Salah Satu Pendiri Inten dan Sang Guru itu Kini Tiada

oleh Riduan Situmorang pada 13 Juni 2018 (3208 kali dibaca)

Altur Manurung

 

“Baru saja bulan lalu, saudara kita, Alm. Raskami Bangun menghadap Sang Khalik, hari ini (6/12/2018), satu lagi teman sesama pendiri Inten, telah menghadap Bapa di surga,” tulis Mutiha Dermawan Sihombing di beranda facebooknya.

Namanya Altur Manurung. Dia salah satu pendiri lembaga bimbingan belajar terkemuka di Indonesia, Prosus Inten. Nama Prosus Inten diambil dari jumlah pendirinya (10), yaitu Inten (di dalam 10). Kini, Prosus Inten sudah berkembang pesat di banyak kota di Indonesia, mulai dari Jakarta, Medan, Bandung, Lampung, lalu ke kota-kota lainnya. Ribuan siswa sudah berhasil diluluskan ke PTN favorit, seperti UI, ITB, UGM. Tahun lalu saja, sebanyak 2.020 siswa Inten yang diterima diĀ  UI dan di ITB.

Di samping mendirikan Inten, Altur Manurung juga menjadi pelopor Prosus Inten cabang Medan. Sangat tidak mudah mengembangkan lembaga bimbingan belajar. Apalagi pada saat yang sama, lembaga sejenis sedang bermekaran, seperti Medica dan BIMA. Ditambah lagi bimbel berskala nasional, seperti SSC, Primagama, GO dan banyak lagi. Saya sendiri, pada 2013 silam, belum mengenal apa itu Inten. Inten masih nama yang aneh di kepala saya.

Karena itu, saya membayangkan, butuh pendekatan yang sangat lama, butuh kedekatan emosional dengan tim, butuh kedekatan personal dengan siswa-siswa, juga dengan karyawan lainnya untuk memulai dan mengolah sebuah bimbel. Apalagi, pasar (siswa) kebanyakan sudah terikat secara emosional ke lembaga sejenis lainnya sebelumnya.

Terbukti, untuk beberapa tahun sejak pendiriannya, Inten kurang dikenal oleh masyarakat Sumut. Inten sepi dari siswa. Namun, Altur Manurung dan kawan-kawan saat itu tak berhenti. Mereka tetap berjuang dan berpromosi. “Tiga tahun adalah lembah yang sakral untuk sebuah usaha,” kata Sihar Sitorus kepada para pemuda-pemuda kreatif di Santika Dyandra (6/12/2018). Namun, lebih dari tiga tahun, Inten Medan berada pada lembah yang sakral itu di bawah pimpinan Altur Manurung.

“Beliau merupakan orang yang sangat menghargai tim,” tulis Ridwan Munthe, salah satu pelopor Inten di Medan. Saya juga membaca hal yang sama dengan Ridwan Munthe dari orang-orang yang mengenal Altur Manurung dari segi pekerjaan. Selain itu, dia salah satu orang yang mengutamakan kedekatan kekeluargaan dengan rekan-rekaan pekerjanya. Dampaknya, jika bisa dibahasakan dengan kata-kata yang lugas, rekan kerjanya tidak lagi dipersatukan oleh gaji semata, tetapi juga rasa kekeluargaan.

Kini, Inten Medan semakin maju, apalagi setelah di bawah pimpinan yang baru, Harapan Purba. Jumlah siswa semakin banyak. Kinerja semakin dioptimalkan. Pelayanan semakin apik. Kesejahteraan rekan kerja juga semakin membaik. Sayang, di tengah kemajuan itu, Altur Manurung tak banyak menikmati. Dua tahun lalu, Altur Manurung harus berjuang melawan penyakit stroke yang menyerang tubuhnya.

“Ayah sempat semakin pulih dua tahun lalu,” ujar Richard Manurung, anak pertama dari Altur Manurung. “Namun, semangatnya untuk tetap bekerja membuatnya semakin drop lagi. Belum pulih betul, dia sudah kembali bekerja hingga kemudian, ayah terkena stroke,” tambah Richard lagi.

Ya, Altur Manurung memang tipe pekerja. Tak jarang hingga larut malam dia berdiam di kantor. Saya jadi teringat, ketika tiga tahun lalu bekerja di Inten Jakarta, seorang karyawan di sana mengatakan, Altur adalah pekerja keras. “Tak jarang karena sibuk untuk mengurusi soal TO, kami juga harus lembur,” ujarnya saat itu.

Namun, Altur Manurung bukan semata pekerja keras. Dia juga mempunyai hati yang lembut dan lekat. Tidak pendendam. Dia tidak menggunakan kekuasaannya untuk semena-mena. Saya ingat betul, ketika masih tinggal di lokasi belajar, flashdisk-nya hilang. Dari keseluruhan perkataannya saat itu, dia seolah menuduh bahwa sayalah yang mencurinya. Saya tipikal eksrover dan to the point. Tak perhitungan untuk melawan. Maka saat itu, malah saya yang membentaknya.

Namun, dia tidak memecat saya. Dia juga tak menjauhi saya. Malah, sebaliknya, ketika setahun lagi saya pernah minta resign, beliau malah membujuk, “Tetaplah di sini kalau masih bekerja di scope pendidikan. Pokoknya, jangan resign. Kalau mau kuliah, waktu kita bisa bicarakan,” kurang lebih, begitu ia bertutur saat itu. Saya tak jadi resign.

Kini, Altur Manurung telah tiada. Lelaki kelahiran 22 Januari 1966 itu sudah berpulang pada 12 Juni 2018. Dia berangkat dari rumahnya ke alam surgawi. “Bapak yang minta pulang dari rumah sakit karena Bapak punya feeling yang kuat,” kenang Richard. Ya, Altur Manurung sudah memenangkan perjuangannya di bumi ini. Dia sudah memenangkan banyak hati rekan kerjanya. Dia sudah memenangkan banyak siswa ke PTN favoritnya. Dia sudah membangun meski tanpa seolah ikut menikmati.

Selamat jalan Pak Altur. Karena jasamu, kami dapat mencari penghidupan di Medan ini. Semoga di surga sana, Bapak masih hobi membagi-bagikan buku seperti bagaimana dulu Bapak membagi-bagi buku itu. Benar, lembaran buku Bapak memang sudah tutup. Tapi, kami yakin, buku itu tidak akan habis, apalagi lenyap. Buku-buku itu akan menjadi kenangan yang indah yang bisa dibaca banyak orang, menjadi referensi, menjadi hiburan, menjadi kenangan, menjadi, menjadi, dan menjadi…

Baca juga Berita ini: Naskah Soal SBMPTN 2018 Cacat dan Merugikan Siswa, Panitia di Mana?

Baca juga Berita ini: Jangan Ada Sekolah Semibimbel!

Baca juga Berita ini: Skema Baru SBMPTN

 

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar