Sayap-Sayap Patah Cerpen By Dody Wardy Manalu

oleh Dody Wardy Manalu pada 3 Juni 2018 (603 kali dibaca)

Ilustrasi dari http://puisikhalilgibran.blogspot.com

 

Anak mana tidak sakit hati bila ayahnya melupakan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga? Ayahku menikah lagi. Ia lebih memilih uang daripada mempertahankan keutuhan keluarga. Lantas, apakah aku harus menangis sepanjang hari meratapi kepergian ayahku? Tidak. Aku harus bangkit. Sebagai anak sulung, sudah kewajiban membantu ibu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pagi-pagi sekali, seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, aku mengantar kue ke warung-warung. Pagi ini, aku bernapas lega. Gerbang masih terbuka. Itu artinya, aku bebas dari hukuman menghormat bendera karena terlambat. Satu minggu belakangan ini, seorang cowok jangkung berkaca mata selalu berdiri di bawah pohon akasia tidak jauh dari gerbang sekolah. Ia siswa baru yang sedang dibicarakan anak-anak.

Manusia batu! Demikian gelar itu disematkan padanya, lantaran tahan tidak bicara hingga kegiatan sekolah berakhir. Jam istirahat, ia habiskan waktu di belakang gedung perpustakaan membaca buku-buku pelajaran.

***

Siswa tidak diperbolehkan pakai sepatu masuk ke dalam ruang komputer. Pihak sekolah telah menyediakan rak yang diletakkan di samping pintu ruangan. Kami baru saja selesai praktek mata pelajaran TIK. Aku mencari sepatuku di rak. Namun tidak aku temukan. Kuangkat satu-persatu sepatu yang berjejer. Barangkali sepatuku ditimpa sepatu lain. Tetap tidak ketemu.

“Cari sepatu bututmu, ya? Mungkin sudah dilarikan anjing saking baunya.” ujar Rena disertai tawa bernada mengejek. Siapa tidak kenal Rena, cewek angkuh yang suka pamer kekayaan orang tuanya. Ia tidak segan memberi perhitungan pada siswa yang berani melawan. Aku membisu. Melawan Rena berarti merelakan ibuku dipanggil ke sekolah gara-gara berkelahi.

“Sepatu bututmu tidak pantas lagi dipakai ke sekolah. Bisa menyebarkan virus.”

Rena pergi sembari meliukkan jari telunjuk di udara. Seketika langkahnya terhenti. Seorang cowok jangkung berkaca mata menghadang. Tanpa diduga, tubuh Rena didorong hingga terjatuh ke dalam parit. Cowok jangkung berkaca mata itu menatap Rena tengah meringis kesakitan. Beberapa detik kemudian, ia pergi seakan tidak terjadi apa-apa. Cowok jangkung berkaca mata itu sungguh misterius. Ialah cowok aneh yang tiap pagi berdiri di bawah pohon akasia.

Pulang sekolah, aku perpapasan dengan cowok misterius itu di pintu gerbang. Senang bisa melihat wajahnya dari jarak dekat. Lumayan keren walau terkesan angkuh. Kejadian berpapasan di pintu gerbang itu bagai adegan film bisu. Kami tak saling sapa. Begitu ia menjauh, mataku tertuju pada kakinya. Ia tidak pakai sepatu sama sepertiku. Pasti sepatunya disembunyikan Rena juga. Makanya, ia marah dan mendorong cewek angkuh itu ke dalam parit.

Aku selalu mengerjakan tugas sekolah setelah makan siang, karena mulai sore hingga malam, harus membantu ibu menjual gorengan di alun-alun. Ketika membuka tas sekolah, alangkah terkejutnya menemukan sepasang sepatu ada di dalam. Sepatu ini bukan milikku. Ini milik siapa?

***

Aku berangkat sekolah dengan hati bimbang. Terpaksa memakai sepatu yang aku temukan dalam tas karena tidak ada pilihan lain. Sepatu itu sedikit kebesaran. Terserah, bila nanti ada siswa menuduhku pencuri sepatu. Tinggal membuka dan memberikan sepatu itu pada pemiliknya. Beres, bukan? Begitu tiba di gerbang, kejadian serupa terulang kembali. Cowok jangkung berkaca mata itu berdiri di bawah pohon akasia. Ia beranjak pergi begitu melihatku. Jadi penasaran apa tujuannya selalu berdiri di sana.

“Hei, cowok aneh! Tunggu….” teriakku sembari berlari mengejar. Cowok jangkung itu berhenti. Ia menatapku cukup lama.

“Mengapa berdiri di bawah pohon akasia setiap pagi. Dan selalu pergi setiap aku muncul.”

Cowok jangkung itu diam. Bibirnya terkatup rapat bagai dikunci ribuan gembok. Jadi emosi karena tidak menjawab pertanyaanku. Andai aku Mak Lampir, sudah menyihirnya menjadi kodok.

“Tidak bisa ngomong, ya? Dasar manusia batu.”

Kata-kata itu keluar juga dari bibirku. Padahal sudah menahan diri untuk tidak ikut memanggilnya dengan sebutan aneh itu. Aku cabut dari hadapannya. Tak disangka, cowok itu menyambar pergelangan tanganku. Ia menyeretku ke belakang gedung perpustakaan. Tanganku baru dilepas setelah tiba di sebuah kursi di bawah pohon mangga menghadap taman. Kursi itu tempatnya biasa duduk bila jam istirahat.

“Aku tidak suka melihat cewek lemah yang tak berani melawan kalau ditindas.”

Ada kemarahan pada sorot mata cowok jangkung itu. Ini pertama kali mendengar suaranya.

“Nasib tidak adil terhadapku. Bukan tidak bisa melawan. Tapi orang kecil sepertiku akan selalu salah.”

“Nasib juga mempermainkan hidupku. Tapi aku selalu berusaha tegar.”

Suara cowok jangkung itu sedikit melunak. Makin penasaran padanya.

“Sebenarnya kamu siapa. Mengapa tiba-tiba peduli dengan hidupku.”

Mendadak wajahnya muram. Sorot mata yang tadi penuh amarah, kini berganti memancarkan segumpal kesedihan. Perlahan bibirnya bergerak.

“Masalah kita sama. Kamu seperti ini karena ayahmu menikah lagi, bukan? Ibuku juga menikah lagi. Aku dan ayah pindah ke kota ini tinggal bersama nenek. Kamu tahu dengan siapa ayahmu menikah? Dengan ibuku sendiri. Awalnya ingin membalas semua perbuatan ayahmu. Tapi aku tidak tega menyakitimu.”

Cowok jangkung itu tersungkur di tanah. Tangisnya pecah. Dirinya tidak setegar yang ia katakan. Ia rapuh. Butuh teman untuk berbagi. Aku menjadi iba. Kuraih tangan cowok itu dan menggenggamnya erat. Nasib serupa telah mempersatukan kami.

“Maaf, ayahku telah membuat keluargamu berantakan.”

“Tidak usah minta maaf. Ayahmu dan ibuku sama-sama bersalah. Mereka telah membuat kita seperti ini.”

Meski ayahku dan ibunya membuat kami menderita, bukan berarti kami harus bermusuhan. Alangkah lebih baik, bila kami saling membantu mengobati luka batin. Aku menawarkan persahabatan. Cowok itu kembali menatapku. Tiba-tiba ia menarik tubuhku dalam dekapannya.

“Namaku Jhon Kevin. Mulai sekarang, panggil aku kakak. Aku akan melindungimu. Aku tidak mau kamu ditindas terus-terusan sama Rena, cewek angkuh itu. ”

Seakan tidak percaya mendengar perkataannya. Tuhan telah mengirim malaikat pelindung untukku. Sayap-sayap yang dulu patah, kini tergantikan dengan kehadiran Jhon.

“Aku senang punya kakak. Tapi besok, jangan lagi berdiri di bawah pohon akasia kayak orang gila. Selain pohon akasia dan kursi taman, masih banyak tempat seru di sekolah ini belum kakak datangi. Kakak harus bersosialisasi dengan anak-anak lain.”

Jhon tertawa lepas sembari mengangguk. Kesan angkuh telah hilang dari wajahnya.

“Baru lihat, kalau sepatumu bagus. Beli di mana.”

Jhon menatap kakiku cukup lama.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Sepatu ini milik kakak, bukan? Kemarin kakak pulang tidak pakai sepatu. Dan aku menemukan ini dalam tasku.”

Jhon tetap tidak mengaku. Tapi aku yakin, ia yang melakukan semua itu. Pengakuan Jhon tidak penting lagi. Tindakan paling utama dan Jhon telah melakukannya.

***

Ibuku kembali. Ayahnya juga kembali. Dan, sayapku kembali patah.

Jhon….

 

Baca Juga Cerpen Lainnya: Laki-Laki yang Kawin dengan Babi

Baca Juga Cerpen Lainnya: Parumaenku Paribanmu

Baca Juga Cerpen Lainnya: Sejarah Payudara

 

Info Penulis

Penulis tinggal di Kecamatan Sosorgadong. Kabupaten Tapanuli Tengah. Sumatera Utara. Penulis Adalah guru bidang studi ekonomi di SMA Negeri 1 Sosorgadong. Kecamatan Sosorgadong Tapanuli. Bisa dikunungi melalui dodywardymanalu@gmail.com, dodywardymanalu@yahoo.co.id

Bagikan:


Komentar