, lubang hitam tidak menyerap semua informasi. Ada radiasi yang luput, yang kemudian disebut radiasi Hawking. Karya terakhirnya The Grand Design mengungkap pandangan tentang asal-usul alam semesta. Menurut Hawking, alam semesta dan kehidupan tercipta secara spontan, serta merta karena ada peluang untuk itu. Alam semesta tidak membutuhkan sang pencipta.

Pada simpulan terakhir tadi, saya, sih, tidak sependapat dengannya. Akan tetapi, saya mencoba memakluminya dari sudut pandang yang lain. Masih saya ingat bagaimana seseorang teman kuliahku menyatakan gambar dia dulu “Inilah gambaran manusia pintar yang mengingkari keberadaan Tuhan akan dihukum seperti ini.” Dalam hal ini saya tak berhak memvonisnya karena nyatanya dia tetap hidup hingga usia 76 tahun. Dan saya masih percaya yang Maha pengasih masih sayang kepadanya hingga dia diberi waktu sampai tanggal 14 Maret ini.

Bagi saya pribadi, saya lebih mengapresiasi manusia atheis yang berbelas kasih seperti dia daripada penganut agama fanatik sempit yang tak punya belas kasih. Saya hanya menggangap Stephen Hawking dalam hal itu sebagai pribadi yang terbatas untuk memahami Dia yang Tak terbatas. Sekalipun Atheis, dia bukan memaki-maki dan mengutuki kehidupan. Dia tetap berupaya memberikan kontribusi yang baik bagi manusia dan kehidupan itu sendiri.

Pada November 2016 lalu, Hawking juga berkenan menghadiri konferensi sains di Vatikan dan bertemu Paus Fransiskus. Bersama gereja, Hawking mengingatkan tentang ancaman perubahan iklim. Sebelumnya, ia juga pernah bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II. Ia tetap mengapreasiasi walaupun sang Paus mengatakan, “Boleh saja mempelajari alam semesta dan dari mana asalnya. Tetapi kita seharusnya tidak menanyakan tentang permulaan itu sendiri sebab itu adalah momen penciptaan dan kerja Tuhan.”

Pandanganya dalam bidang sosial ekonomi yang menarik bagi saya adalah ketika ia mengkritisi kebijakan Brexit, Donald Trump. Di mana menurutnya pengembangan kecerdasan buatan dan internet hanya untuk sekelompok orang. Mereka meraup keuntungan hanya dengan mempekerjakan sedikit orang. Hal itu kemajuan, tetapi juga merusak. Hal itu akan berdampak pada ketersediaan lapangan kerja, kesenjangan, dan migrasi besar-besaran ke kota.

“Melebihi waktu lain dalam sejarah, spesies kita perlu bekerja sama. Kita menghadapi tantangan lingkungan: perubahan iklim, produksi pangan, kelebihan populasi, kepunahan spesies, penyakit endemik, dan peningkatan keasaman laut,” katanya. “Masalah-masalah itu adalah pengingat bahwa kita berada pada masa paling berbahaya dalam kemanusiaan. Kita punya teknologi untuk menghancurkan planet kita, tetapi belum punya teknologi untuk lari darinya,” lanjutnya lagi.

Begitulah Stephen Hawking. Dia sehat setelah sakit. Dia hidup setelah mati. Maaf, saya tak akan mengatakan bahwa dia idiot setelah genius. Yang pasti, dalam pemikiran saya, setidaknya ada dua misteri yang tidak terpecahkan olehnya. Pertama, tesisnya mengenai tidak ada tempat untuk Tuhan. ALih-alih menolak keberadaan Tuhan, saya justru berpikir bahwa penolakan keberadaan atas Tuhan ini menjadi bentuk keputusasaannya terhadap kita yang meyakini adanya Tuhan (atau ketidakmampuannya mencari Tuhan?).Bisa jadi itu dilontarkan untuk mengkritisi kita yang beragama. Mungkin dia melihat agama banyak dipakai dan ditunggangi untuk merusak kemanusia dan kedamaian itu sendiri.

Misteri kedua yang tidak bisa dipahami oleh dia adalah wanita. Mengapa saya katakan demikian? Hal itu saya kutip dari wawancaranya dengan majalah sains New Scientist pada tahun 2012. Saat itu, Hawking pernah ditanya: “Apa yang paling sering Anda pikirkan dalam sehari?” Jawabannya mengejutkan. “Perempuan. Mereka benar-benar misteri,” ujarnya dalam wawancara pada tahun 2012 untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-70 seperti dilansir media Inggris, The Telegraph.

Stephen Hawking mengatakan, lima orang paling berkuasa di Inggris Raya adalah perempuan. Profesor dari University of Cambridge itu mengklaim, hal tersebut adalah dampak dari “pergeseran seismik” dalam kesetaraan gender. Lima perempuan paling berkuasa tersebut — Ratu Elizabeth II, PM Theresa May, pemimpin Skotlandia Nicola Sturgeon, Menteri Dalam Negeri Amber Rudd, dan kepala Kepolisian London (Met Police) Cressida Dick — adalah bukti bahwa zaman telah berubah. Iya wanita memang sulit untuk ditebak dan dipahami.

Akhirnya, aku menguap juga kawan, malam semakin larut kulihat jam sudah jam satu dini hari. Dan aku harus ke sekolah besok pagi mengajarkan fisika. Kali ini, aku begadang karena mengingat pertemuan pertamaku dengannya di Perpustakaan Universitas Negeri Medan. Selamat jalan ompung Stephen Hawking. Usai sudah peziarahanmu dibumi ini. Dari sudut pandangmu kamu tidak tahu kamu pergi kemana. Dari sudut pandangku aku meyakini kamu telah kembali kepadaNya. Kamu tanya alasan padaku mengapa aku masih berada dalam sudut pandang itu?

Alasanya bagiku adalah sehebat apa pun teknologi dan teori-teori, teori tetaplah teoris. Manusia tetap tidak akan bisa memilih untuk hidup di dunia paralel dengan apa yang kamu ceritakan padaku. Tak bisa juga aku melompat ke sana secepat cahaya hingga kita bisa memilih mati di tempat yang kita mau. Dan untuk dua hal tadi, menurut hemat saya, kita semua tidak bisa berbuat apa-apa. Perkara lahir dan mati hanya Dia yang tak terlihatlah yang Maha Melihat. Dia yang kita coba cari-cari atau bahkan tidak kita tahulah yang Maha Tahu. Semua formula dan  manuscrip berawal dan kembali padaNya.

Sudahlah kawan biarkan aku kembali melanjutkan tidurku. Semoga dalam mimpiku, kita berjumpa di lubang hitam, lalu saling berbagi di lubang yang cerah. Tentang manusia beragama tapi tak ber-Tuhan itu, yang suka memaki-maki dan mengklaim kebenaran selayaknya mereka adalah Tuhan dan menjadi Tuhan itu sendiri, biarlah itu urusan mereka. Asal kau tahu saja, untuk hal ini saya memaklumi pernyataanya tentang Tuhan tidak ada baginya. Untuk memahami kalimat ini: saya memaklumi pernyataanya tentang Tuhan tidak ada baginya, saya beri penjelasan sedikit. Sebelum kalimat ini, ada 5 kali kata Tuhan diulang. Tuhan tidak ada itu maksud saya adalah Tuhan pada kata yang kedua, terutama yang KETIGA! Semoga Anda paham!

Medan, 14 Maret 2018

Anda Pasti Tertarik Juga: Emo Ergo Sum

Anda Pasti Tertarik Juga: Rocky Gerung, “Pejuang Penolak Perceraian”

 

 

 

 

 

 

 

Info Penulis

Pendidik di SMA/SMP Budi Murni 3 Medan dan Konsultan pendidikan Fisika di Ganesha Operation Medan. Ketua Umum UK-KMK St Martinus UNIMED yang ke-21 (2011-2012)

Bagikan:


Komentar