Surat Untuk Mahasiwa Pendukung Dosen USU, Himma Dewiyana Lubis

oleh Riduan Situmorang pada 22 Mei 2018 (2098 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari http://beritaplatmerah.com

 

Salam Mahasiswa!

Selamat malam, wahai, pejuang mahasiswa USU. Saya harus berterima kasih kepada kalian karena kalian telah mengingatkan saya pada peristiwa reformasi tahun 1998 silam. Tak bisa dimungkiri, Era Reformasi adalah bentuk nyata perjuangan dari mahasiswa. Saya tak berlebihan. Ingatan itu begitu nyata ketika kalian mengadakan demonstrasi dengan tuntutan keras: Bebaskan Dosen Kami atau Kapolda Kami Copot (wow, tuntutan yang mahadahsyat dan penuh keberanian)

Saya harus mengatakan ini. Saya sangat menggigil (terharu mungkin) mendengar, terutama ketika demonstrasi kalian konon dilengkapi dengan latar belakang yang sangat mendukung: disertai hujan. Ibarat film-film perang, latar ini sangat mendukung. Bangganya lagi, meski diguyur hujan, semangat kalian (menurut berita yang saya baca) konon katanya justru semakin menjadi-jadi. Saya bangga. Saya terharu.

Hanya saja, kebanggaan dan keterharuan saya berhenti pada latar belakang alam itu saja. Selebihnya: Non sense! Maaf, saya harus jujur dan saya harus mengatakan ini. Saya jijik melihat aksi kalian. Oke, adalah hak kalian untuk mendukung pilihan Anda. Tapi ingat, hak saya juga untuk mengutarakan pendapat saya, bukan? Rumusnya sederhana: ketika Anda berhak, maka saya pun berhak. Soal saya jijik tadi, santai saja. Ketika saya jijik kepada kalian, hal yang sama juga berlaku: kalian berhak untuk jijik kepada saya, bukan?

Tetapi, rasa jijik ini bukan sembarang rasa jijik saja. Saya jelaskan mengapa saya jijik. Kita mulai dari ilustrasi sederhana. Misalkan ada tabrakan. Korban pun jatuh. Penabrak sempat lari, lalu, tertangkap. Sesaat kemudian, alih-alih berduka kepada korban, seseorang teman Anda justru mencari konspirasi aneh-aneh yang ujung-ujung mengabaikan korban. Keributan terjadi. Polisi pun menangkap sosok yang membuat konspirasi aneh-aneh itu. Dan, karena polisi menangkapnya, Anda pun berontak.

Aneh? Tunggu dulu! Sebab, adalah hak Anda untuk berontak. Barangkali, pembuat konspirasi itu adalah tetangga kalian, teman kalian, atau bahkan bagian dari komplotan kalian. Hanya saja, apakah wajar dan etis kalau kita malah mengabaikan korban dengan cara mengambinghitamkan seakan ada pelaku lain? Mikir! Mikir! Mikir! Tentu saja kalau bisa mikir. Kalau tak bisa, tak usah dipikirkan!

Baca Ulasan Lainnya: Buka-Bukaan Dengan Pendukung Teroris

Baiklah, karena kalian mahasiswa, mari kita ambil lajur berpikir yang lebih ilmiah. Pemicu masalah ini adalah bom berderet mulai dari gereja hingga kantor polisi. Korban berjatuhan. Pelaku pun tumbang. Melihat itu, seseorang lalu datang berteriak nyaring melalui dunia maya: Skenario Pengalihan Isu Sempurna #2019 Ganti Presiden. Cermati kalimat itu, mulai dari kata skenario hingga presiden.

Mari kita analissis teks ini. Sudah siap? Saudara-saduaraku mahasiswa, dalam menganalisis teks, kita tak bisa berhenti pada pengeritan literal, apalagi teks di atas. Sebab, teks di atas bukan lagi sembarang teks. Teks itu sudah menjadi simbol, terutama bagian ini: #2019 Ganti Presiden. Lebih jauh dari itu, teks ini bahkan sudah menjadi jualan politis sadis. Bukankah karena simbol ini pernah dipertentangkan lalu jatuh pada persekusi?

Karena itu, saudara-saduaraku mahasiswa, ada baiknya kita meminjam logika berpikir Ferdinand de Saussure. Menurut Saussure, mengartikan kata, kita harus masuk ke sarang kata itu sendiri. Saussure mengistilahkannya dengan langue. Sarangnya di mana? Barangkali banyak. Tapi, mari kita lacak dari tujuan dari tanda itu. Tujuan tanda itu adalah mengganti presiden, tepatnya mengganti Jokowi. Oleh siapa? Masih sembarang. Bisa Prabowo. Bisa juga tidak. Bisa Gerindra. Bisa juga tidak. Semoga Anda mengerti maksud saya.

Selanjutnya, mari kita analisis teks itu secara keseluruhan: Skenario Pengalihan Isu Sempurna #2019 Ganti Presiden. Dari kalimat ini, siapa pun tahu, yang mengalihkan isu sudah pasti adalah dari golongan kontra #2019 Ganti Presiden. Siapa itu? Masih sembarang juga. Namun, mari kita ambil jarak paling dekat dan paling berpengaruh. Siapa lagi kalau bukan Jokowi? Sebab, mengacu logika berpikir Rocky Gerung, Pemerintah lebih hebat mengeluarkan hoax karena punya berbagai peralatan mulai dari panggung hingga aktor, bahkan intelijen?

Artinya, Jokowi lebih berpengaruh. Mari, kita ambil lagi teks itu: Skenario Pengalihan Isu Sempurna #2019 Ganti Presiden. Sambil berpikir, baca kembali teks itu. Setelah Anda baca, siapa kira-kira yang dituduh mengalihkan isu? Luar biasa bukan? Alih-alih simpati pada korban, kalian malah simpati pada orang yang menyelamatkan pelaku. Korban tabrakan mati. Ketika pelakunya tertangkap, kalian malah mencari pelaku-pelaku lain. Jahat? Mari tak usah bicara jahat di sini. Kita bicara logika saja.

Maaf, saya tidak akan menyebut Anda sebagai pendukung teroris. Tidak dan tidak akan! Bukan itu maksud saya. Saya hanya memberikan saran supaya berpikir. Mari kita masuk ke ranah ilmiah lagi kalau masih berkenan. Begini teman-teman mahasiwa, menurut Odhen dan Richard dalam Meaning of Meaning, disebutkan bahwa bahasa itu sesuatu yang otonom.

Penjelasannya begini, bahasa (kata) tak pernah eksis jika tak berelasi membentuk segitiga makna dengan konsep (thought) dan referensi (reference). Referensi dari teks Skenario Pengalihan Isu Sempurna #2019 Ganti Presiden jangan-jangan dari bom berderet tersebut, atau, jangan-jangan pula dari Gerakan untuk Mengganti Presiden? Kalau dari bom? Aneh bukan? Kalau dari gerakan itu, agaknya aneh juga. Sudahlah, mungkin saya saja yang aneh.

Mari kita ambil lajur berpikir lain. Tetap, saya akan mengayunnya dari segi linguis karena saya seorang linguis, bukan politisi atau aktivis, seperti kalian barangkali. Mari kita rujuk Charles Sander Peirce (dalam T L Short, 2007). Peirce mengatakan bahasa  adalah tanda yang sangat kompleks yang dapat menjadi indeks.

Baca Ulasan Lainnya: Surat Terbuka Untuk Pendukung Teroris

Apakah itu sebagai tanda untuk qualisign (tanda dugaan), sinsign (proses perwujudan), atau malah legisign (sudah terwujud secara definitif). Qualisign adalah sebuah peristiwa yang dapat disederhanakan dengan ketika kita, misalnya, mendengar pintu ditutup dengan keras tanpa melihat siapa yang menutup. Sementara sinsign adalah ketika kita melihat seseorang dengan wajah ketus dan kesal muncul dari balik pintu yang dibanting tadi.

Lalu, setelah kita masuk, ternyata di dalam ruangan itu ada seorang wanita yang menangis tersedu-sedu karena diselingkuhi oleh suaminya, misalnya. Yaitu lelaki yang membanting pintu dan keluar tadi (legisign). Lalu, dalam peristiwa bom ini, adakah kita melihat Jokowi membawa bom? Kejauhan! Kita ambil dari lingkaran Jokowi saja. Adakah rekan partainya? Kejauhan juga. Adakah dari rekan relawannya? Kalau tidak ada, so, ini benaran alih isu? Mikir, mikir, mikir!

Baiklah, mungkin bacaan ini terlalu memojokkan atau terlalu monoton. Tapi, maksud saya bukan itu. Saya hanya teringat ketika hukuman OC Kaligis diperberat. Mengapa? Alasannya sangat sepele dan terkesan anak-anak: karena dengan posisinya sebagai pejuang hukum, OC Kaligis mestinya memberikan teladan. Karena tidak memberi teladan, hukuman pun diperberat. Dosen saya pikir demikian. Maaf, kalau saya salah.

Oh, iya, sebelum kuakhiri, sudah bagaimana kabar rekan kalian Immanuel Silaban yang di-DO-kan kemarin-kemarin itu? Apakah kalian mengadakan unjuk rasa lanjutan juga untuk dia? Apakah ada gerakan yang tak kalah berani, misalnya: Kembalikan Immanuel atau Rektor Kami Copot? Saya tahu, kasusnya berbeda. Berbeda sekali. Saya tidak bodoh-bodoh amat.

Tetapi, bukankah untuk kasus ini juga mestinya kita bisa menyikapinya dengan berbeda pula bahwa ini, misalnya, bukan sebatas kritik dari seorang dosen yang menyerukan kalimat-kalimat heroik: turunkan harga sembako, turunkan biaya pendidikan, tolak TKA! Ini soal bagaimana kita bersimpati kepada korban, bukan malah mencari-cari seakan-akan ada pelaku lain!

Maaf, kali ini, saya tak berada pada lingkaran kalian. Entah aku yang bodoh atau kalian, saya kurang paham. Yang pasti, barangkali memang, kalianlah yang pintar. Pasalnya, Fadly Zon mendukung kalian lewat Twitternya. Harusnya, dosen kalian itu diadukan dulu baru ditangkap, kurang lebih begitu pesannya. Saya sadar itu. Hanya saja, andai polisi melihat sebuah kejahatan, apakah polisi menyelesaikannya setelah ada yang mengadukan?

Jangan tanya saya: saya mendadak bodoh! Jangan-jangan saya yang tidak tahu kalau-kalau kasus ini adalah alih isu untuk mencopot Kapoldasu. Lho, kok saya jadi ikutan? Baiklah, zinkan saya tertawa, entah untuk apa, Wkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Baca Ulasan Lainnya: Teologi Kebencian

Baca Ulasan Lainnya: Agamamu Agama Impor, Agamaku Agama Warisan Penjajah

 

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar