Puisi-Puisi Riduan Situmorang dari Eropa

oleh Riduan Situmorang pada 9 Mei 2018 (495 kali dibaca)

Sebuah Penampakan di Jerman, Kota Kelahiran Ludwig van Beethoven

 

Cintaku di Istanbul

di pagi yang kecut

hatiku semakin kepincut

mendengar deru-deru laut

oh, rindu semakin memagut

 

dengan apa kau kugambarkan?

seumpama laut atau badai

 

di Instanbul, kota yang dikepung kepul-kepul embun

izinkan aku menjadi lautmu

diterjang badai demi badai

aku tetap menjadi lautmu yang terguncang-guncang

sebab badai dan laut adalah kita

Instanbul, 17 September 2015

 

 

Anggur Arhweiler

di sudut desa Arhewiler

rinduku menggebu pada debu

pada kemacetan yang mendengus

pada keramaian yang menggemuruh

pada kesemrawutan yang tak berbatas

 

di sudut Desa Arhweiler ini

di tengah kebutan rindu dan dendam

kuteguk anggur setua-tuanya

dia memabukkan

: mengingatkanku pada asalku

oh, negeriku yang riuh gemuruh

tiba-tiba aku ingin pada teriakanmu

memekakkan nalar, memantik hatiku

 

di Arhweiler ini, aku memutuskan mabuk

oleh anggur setua-tuanya

demi mengenang negeriku

dan sejuta puing-puing mimpi

Arhweiler, Jerman, 19 September 2015

 

 

Dari Sudut Kota Koln

di dinding kamarku, Rendra menyapa

“Nyamperin matahari dari satu sisi

memandang insan dari setiap jurusan”

 

kasur ini, katamu, pernah menjadi alas kepala Rendra

aku terkesima

sudahkah sekian jauh kakiku terseret-seret waktu?

sudahkah mimpi menjadi pagi?

 

Koln, hanyalah kota taburan mimpi

menjengukku di antara sejuta ikan-ikan liar

di perutmu yang mengguncang

 

dari sudut Kota Koln

aku memilih tersenyum

bilakah mimpiku ditelan malam

atau dimuntahkan pagi?

 

Koln semakin sejuk

matahari hanya sebelah

manusia sibuk dengan jurusannya

maka aku sibuk bercumbu dengan mimpiku

Koln, Jerman, 23 September 2015

 

Petualang

: Untuk Sitor Situmorang

antara Arhweiler dan Koln

kami membisiki namamu

entah kenapa tiba-tiba puisimu mendengung

di pagi yang berurut itu

 

oh, lelaki yang kini terbujur di pelukan ibu

kamu adalah petualang sejati

berperang di negeri orang

diperangi di tanahmu

 

puisi ini untukmu

aku paham, kata-kata ini tak berjiwa

waktu ini tak berkejadian

tapi di tengah jepitan huruf dan bunyi

di tengah kuyupan waktu dan ruang

kau berpetualang

: memergoki roh

: meneriaki peristiwa

Koln, Jerman, 23 September 2015

 

 

Imigran

imigran adalah anak-anak Tuhan

tersesat pada daun-daun

diterbangkan dari ranting-rantingnya

dipungut petugas

diinjak kaki-kaki bengis

dibakar dan dibusukkan

 

imigran adalah anak-anak Tuhan

apakah kita adalah iblis?

lalu sampai hati kita membasminya?

Nunberg, Jerman, 29 September 2015

***Puisi-Puisi Ini Sudah Pernah Diterbitkan di harian Analisa

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Thompson HS

Baca Juga Puisi Lainnya: Sssst, Ada Iblis di Balik Asuransi

Baca Juga Puisi Lainnya: Puisi-Puisi dari Koeln, Jerman

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar