Puisi Tentang Danau oleh Thompson HS

oleh Riduan Situmorang pada 20 Juni 2018 (1452 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Analisa

 

OMBAK DAN GELOMBANG DANAU

duh, semua yang berenang itu!

sudah lama kapal-kapal
terbang di atas gelombang
dan penumpang takut ditelan ombak
dari dulu angin Utara dikendarai nakhoda
meninggalkan daratan pulau dan tepi danau
sebelumnya sudah berapa kapal-kapal berkisah
tentang perahu yang tenggelam
ada seorang nelayan mencari ikan
untuk istri dan anak
sampai sekian petang jasadnya
tak pulang ke rumah
tangis dan lapar menghantui sekitar
ditambah langit yang menggelegar

angin danau yang tenang
diam menghanyutkan
jika berombak dan bergelombang
danau bergembira

dua tiga kapal pernah tenggelam
sarat bawaan dengan panik penumpang
angin tak bersalah
sampai ombak dan gelombang
semakin riang

(Balige, 19 Juni 2018)

 

 

MEMANDANG DANAU TOBA

dari Terang dan Gelap

katanya, danau ini sangat luas

sejauh mata memandang bebas

dari Balige ke Bakkara

dari satu pelabuhan ke tujuannya

berkali-kali kunaiki kapal

danau tertahan lengkung bukit berbatu

dan terhalang satu dua pulau

rumah-rumah di tepinya, juga gedung

berdiri kaku menahan hembus angin

waktu kemarau

hujan rindu matahari

karena sinar akan menjemur tanaman

sampai ke balkon rumah-rumah lama

dari Tele ke Harianboho

dari ujung-ujung bukit ke satu pulau

mata terus memandang

siang dan malam

sungguh, tak tertolak dari jauh

keindahan yang tertangkap

dengan gambar

danau seperti hamparan emas

berkilauan saat terang

juga saat gelap oleh lampu-lampu

dari terang dan gelap

aku masih tertegun memandang

sekalipun lewat jalan-jalan berliku

dan mengguncang isi perut

sekalipun kilau emas dan lampu

tidak pernah disimpan

di dasar danau

(Ajibata – Parapat, 26 Maret 2018)

 

 

DANAU DARI JAUH

dari Bur Telege

melewati awan dan hutan

yang masih menawan

rindu lama kembali terbangun

di lapangan Rembele

angin dan gunung bersatu

dalam gelas-gelas kopi

saat singgah di Seladang

melewati batas Bener Meriah

tikungan jalan dan tanjakan tak lagi

mengundang resah

tiba-tiba aku berseru: itu danau

yang kurindu!

terlihat dari tikungan jalan

yang mulai menurun

melewati terik siang dan sore

wajah tua Takengon

sesekali buka bicara

dengan tari guel dan musik teganing

tapi mataku diajak terpana

pada sebuah lingkar kerawang

yang terapit ukiran

gemanya terus sampai esok

dalam dendang syair-syair didong

melewati segala jumpa dan pulang

ingin terus kucari sesuatu

dan bertanya: di mana danau itu?

dari sebuah tepi ke tepi yang terhalang

aku rindu menyentuh air Danau Lut Tawar

yang berasal dari danau

ternyata akan kembali ke danau

(Takengon – Medan, 22 Maret 2018)

 

***Puisi Ini Juga Suda Terbit di Harian Analisa


Thompson HS, penulis lepas dan sutradara seni pertunjukan. tinggal di indonesia. Lahir di Tarutung (Tapanuli Utara), 12 September 1968. Mendapat pendidikan terakhir di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU). Menulis (esai, reportase, karya prolog, cerpen, naskah drama, puisi), aktivitas seni pertunjukan, dan narasumber terkait. Juga menulis teks pertunjukan Opera Batak karena posisinya sebagai Direktur Artistik di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar sejak 2005. Pernah menjadi Supervisor Komunitas Pemetaan Teater Padang Bulan Teater (PBT Kom.et) dan Grup Opera Silindung. Penerima Penghargaan Kebudayaan Kemendikbud RI 2016.

Baca Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Perempuan di Pinggir Danau

Baca Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Andil Siregar

Baca Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Thompson HS

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar