Puisi-Puisi Thompson Hs

oleh thompson hs pada 24 Oktober 2017 (531 kali dibaca)

Thompson HS

 

ANAK-ANAK SIBASOPAET

tersebut dalam silsilah
dua istri Sorbadibanua; Boru Sibasopaet
dan Nai Anting Malela namanya
tabir silam masih separuh cerita
mana selir mana sang ratu
di balik bukit-bukit Mahligai Raja
bersemayam bisu sejarah
konon anak-anak dua istri
berebut kuasa Sorbadibanua
maka dibuka gelanggang untuk tanding tombak
bergiliran
karena hati sang ayah oleng
satu anak Nai Anting Malela, Siraja Hutalima
jadi korban –tangannya tidak kukuh
tangkap lesatan tombak
ujung runcing tembus sebelah mata
lalu dia langsung tewas
dan ruhnya segera berlari
seperti menanggung karma
seketika dari keempat lainnya
mulai geram dan hendak murka
ke arah tiga anak Sibasopaet
peristiwa semakin gelap
harkat Sorbadibanua surut seketika
anak sulung mana yang teruskan amanah?
anak-anak Sibasopaet pun segera menyingkir
ke Dolok Imun
kemudian dari sana jelajahi tempat baru
Siraja Sumba memilih dan mendiami Humbang
ke Lembah Silindung Siraja Sobu tetapkan hati
dan Siraja Naipospos akhirnya di Hurlang
alangkah tidak menentu sedih Boru Sibasopaet
ketiga anak berpisah tanpa pertanda
pulang dan tak pernah jemput bunda
(2013)

 

DAN TANAH DINGIN PUNYA AIR HANGAT

di lembah yang panjang
dan luas
dewa tanah menjaga sawah-sawah
dari bukit-bukit hijau
air memancar dan mengalir
seperti tangan dewa
yang dingin dan sejuk
tapi kadangkala
dewa tanah sentak kakinya
sehingga batu-batu bergerak di dasar bumi
akhirnya retak juga tanah-tanah keras
dan padi yang belum menguning
berantakan
rumah-rumah dan penduduk
terguncang
jika dewa tanah kelihatan marah
manusia sontak berteriak menyeru
gagang pedang atau pisau
yang pernah ditancap Dayang Berujar
ke mahkota kepala sang dewa tanah!
dewa tanah dapat muncul di Utara Silindung
matanya pancarkan belerang sampai ke Timur
di Selatan lembah ringis dewa tiriskan
air soda
dan berahinya yang tiada lenyap
meluncur dengan air hangat berpancuran
seandai melintas menuju Sibolga
lembah yang panjang
bidang dan luas
tempat dingin dan semayam dewa tanah
hujan es yang berbatu sesekali menderamu!
(2013)

 

MEMANGGIL JEJAK-JEJAK

–Tarutung, oh!
pagi subuh
waktu hari Minggu
kita janji berlari-lari
di jantung kota
ramai orang maraton
sambil kadang terengah
dalam peluk hawa dingin
orang-orang itu seperti membelah
jalan hitam yang datar
dan menanjak
dari arah lain kita menantang
bergerak dan melirik gadis-gadis
yang lewat
yang bikin terpesona suatu ketika
bikin kita berlari-lari tanpa arah
sepanjang kota telah kita hafal
dan jalani
setiap malam Minggu
dekat tepi sungai yang membelahnya
selalu ada orang berpasangan
sambil berpegangan mesra
dirimu kau bayangkan dalam cengkerama
pacaran orang-orang itu
aku tahu karena cerita nostalgiamu
di sela-sela pause dan libur sekolah
sampai kau ajak pasanganmu
pagi subuh kembali ketemu
di jantung kota
sobat, kita bisa teringat jejak-jejak
sewaktu remaja di Tarutung
kita tetap semangat dari senen
sampai jumat
kita belajar sambil menunggu saat-saat indah
di malam dan Minggu subuh
(2013)

 

ANTARA MUARA – SIBANDANG

sejak kecil telah kuseberangi
danau dari Balige ke Tipang
dengan kapal kayu berpenumpang
hari biasa atau pun hari pekan
kupandangi bukit-bukit tertinggi
dan berbatu penahan danau
di luasan hijau terlihat kerbau
berkawanan dan satu- satu merumput
(duh, janganlah kerbau itu
sampai jatuh ke danau!)
anak-anak gembala kelihatan
telah pulang dari sekolah
ada yang berdiri dan duduk
dekat tugu dan sekitar makam batu
tanganku melambai-lambai ketika mereka
berseru-seru
(duh, anak-anak pinggir danau
belum pakai baju!)
mungkin kotoran hitam di wajah
atau tubuh mereka percikan taig kerbau
jika kapal berhenti
ada penumpang turun di Muara
dan Sibandang
anak-anak itu pun lenyap dari ingatan
di Muara berdiam Siregar dan Simatupang
dahulu kala
anak-anaknya menyebar ke mana-mana
di Sibandang telah hidup sejak awal
marga Rajagukguk
anak-anaknya mungkin menyeberang
atau berenang ke Muara
sebelum ke Sosor Lontung dan Huta Ginjang
aku tak pernah berenang antara Muara
dan Sibandang
tapi telah bergerak di atas air
dengan kapal dan perahu
sejak kecil
(2013)

 

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Wijaya Napitupulu

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Nabilah Lubis

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Riduan Situmorang

Info Penulis

penulis lepas dan sutradara seni pertunjukan. tinggal di indonesia. Lahir di Tarutung (Tapanuli Utara), 12 September 1968. Mendapat pendidikan terakhir di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU). Menulis (esai, reportase, karya prolog, cerpen, naskah drama, puisi), aktivitas seni pertunjukan, dan narasumber terkait. Juga menulis teks pertunjukan Opera Batak karena posisinya sebagai Direktur Artistik di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar sejak 2005. Pernah menjadi Supervisor Komunitas Pemetaan Teater Padang Bulan Teater (PBT Kom.et) dan Grup Opera Silindung. Penerima Penghargaan Kebudayaan Kemendikbud RI 2016.

Bagikan:


Komentar