Siapakah Tuhan?

oleh Riduan Situmorang pada 28 September 2017 (1089 kali dibaca)

micahhanks.com

 

Seorang teman (karena kami berasal dari suku yang sama), Sabar Nababan, tanpa sungkan pernah mengaku menjadi Tuhan. Sesungguhnya, mengaku menjadi Tuhan adalah tindakan gampangan. Mengklaim menjadi Tuhan pun hanya pekerjaan remeh. Siapa pun bisa mengklaim dan mengaku menjadi Tuhan. Saya sendiri pun bisa. Toh memang, Tuhan tak pernah menunjukkan wajahnya secara fisik pada manusia modern. Tuhan hanya misteri. Dia bertempat tinggal pada ruang dikotomis antara ada dan tak ada. Samar dan nanar sehingga pikiran sering buyar, bahkan kadang barbar.

Ya, Tuhan selalu banyak diperbincangkan. Di gereja-gereja, di pengajian-pengajian, di kuil-kuil, dan di mana saja, bahkan dibawa-bawa ke arena politik. Nyata sekali kemudian bahwa manusia memang makhluk yang genit. Genit sekali pokoknya. Tuhan yang Mahasuci digosipi di mana-mana tanpa merasa takut pada kesucian Tuhan. Pengeroyokan dilakukan atas nama Tuhan, pengafiran atas nama Tuhan, pembunuhan pun atas nama Tuhan. Kadang, saya malah berpikir (juga dengan tak kalah genitnya), Tuhan itu makhluk apa, sih: makhluk suci atau panglima perang yang haus darah?

Ah, sudahlah, Tuhan itu sebenarnya hanya bahan lawakan. Meminta penghiburan, maka kita datang pada Tuhan. Mengakhiri kesumpekan, maka seseorang mengaku menjadi Tuhan. Kita lalu tertawa. Tetapi, tertawa kadang menjadi puncak dari kejengkelan. Itu persis seperti ungkapan bahwa komedi adalah puncak dari tragedi. Maksudnya, kita seringkali menertawakan penderitaan orang lain. Ketika seorang pemimpin besar, misalnya, berpidato secara berapi-api, lalu gigi palsunya terlepas, kita langsung tertawa. Bukankah ini sebuah tragedi (pada sosok yang berpidato) yang kita hayati dengan tertawa?

Lawakan

Lawakan-lawakan seperti itulah yang kerap terjadi pada kita. Kepada seorang teman, saya pernah melawak, “Ternyata Tuhan itu lahir di Banyuwangi pada 30 Juni 1973.” Dia memandang heran, “Kok bisa?” Dia tak tahu betapa lembaga negara dan lembaga agama  pernah sibuk beradu panggung dan beradu mulut di media hanya karena Tuhan kewargaan Dusun Krajan (aduh, lawakan ini lucu sekali!) Mereka tiba-tiba mengutuk seorang manusia dengan dalih tak seharusnya seseorang memberi nama sebagai Tuhan. Saya bergidik lalu menoleh pada titah William Shakespeare: apalah arti sebuah nama?

Bukankah mawar akan tetap berduri meski kita menyebutnya sebagai melati? Nyatanya, William Shakesepeare agak keliru dan itu saya sadari belakangan. Beliau tak tahu bahwa nama adalah sabda. Sebagai misal, nama proklamator kita sebelumnya bukanlah Soekarno, melainkan Kusnososro. Tetapi, Kusnososro sakit-sakitan. Maka, namanya diganti menjadi Sukarno. Nama itu manjur dan mujur. Tak bisa ditebak, andai nama Sukarno tak ditukar, apakah mungkin dia tetap menjadi seorang proklamator karena “mawar akan tetap berduri meski kita menyebutnya melati”?

 

Baca Esai Lainnya: SNSD dan Perdebatan-Perdebatan Kering Itu

 

Yang pasti, jika namanya tak diganti, kita tak akan pernah memiliki Bandara Soekarno-Hatta yang disingkat Bandara Soehatta. Boleh jadi, bandara itu akan disingkat menjadi Bandara Kusta, seperti kata Putu Setia! Begitulah nama: dia berupa doa sekaligus mantra. Tetapi, nama tak sekadar doa dan mantra. Kadang, nama juga menjadi bentuk kejengkelan yang bertumpuk. Mungkin kita masih ingat kisah Saiton. Saiton ini populer bersamaan dengan Tuhan kewargaan Dusun Krajan di atas. Nama Saiton sama sekali bukan doa.

Menurut penuturan si Saiton, orang tuanya seharusnya punya anak 13 orang. Tetapi, semua kakaknya meninggal pada usia 5-7 tahun. Hanya tersisa dua orang lagi. Maka, orang tuanya geram dan gelisah sehingga ketika anaknya lahir lagi, diberilah namanya Saiton karena di pikirannya, anak itu bakal tak bertahan hidup. Ajaibnya, Saiton tidak sekadar bertahan hidup, dia kini bahkan sudah S-2. Pertanyaan isengnya adalah: apakah Saiton akan tetap hidup andai dia diberi nama lain, seperti nama-nama kudus di kitab-kitab agama?

Kita tak tahu. Itu hak prerogatif Tuhan. Tentu saja bukan Tuhan kewargaan Dusun Krajan, apalagi Sabar Nababan. Yang pasti, karena hampir setiap harinya di-bully, kedua orangtuanya pernah mencoba mengganti nama Saiton. Iskandar pun disiapkan sebagai gantinya. Begitu ritual dipersiapkan, Saiton tiba-tiba sakit parah. Atas saran orang pintar, namanya harus dikembalikan dan simsalabim, Saiton kembali bugar. Usaha pergantian nama tak berhenti di situ. Ketika Saiton sudah kuliah, atas saran dan dorongan teman-temannya di kampus, Saiton juga pernah memberanikan diri menukar nama untuk kedua kalinya.

Disediakanlah nama yang mulia: Muhammad Ibrahim. Kurang hebat apa lagi nama itu. Tetapi, lagi-lagi, penyakit keras menimpanya. Saiotn gagal berganti nama. Suka tak suka, nama itu harus tetap melekat. Di sinilah kita patut bertanya, terserah itu iseng atau serius: apakah nama Saiton merupakan kutuk atau doa? Mungkin, pada sisi inilah Shakesperare benar bahwa nama tak mendefinisikan dirinya. Saiton tak menjadi setan, Tuhan tak menjadi zat adikodrati, serta Sabar Nababan nyatanya tak bersabar diri.

Bukankah fakta bahwa nama-nama kudus belakangan malah berbuat laknat? Lembaga negara yang diberi nama Dewan Perwakilan Rakyat, misalnya, malah lebih sering berfungsi sebagai tempat persekongkolan para mafia, bukan rakyat? Oh, ternyata saya keliru dan Shakespearelah yang benar. Tetapi, lain Shakesperare, lain pula Annemarie Schimmel. Konon, pada sepotong pagi, Schimmel terkejut ketika membaca judul berita koran Pakistan Times dengan tajuk tewasnya Nashrum min-Allah, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi: “Pertolongan Allah Tewas Kecelakaan di Jalan.”

Schimmel nyeletuk, kok bisa-bisanya pertolongan dari Yang Kuasa tewas secara mengenaskan! Schimmel adalah periset nama-nama yang telah menuliskan Islamic Names: An Introduction-Islamic Surveys. Yang saya pikirkan, andai Annemarie Schimmel di negeri ini, betapa kasihan dia karena harus terkejut berkali-kali melihat nama-nama lembaga kita membohongi keadaan. Dia akan semakin terkejut mendengar seorang manusia yang mengklaim diri sebagai Tuhan. Terkejutnya adalah karena Tuhan itu dipahami sebagai sosok tanpa ketakutan, bahkan terhadap maut sekalipun.

Bukan Mulutmu!

Tetapi, nyatanya, Sabar Nababan yang mendaku sebagai Tuhan malah ketakutan pada universitasnya kalau-kalau dia akan dipecat karena sudah mengaku sebagai Tuhan. Masakan Tuhan takut pada rektor? Emangnya Tuhan akan diwisudakan, di-DO, atau dipekerjakan oleh rektor? Karena itulah, maka saya akan menanyakan ini dengan tak kalah genit: siapakah Tuhan itu? Apakah Tuhan adalah panglima perang yang bengis? Apakah Tuhan adalah seorang yang gila hormat? Apakah Tuhan itu kekal? Apakah Tuhan itu baik?

 

Baca Esai Lainnya: Generasi Sofa Kentang

 

Maaf, saya tak akan menjawab Tuhan itu sesuai iman. Saya takut, seseorang akan menyebut saya sebagai orang yang sok tahu. Padahal, iman bukan untuk diketahui. Walau begitu, di negeri ini, iman adalah pengetahuan, tepatnya pengetahuanmu, bukan pengetahuanku. Kalau kita tak sepengetahuan, maka Tuhanmu menjadi kafir. Jadi, lebih baik saya bilang bahwa Tuhan itu adalah sosok yang melebihi kecepatan cahaya, tiba-tiba sudah di Betlehem, tiba-tiba di Roma, tiba-tiba juga sudah di Arab. Konon, jika kecepatan kita mendekati kecepatan cahaya, maka umur kita semakin panjang.

Bisa dibayangkan, bahwa kita akan abadi kalau kecepatan kita bisa menyamai kecepatan cahaya. Kalau mau tahu lebih dalam, ulaslah dilatasi waktu atau tonton film Instellar. Atau, baca lagi ulasan esais Basabasi ini: Nurr “Mematematikakan Realitas Waktu” (Basabasi.co, 6/10/2016) berikut Maya Lestari Gf: “Perihal Waktu: Mekanisme Reaksi yang Membentuk Realitas” (Basabasi.co, 20/10/2016). Kedua esai ini dibuat dengan pendekatan filsafat-saintifik. Kedua esai ini memberi tahu kita bahwa Tuhan itu seumpama cahaya.

Jadi, menurut saya, Tuhan itu adalah cahaya. Tuhan itu adalah terang, begitu  literatur Perjanjian Baru, Yohannes (8: 12) bertutur. Jadi, jangan mengaku ber-Tuhan kalau kita masih hidup di kegelapan: masih suka mencerca, menghakimi, mengklaim, bahkan menyombongkan diri. Jangan pula mengaku sebagai Tuhan kalau hidupmu masih penuh dengan kegelapan dan ketakutan. Bagaimana kau menjadi Tuhan kalau kau masih takut pada rektor? Bagaimana pula kau mengaku ber-Tuhan kalau berjalan dengan menutup mata pada sesama? Tuhan itu cahaya, karena itu, bukalah mata dan hatimu, bukan mulut cerewetmu!

 

Baca Esai Lainnya: Senjata dan Puisi Yang Tergusur

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar