Puisi-Puisi Setelah dari Bioskop

oleh Riduan Situmorang pada 23 Mei 2018 (683 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Youtube

 

The Avengers

di deretan kursi C di bioskop itu

kita menjadi saksi yang terengah-engah

tentang bagaimana masa depan menjadi batu

tentang berkah yang kemudian menjadi murkah

 

kau kulihat sangat bergelora

antara rindu dan dendam

antara takut dan emosional

melihat berbagai darah yang muncrat

berbagai nyawa yang tertebas

berbagai kemaruk kuasa yang buas

 

film sudah selesai diputar

tepat ketika perut bumi mengandung matahari

lalu setiap orang pulang dengan berbagai tanya

tentang siapa pencundang, siapa pemenang

tentang apa memiliki, apa menguasai

 

namun, bagiku film itu belum selesai

aku masih menunggu matahari

keluar dari kandungan bumi yang padat

lalu masuk ke dalam perutmu yang mungil

seperti Thanos mengharap Gamora

: begitulah juga aku padamu

 

 

Penunggang Badai

hujan yang menyimpan angin

selalu menjadi ancaman yang dingin

lalu ia membawa gigil-gigil

masuk ke dalam porimu paling kecil

 

hujan masih menggulung angin

ketika lampu roboh dan jalanan menjadi sungai

kau kulihat semakin gigil

aku terkutuk trauma badai, bisikmu pelan

 

aku ternganga, bukan tentang badai itu

tapi tentang siasat di balik badai

orang berkabar, badai akan datang

tapi, orang itu hanya menunggang badai, katamu

 

ya, menunggang badai untuk merampok, lanjutmu lagi

kali ini, aku tak terkejut

aku bahkan ingin menjadi penunggang badai

: jangan larang aku dengan badaiku!

 

 

Teka Teki Silang

ketika malam semakin matang

lalu penat semakin mengular

maka kita hanya perlu bermain-main kata

tentang berbagai tanya-tanya usil

 

hidup ini bagaikan teka-teki

: memberikan pertanyaan usil

untuk jawaban yang serius

 

malam semakin matang

kita lantas terlelap di balik kata-kata

kau sibuk menjawab, sementara aku asyik bertanya

namun, kau harus tahu

kau adalah teka-teki tersulit dalam hidupku

: kau adalah kata tanpa kamus

 

 

Es Kosong

sudahlah, mari bersepakat

tentang rintik-rintik hujan

yang akan kita tampung menjadi sebuah kolam

lalu kita akan membuat saluran di empat sisinya

hingga air lama terukar air baru

kolam lama menjadi kolam baru

 

dari sana, kita akan memanen air

menjerangnya penuh asa di dapur

kita meminumnya dengan sempurna

hingga rindu kita menjadi paripurna

: aduhai, kau memesan es kosong!

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Andil Siregar (Tentang Tanya)

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Riduan Situmorang dari Eropa

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Thompson HS

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar