Semuanya Karena Keluarga

oleh Riduan Situmorang pada 14 Agustus 2018 (295 kali dibaca)

Riduan Situmorang, Pendidik di Medan

Max Regus mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tiba-tiba muncul dari ruang kosong. Semuanya selalu berawal dari keluarga. Dan, tidak ada manusia yang terlahir seragam, bahkan dalam kondisi kembar siam sekalipun. Itu artinya, Allah berjumpa dengan manusia yang tidak seragam dan manusia berjumpa dengan Allah dalam ketidakseragaman. Persis seperti diungkapan John James Osborne dalam sebuah puisinya, we all are flowers in God’s Garden. Kita adalah bunga di Taman Tuhan. Kita tahu, taman hanya akan indah jika ditumbuhi oleh beragam bunga. Tak ada yang lebih baik, tak ada yang lebih indah karena semua baik dan indah.

Keberhasilan sebuah taman negara sudah pasti bermula dari keberhasilan keluarga. Dalam cakupan lebih kecil, keberhasilan pendidikan selalu berawal dari keluarga. Bukan semata karena keluarga adalah pendidikan awal, tetapi karena setiap orang selalu berakhir pada keluarga. Kita punya perumpamaan mumpuni tentang itu: di balik suami hebat, ada istri yang jauh lebih hebat. Jabarannya lagi, di balik anak berprestasi, ada orangtua yang jauh lebih berprestasi. Artinya, untuk menciptakan individu-individu dan masayarakat hebat, maka tak ada pilihan selain membuat keluarga menjadi tempat yang hebat.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Orang Tua Pendidik Utama Anak

Masalahnya, sejauh ini, bagi kita keluarga cenderung hanya tuntutan catatan sipil. Berkeluarga pun disempitkan hanya untuk bereproduksi. Ini terlihat dari tingginya kekerasan, bahkan perceraian dalam sebuah keluarga. Menurut Puslitbang Kementerian Agama pada 2010-2014, dari sekitar dua juta pasangan yang menikah, 15% di antaranya bercerai. Belum lagi keluarga yang tak bercerai, namun selalu tak luput dari kekerasan. Di sinilah nyata bahwa berkeluarga hanya arus ikut-ikutan tanpa ada rasa tanggung jawab. Padahal, berkeluarga adalah bertanggung jawab. Berkeluarga bukan semata bagaimana menyatu, tetapi bagaimana berbeda dengan satu kata kunci: tetap harmonis.

Mengedukasi Rakyat

Berkeluarga pun bukan bagaimana memperoleh keturunan, tetapi lebih pada bagaimana mengarahkan keturunan itu untuk menerima keberagaman hidup. Seorang ayah bisa jadi adalah dokter, tetapi anak tak harus menjadi dokter. Seorang kakak mungkin ingin menjadi tentara, tetapi adik tak harus menjadi tentara. Keluarga adalah bukti awal dari perbedaan, beda keinginan dan cita-cita, tetapi tetap harmonis. Namun, jika keluarga bopeng, persamaan bisa menjadi perebutan. Sama-sama ingin jadi tentara, lalu bersaing hingga saling mendendami.

Lebih parah lagi jika sebuah keluarga berujung pada perceraian. Tidak hanya mendendam, psikologi anak pasti terganggu. Besar kemungkinan mereka menjadi orang-orang gagal. Tak hanya gagal, tetapi malah mengganggu agar orang lain pun ikut gagal. Mudah sekali membayangkan bagaimana jika setiap keluarga pada akhirnya bopeng, bahkan berujung pada perceraian, maka negara ini pun akan kacau. Demikian sebaliknya. Menyenangkan sekali mengimajinasikan bagaimana setiap keluarga harmonis. Pasti, tetangga menjadi teman. Semua orang menjadi tandem. Negara pasti maju. Nah, bagaimana membuat ini terjadi?

Pertama-tama yang bisa kita lakukan adalah mengedukasi, terutama keluarga muda. Namun, langkah terbaik sebenarnya adalah mempersiapkan rakyat untuk berkeluarga. Inilah yang belum kita lakukan. Sejauh ini, melalui mata pelajaran, kita hanya mengubah paradigma bahwa membicarakan, terutama mempelajari seks bukanlah hal tabu. Sejujurnya, ini adalah hal baik agar anak paham, lebih-lebih agar tak menjadi korban kekerasan seksual. Hanya saja, jika melulu mengubah paradigma seperti itu, kita sebenarnya masih berada pada tingkat mempersiapkan seorang anak untuk bereproduksi.

Padahal, berkeluarga bukan semata bagaimana berketurunan. Berkeluarga adalah bagaimana bertanggung jawab untuk mendidik. Karena itu, menjadi sangat mendesak agar ada materi khusus bagi orang muda. Bentuknya bisa berupa mata kuliah perkawinan/mata pelajaran membina rumah tangga. Sasarannya adalah agar orang muda paham bahwa berkeluarga adalah bertanggung jawab. Bahwa berkeluarga tidak cukup bagaimana ayah mencari nafkah, ibu hanya tukang masak, dan anak hanya hasil perkawinan. Jika mata kuliah/mata pelajaran dibuat seperti ini, ayah kelak tidak lagi hanya mencari nafkah, ibu tak hanya memasak, anak tak hanya hasil perkawinan. Ini akan bermuara pada lahirnya keluarga ceria dan anak-anak cerdas. Itu langkah pertama (pranikah).

Baca Juga Ulasan Lainnya: Menjadi Ibu Zaman Sekarang

Langkah selanjutnya adalah pasca menikah. Di sini dilakukanlah parenting education. Selekas itu, selain pada calon dan orangtua, pendidikan yang sama juga harus menyasar pada anak. Ini semakin dibutuhkan karena belakangan ini, teknologi semakin gencar. Kita tahu, sisi lain dari teknologi adalah kemampuannya memperkecil ruang untuk keluarga. Tak usah jauh-jauh, sebuah keluarga sering nongkrong ke warung kopi, tetapi justru tak saling menyapa. Mulai dari berangkat hingga pulang, kita hanya asyik dan sibuk sendiri dengan gadget. Sampai di rumah, kita bahkan tak juga menyapa secara verbal.

Setara dengan Merawat Negara

Kita sibuk dengan gadget masing-masing hingga tak peduli lagi kanan-kiri. Keluarga menjadi ruang hening: tak ada komunikasi, apalagi diskusi. Kedekatan emosional tersisih. Anehnya, kita menyapa orang yang jauh, namun lupa menyapa keluarga yang secara ragawi bersama kita. Kita tersenyum dengan sobat di dunia maya melalui lambang emoticon, tetapi lupa tersenyum dengan tubuh kepada keluarga. Kita mendangkalkan teori Emmanuel Levinas (1906-1995) bahwa syarat utama pertemuan adalah wajah. Sebab, meski kita bertatapan, nyatanya kita tak saling bertukar cakap. Keluarga senyap.

Melalui keluarga senyap seperti ini lahirlah kemudian anak “psikopat” yang gagap bermasyakarat. Gagap berinteraksi. Untunglah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat baru-baru ini telah “mewajibkan” agar orangtua belajar dengan sistem pendidikan Keayahbundaan. Ini seakan menyahuti apa yang dikatakan Paus Fransiskus bahwa dua kata kunci untuk merawat peradaban adalah adanya komunikasi dan keluarga. Keluarga diambil karena di level inilah komunikasi mulai bertumbuh. Inilah level yang paling pertama yang selalu memiliki sisi emosional.

Kita tahu, jika sisi emosi sudah tumbuh, sangat gampang mengarahkan anak. Ini senada dengan apa yang diteliti Arlie Hochschild (2002) dalam bukunya Keine Zeit bahwa yang terutama dalam mendidik anak adalah adanya waktu keluarga. Saya kira, selain pada calon dan orangtua, pemerintah bisa memaksimalkan hal ini melalui anak dengan cara membuat mata pelajaran komunikasi keluarga. Teknisnya, guru harus memberikan PR. Dan, PR itu harus dikerjakan siswa melalui curhat dengan keluarga.

Saya yakin, kalau ada PR seperti ini, komunikasi di antara setiap anggota keluarga akan semakin berdenyut karena ayah-ibu-saudara pasti menyediakan waktu untuk berkomunikasi dan bertukar cakap. Mereka tak lagi diperbudak atau disitir gadget. Dan, kalau sudah begini, selain berprestasi di sekolah, anak pasti akan berprestasi di kehidupan. Maka, sangat logis kalau disebut bahwa keluarga berperan dalam kesuksesan anak. Bahkan, sangat tak berlebihan jika kita menyebut merawat keluarga setara dengan merawat negara. Intinya, jika ingin anak sukses, langkah pertama adalah sering-seringlah berkomunikasi dan berdiskusi karena bagaimanapun, keluarga adalah awal dan akhir dari kehidupan manusia. #Sahabatkeluarga

Baca Juga Ulasan Lainnya: Mari Segera Memeratakan Pendidikan

Baca Juga Ulasan Lainnya: Meragukan Pukat SBMPTN

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar