Seorang Tua: Sinar Bangun, dari Ikan Mas hingga Marakrak So Magulang

oleh Riduan Situmorang pada 25 Juni 2018 (3145 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Tribunnews.com

 

Hari Minggu kemarin (25/06/’18), saya pulang dari Balige ke Medan. Di perjalanan pulang itu, tenggelamnya Sinar Bangun menjadi topik utama. Semua memberikan pendapatnya masing-masing. Ada yang menyalahkan penumpang. Ada yang mengolok-olok pemerintah. Ada yang memaki-maki awak kapal Sinar Bangun. Ada yang menyesalkan ulah penumpang dan awak kapal fery. Namun, yang menarik perhatian saya adalah tentang keterkaitan mistis ikan mas yang ditemukan di Paropo terhadap tragedi yang menjadi berita viral itu.

“Dulu, waktu saya meneliti Sarune Bolon di Porsea ini, saya melihat ikan mas yang sangat besar di sungai ini (Asahan). Ikannya bahkan sebesar orang dewasa,” ujar Ocatvianus Matondang saat kami melintasi jembatan di Sungai Asahan, Porsea. “Saya heran. Tak satu pun warga yang mencegat atau menangkapnya saat itu,” lanjut Octa lagi. “Na lewat do i, begitu kata warga dengan santainya saat itu,” lanjut Octa menirukan warga setempat.

Tiba di Siantar, saya lanjut naik bus Sejahtera. Busnya penuh sesak. Semula, saya ogah untuk naik. “Sudah hampir satu jam lebih kami menunggu, tak ada bus, Bang,” kata seorang wanita berperawakan manis. Takut tak ada bus, saya pun naik. Di bus, penumpang disusun ibarat ikan rebus. Semua berdesakan. Ada yang berdiri sambil pegangan. Ada yang duduk melantai. Saya sendiri duduk di anjungan dimana supir serap biasanya istirahat.

Di anjungan ini, saya duduk dengan seorang pria paruh baya dan seorang wanita cantik di sebelah kiri saya. Sementara di sebelah kanan saya, ada seorang nenek-nenek tua. Bus mulai melaju perlahan. Hiruk pikuk penumpang tak terhindarkan dicampur kepulan asap dari para penumpang lelaki. Suara gitar dari seorang pengamen mulai menghibur. Tetapi, tak seorang pun mendengarnya. Semua sibuk dengan diri sendiri barang hingga 10-15 menit. Setelah itu, setiap penumpang mulai bertukar kata.

“Andai nelayan di Paropo itu tidak memasak dan memakan ikan mas itu, tragedi ini pasti tak terjadi,” kata nenek tua di sebelah saya itu. “Ini pasti karena penghuni danau sedang marah,” lanjutnya lagi. Saya masih belum bicara. Saya masih asyik mendengar bagaimana para penumpang saling memberikan pendapatnya. Sementara itu, kernet bus Sejahtera ini masih sibuk mencari penumpang dari pinggir jalan. Ternyata, mobil yang penuh sesak ini masih mau diisinya lagi dengan penumpang-penumpang di pinggir jalan.

“Sudah sesak, Bang,” protesku. “Banyak nanti yang turun di Tebing dan Kampung Pon, Lae” jawabnya. Ternyata, setelah sampai ke Tebing dan Kampung Pon, penumpang yang turun hanya 3-5 orang. Mereka turun tetap saja sesak. Ironisnya, ketika penumpang itu turun, penumpang lain masih masuk juga. Hawa semakin panas. Tetapi, kernet tak peduli. Dia masih sibuk mencari penumpang lainnya. Tiba-tiba saya berpikir, jangan-jangan, beginilah awak Kapal Sinar Bangun itu. Penumpang sudah berdesakan, tetapi tetap saja masih ditimbun, bahkan ditambah lagi dengan jubelan kendaraan roda dua.

“Untung di bus ini tidak ada wisatawan mancanegara,” kataku dalam hati. Sebab, andai mereka datang, betapa terkejutnya mereka ketika bus jurusan Parapat-Medan ini membawa penumpang sampai berdesak-desakan. Barangkali mereka akan memaki setengah mengutuk, “What the hell. Danau Monaco of Asia?”

“Itu bukan karena ikan mas dari Paropo, Oppung. Tak ada kaitannya,” sanggahku karena sudah mulai tidak betah dengan mitologi itu. Saya tidak percaya mistis. Sama sekali tidak. “Kau ini manusia kapan? Umurmu berapa? Sudah banyak pengalamanmu?” begitu Oppung itu protes. Saya tak mau kalah. Saya harus mencerdaskan, apalagi di bus ini banyak anak muda, pikirku. “Coba Pung, andai ini karena ikan mas yang dimakan di Paropo itu. Apa masuk akal orang lain yang melakukan kesalahan, masa kita yang dapat bala? Harusnya, kalau ini karena ikan mas itu, siapa yang memakan, itulah yang kena bala,” jawabku pada Oppung itu.

“Begini, Nak,” dia mulai menerangkan, “pernah dengan istilah “sada do mangallang pinasa, sude margota-gota?” Saya mengangguk. “Tahu artinya?” saya juga mengangguk. “Begitulah, hanya karena kesalahan orang lain, kita bisa dapat bala,” jelas Oppung itu. Diam-diam, saya kagum pada oppung yang lusuh ini. Wajahnya sepele, tetapi logiknya masih main. “Orang yang menebangi kayu, tetapi rumah kita yang kena longsoran batu,” lanjutnya lagi. Saya semakin kagum pada logikanya. Tetapi, saya tetap tak percaya ini ada kaitannya.

“Inilah yang namanya marakrak so magulang. Kita terluka, padahal tak terjatuh,” lanjutnya lagi. “Oppung,” aku mulai menimpali, “banyak ikan mas di Danau Toba. Besarnya seukuran manusia pun ada. Masakan ini semua ikan mistis?” tanyaku. “Banyak. Banyak. Seukuran kau pun ada,” katanya mulai jengkel. “Tetapi, apa pernah ikan sebesar itu datang ke pantai atau ke tepian? Kalau datang, apa pernah ditangkap dengan pancing oleh warga?” dia tetap menyerangku. Aku terpojok.

“Nak, jangan kau gunakan pikiranmu saja. Kadang, kau harus menggunakan hatimu,” lanjutnya lagi. “Jadi, oppung percaya ini karena penghuni danau marah?” tanyaku. “Tentu saja,” jawabnya tegas. Dia mulai bercerita, danau ini dulunya indah. Danau ini dulunya bersih. Airnnya bisa langsung diminum. Namun, cerita itu tinggal cerita. Danau itu tak lagi ramah. Danau itu sudah sering marah. Airnya sudah keruh. Bahkan, menurut Hasban Ritonga, Sekda Provinsi Sumut, air Danau Toba sudah tak layak mandi lagi.

Setali tiga uang, menurut guru spiritual ketika melakukan ritual sambil margondang, penghuni danaau katanya hanya mengatakan, “kotor”. Maaf, saya tak percaya mistis. Tetapi, saya membuka diri pada kebenaran lain. Bahwa mistis adalah salah satu cara manusia untuk mengelak dari ketidaktahuan. Sebaliknya, bahwa sains adalah salah satu kesombongan manusia bahwa dia sudah tahu segala hal. Padahal, siapa pun tahu, lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Lebih banyak yang tidak kita lihat dari yang kita lihat.

Bus Sejahtera masih melaju di atas jalan tol bikinan Jokowi. Pelan-pelan, kudengar kernet itu berkata kepada penumpang, “Pilihlah Djarot agar tol ini sampai ke Parapat agar Parapat ke Medan semakin cepat.” Saya tidak peduli, siapa Djarot, siapa Edy. Hanya saja, di saat bersamaan, beredar video arogan dari Edy yang membentak warga Ramunia. Oh, sungguh saya tak tahan dibentak seperti itu seakan saya adalah maling besar.  Siapa Edya sehingga ia berhak mencengkeram kerah baju warga?

Bus semakin melaju. Diam-diam, aku kagum pada nenek di sebelahku ini. Dia memberi banyak pelajaran hari ini. Terima kasih oppung karena kau sudah bisa membongkar isi hatiku tanpa mengurangi isi pikiranku!

Baca Ulasan Lainnya: Sejarah Beberapa Kecelakaan di Danau Toba, dari Mistis hingga Human Eror

Baca Ulasan Lainnya: Andai Aku Penumpang atau Awak Kapal Fery

Baca Ulasan Lainnya: Saking Geramnya, Warga Sambut Hercules sebagai Kapal Penjemput Mayat

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar