Puisi-Puisi Perempuan di Pinggir Danau

oleh Riduan Situmorang pada 13 Juni 2018 (385 kali dibaca)

Gambar Diambil dari Detik.com

 

Tragedi Pasar/1

di pasar manusia mencelup hura-hura

dan, kau selalu saja mengajakku mencecapi pasar

tapi, aku benci keramaian

itulah mengapa aku menggeleng padamu

 

tapi, di petang bergerimis, kutatap, wajahmu tiba-tiba garang

kau menggendong sejuta gerah

kulihat itu, dari tepi matamu yang merah matang

kali ini, aku tak mau lagi menukar penolakan dengan bogeman

 

 

Tragedi Pasar/2

maka, aku ikuti kau menggerayangi lorong-lorong

lorong yang bahkan sudah kita tahu di mana ada lubang

berapa butir pasir di tepi kiri

berapa kepal batu di tepi kanan

berapa jengkal paha demi paha

berapa lenguhan napas-napas nafsu

 

inilah mengapa aku benci setiap kau mengajakku ke pasar

pasar adalah kesunyatan, juga kepenatan

menjual tubuh-tubuh kerontang

pada tengkulak-tengkulak tambun

menjual libido-libido ganas

pada pria-pria beristri

 

Tragedi Pasar/3

petang mulai terguling dan aku tak mau perpaling

malam semakin sungsang dan libido makin menggiling

tepat ketika selangkananku ternganga

kulihat istri-istri berpeluh rindu

rindu yang kini kulahap ditukar koin-koin

istri-istri itu semakin berpeluh

pada rindu yang kulahap

 

istri-istri itu menangis dan mengemis perhatian

mereka cemburu pada desahan-desahanku

mereka iri pada belaian-belaianmu

meski itu palsu

tapi, kepalsuan adalah kejujuran yang terlambat

maka, mari kuayunkan seribu langkah

mengambil sebilah pisau

menancapnya di kemaluanmu, juga di jantungmu

aku bukan perebut perhatian dari anak dan istrimu

kembalilah meski dengan bangkai

bangkai adalah kepulangan yang paling sejati

 

Perempuan di Pinggir Danau/1

sudah kami dengar dari desas-desus di kenisah

dari setiap simpang-simpang di sudut keramaian

dari kutuk demi kutuk para pengagum taurat

bahwa kau adalah wanita penjual libido

 

hasratmu tak habis meski salib sudah telentang

niatmu tak pudar meski cemeti melubangi genggamanmu

dan, kau selalu bisa membangkitkan birahi

dari liang kubur paling dalam

meski sudah bangkai tiga hari tiga malam

 

kau selalu setia duduk di pinggir danau

menunggu setiap penjala ikan

lalu, kau menjadi penjala para penjala ikan itu

ikan-ikan gemuk ditukar dengan tubuhmu yang molek

lalu, kalian akan bercerita tentang kisah Adam dan Hawa

mencelup buahnya yang paling ranum

kau berikan itu pada penjala ikan

kau menggelinjang, mungkin merintih

tapi, rintihan itu adalah ujung-ujung dari kenikmatan

 

Perempuan di Pinggir Danau/2

desas-desus itu kini sudah matang

kau harus dirajam

oleh para penjala ikan yang menjual ikannya demi buahmu

yang kalian nikmati di bilik-bilik rahasia

 

lihatlah, kepal-kepal batu sudah siaga

amarah sudah semakin tebal

meski buah ranum itu kalian nikmati bersama

tapi, amarah adalah alasan yang paling suci

 

kami tinggal menunggu perintah dan pembenaran

dari Anak Domba

meski di balik itu kami ingin menyalahkan

sebab, di ujung perintah ada pembangkangan

di ujung pembenaran ada penghakiman

 

ah, Anak Domba itu hanya tertunduk

menuliskan berbagai ratapanmu di tanah

menuliskan puisi libidomu bersama mereka

lalu, selekasnya sepi dan kau memeluk Anak Domba itu

pelukan tanpa birahi, juga tanpa rasa

 

Baca Juga Puisi-Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Minarty Manalu

Baca Juga Puisi-Puisi Lainnya: Puisi-Puisi Nabilah Lubis

Baca Juga Puisi-Puisi Lainnya: Puisi-Puisi dari Koln Jerman

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar