Parumaenku Paribanmu

oleh Ricardo Marbun pada 25 Oktober 2017 (608 kali dibaca)

 

Ilustrasi Diambil dari Batakgaul.com

 

Clara senyum-senyum sendiri. Mendengar luapan kebahagian Namboru Asima menceritakan berkat melimpah dalam keluarganya. Clara tidak ingin menimpali. Tepatnya segan! Seperti sebelumnya, Clara hanya tersenyum. Hanya itu yang bisa ia perbuat sambil melakukan tugasnya menyiapkan makan siang Albert dan keluarga. Perhatiannya penuh pada sayur yang mendidih.

“Lega sekali namboru, La. Lega sekali!” desah Namboru Asima panjang.

Clara kembali tersenyum. Sudah terlalu sering ia menyaksikan kelimpahan di rumah namboru. Lebih sering mendengar dari mulut namboru sendiri. Dulu, sewaktu ia kecil masih belum mengerti makna dari berkat-berkat itu. Bertambah usianya, Clara semakin paham betapa namboru dan keluarganya dipenuhi berkat melimpah dalam kehidupan mereka. Dirinya seakan menjadi saksi dari semua itu sebab satu keadaan Clara mau tidak mau harus tinggal di rumah namboru Asima.

Jemari Clara sedikit bergetar saat menyentuh permukaan rantang yang terbuat dari aluminium dari sela rak piring tidak jauh dari tempatnya berdiri. Desir aneh menelisik rongga dadanya. Meninggalkan sedikit perih akibat perasaan.

“Apa menu makan siang Albert hari ini, La?” suara namboru Asima menyadarkan Clara. Cepat ia meraih rantang-rantang itu dari rak piring.

“Tauco ikan bawal. Sayurnya, Bang Albert kemarin minta dibuatkan sayur tahu. Ada potongan buah apel juga, Nam,” jawab Clara terbata.

“Hendrik di mana? Sudah hampir jam 12 ini.” Namboru gelisah di tempatnya.

Hendrik lagi asyik mengobrol dengan Pak Suryadi yang bekerja sebagai satpam di rumah namboru. Lelaki ceking itu segera berlari kecil begitu melihat Clara berjalan menghampiri mereka. Clara berjalan pelan, di tangannya ada rantang makan siang Albert. Hendrik lebih dulu sampai di depannya. Clara menyerahkan rantang makan siang untuk Albert. Segera Hendrik berlari memasuki mobil.

Asma dan lemah jantung merenggut Mamak dari sisi Clara. Waktu ia masih berumur 4 tahun. Clara bahkan sudah lupa dengan kejadian itu. Walau samar-samar sosok Mamak sering mampir dalam mimpinya. Tiga tahun kemudian Bapak menikah kembali. Sebelum Bapak menikah, Clara tinggal bersama Ompung dan sesekali dibawa namboru-namborunya bergantian tinggal di rumah mereka.

“Istrimu masih terlalu muda. Cukuplah dia mengurusmu. Jangan tambahi lagi ikut mengurus anakmu. Mamak tidak mau rumah tanggamu yang sekarang berantakan karena kehadiran Clara!” alasan kuat Ompung waktu itu.

“Bagaiman dengan Clara, Mak?” protes Bapak.

“Clara sudah terbiasa tinggal bersama kami. Lagian Angkang mu mau membesarkannya. Asima sayang dengan Clara. Saran Mamak, pikirkan saja rumah tanggamu. Clara biar tinggal dengan kakakmu. Tidak ada masalah, Horas!”

 

Baca Juga Cerpen Lainnya: Kata Cinta Buat Kumala

 

Begitulah cerita Clara mengalir. Bapak bertugas ke Pekan Baru bersama istri barunya sedang Clara tetap tinggal bersama namboru Asima walau sesekali ikut tinggal bersama Ompung. Tempat tinggal Ompung dan Namboru masih satu kota.

Namboru Asima mendidik dan membesarkan Clara sama seperti keempat anaknya yang lain. Clara seumuran dengan anak namboru yang nomor tiga. Si bungsu lebih muda dua tahun darinya. Albert adalah anak sulung keluarga namboru.

 

@@@

 

Mr Marten menjabat erat tangan Clara sekali lagi. Senyum hangat menghiasi wajah pria berhidung mancung dengan kulit kemerahan. Clara menyambutnya jabatan tangan itu dengan rasa campur aduk. Clara masih tidak percaya ia berhasil mencapai anak tangga lebih tinggi dari pekerjaan yang ia jalani saat ini.

Satu keputusan berat berhasil Clara lalui. Baru saja ia menanda tangani kontrak kerja sebagai Guru di Batam International Scholl di pulau Batam. Lamaran kerja yang ia coba dua bulan lalu memberinya hasil yang menggembirakan. Clara mantap menerimanya padahal ia belum mengabarkan apapun kepada Namboru.

Langkah Clara terhenti. Ingatan itu membuyarkan gelembung kebahagiaan di dalam dadanya. Clara merasakan kakinya berat meneruskan langkah menuju parkir sepeda motor. Wajah Namboru menguasai pelupuk matanya.

Ketiga anak perempuan namboru boleh sukses mengejar karir mereka masing-masing. Tetapi hormat dan patuh kepada orang tua tetap mereka junjung tinggi. Namboru berhasil menanamkan sikap itu dalam pribadi keempat anaknya.

Clara tidak kaget mendapati ketiga putri namboru sudah berkumpul di dalam rumah begitu ia sampai. Clara ingat kemarin siang namboru meminta mereka untuk datang ke rumah. Apalagi kalau bukan ingin membahas rencana namboru. Kehadiran Clara tidak mengganggu keseruan mereka saling bercerita.

“Ah, sudah datang kau Clara! Buatkan dulu sirup markisa. Hampir satu jam kami berkumpul belum minum juga. Banyak escube di kulkas. Panas sekali siang ini. Terus, ada emping blinjo di dalam lemari itu. Di atas sana. Tolong kau keluarkan, ya?” perintah namboru begitu melihat kehadiran dirinya.

Clara mengangguk dan berjalan cepat. Tangkas tangannya mengambil gelas, membuka lemari es lalu mencari sirup dan escube di sana. Dalam hitungan menit Clara menghidangkan permintaan namboru lengkap dengan emping blinjonya.

“Lalu, apa Mamak yakin sekali ini? Jangan nanti malu lagi kita seperti sebelumnya. Selain itu apa sudah Mamak kasih tahu Albert? Syok pula dia nanti. Masalah lagi nanti, Mak?” Rita putri tertua namboru membuka suara.

“Sekali ini yakin Mamak. Kalau Albert gampanglah. Lagian mana sempat abangmu itu memikirkan hal seperti ini. Waktunya habis di rumah sakit. Belum lagi panggilan operasi di sana-sini. Sudahlah. Biar itu urusan Mamak.” Tegas Namboru.

“Siapa nama perempuan itu?” sela Elfride setengah hati.

“Berliana Tambun!” ujar Namboru berlumur senyum di wajahnya.

Bunyi ponsel kak Rita menghentikan obrolan itu. Clara menurunkan dagunya. Telinganya jelas mendengar nama yang baru saja disebut namboru. Ada lirih mengulik hatinya. Kenapa kebetulan sekali perempuan itu semarga dengan namboru. Termasuk dengan dirinya. Tak lain berpariban dengan Albert.

 

Baca Juga Cerpen Lainnya: Kucing Jalanan di Rumah Kitty

 

Kak Rita masih serius dengan ponselnya. Sebagai direktur sebuah bank swasta di kota ini kak Rita memang sibuk sekali. Ponsel kak Rita ada tiga. Terkadang ketiga ponsel itu menjerit memanggilnya dalam waktu bersamaan. Namboru berusaha mengerti. Elfride terlihat tak senang. Susan menopangkan dagu.

“Kapan Mamak mengundang mereka ke rumah ini?” tanya Susan si bungsu.

“Lusa! Kalian semua harus datang. Seingat Mamak songket Bali yang kita beli kapan hari belum terpakai. Pas pertemuan itu kita kembaran pakai songket itu. Sudah selesai kau jahit Elfride?” toleh Mamak menatap Elfride.

“Sudah lama! Tenang saja Mamak,” dengus Elfride tak suka.

Obrolan masih terus berlanjut. Clara duduk sebagai pendengar yang baik. Situasinya kurang mendukung untuk ia membicarakan masalah  dirinya. Namboru tetap berapi-api membahas rencana pertemuan lusa. Kak Rita tetap terganggu dengan bunyi ponselnya. Elfride bertambah kesal. Susan yang bungsu justru lebih santai menghadapi keadaan. Bisa jadi karena Susan seorang Psikolog. Clara termenung memikirkan cara menyampaikan tentang keberangkatannya ke Batam.

@@@

Clara mengintip dari sela-sela lemari yang berfungsi sebagai dinding pembatas antara ruang tamu utama dengan ruang dalam tempatnya berdiri. Keluarga namboru lengkap duduk di sana. Namboru tampak gemerlap mengenakan songket Balinya. Sesuai rencana kemarin mereka tampil kembaran. Bahkan Amangboru dan Albert kena imbasnya. Mengenakan kemeja sewarna.

Sedikit berjinjit Clara mengamati wanita yang menjadi tamu spesial namboru itu. Tempat duduk wanita itu tepat menghadap ke ruang dalam sehingga ia dengan jelas melihatnya. Potongan rambutnya model pixie. Bagian depan lebih tebal dari bagian belakang. Rambutnya di semir dua warna. Mahoni dan coklat susu. Wajahnya tirus. Clara tercengang wanita itu mengenakan tindik di hidungnya. Moderen sekali. Bajunya model rompi tanpa lengan. Clara menebak wanita itu pasti memadukannya dengan celana pendek. Benar-benar ekstrim penampilannya.

Clara menurunkan tumitnya. Luar biasa boru Tambun yang satu ini pikirnya. Ekstrim secara penampilan. Lebih luar biasa lagi ia datang seorang diri mewakili keluarganya. Hebatnya, namboru dan keluarga tetap menyambut tamunya seakan tidak ada apa-apa. Padahal segumpal ganjalan memenuhi benak mereka.

 

Baca Juga Cerpen Lainnya: 30 Menit, 3 Hal, dan Perisitiwa Setelahnya

 

“Mami memang seperti itu Tante Asima. Sibuk sekali menjodohkan saya. Menurut cerita Mami, Tante dan Mami adalah teman lama. Dengan Papa, Tante dan keluarga juga saling mengenal. Kemarin Mami menceritakan masalah perkenalan ini kepada saya Tente. Terus terang saya menolak keras. Maka itu sebelum rancu saya datang mewakili keluarga karena ini menyangkut saya juga. Namboru dan keluarga jangan salah sangka ya? Papa dan Mami tidak bersalah dalam hal ini.”

Clara terhenyak mendengar suara wanita itu menjelaskan kedatangannya.

“Oh tentu, tentu. Macam orang lain saja Berliana. Tante cuma mengundang Mamimu. Sudah lama kami tidak bertemu. Kata Mamimu kau belum punya teman, jadi Tante pikir tidak salah sekalian berkenalan dengan anak Tante. Seperti itu saja, Berliana.” Usaha Namboru melumerkan suasana. Tidak berhasil.

“Sayangnya Mami salah Tante! Kekasih saya warga Negara Polandia. Hubungan kami sangat serius. Mami tidak setuju tapi saya tetap akan mengikuti kekasih saya untuk tinggal bersamanya di Polandia. Zaman sudah maju Tante. Dunia di luar sana teramat luas. Dan saya ingin merengkuhnya. Saya berharap Tante dan keluarga dapat memahami saya?” penjelasan yang terbuka.

Clara nyaris pingsan ke lantai. Luar biasa wanita ini. Pikirnya. Clara memperbaiki sikap begitu mendengar situasi ramai di dalam. Clara kembali berjinjit dan mengintip. Wanita itu sudah tidak ada. Berliana sudah pergi. Ruangan hening.

“Berliana calon kesekian yang Mamak undang ke rumah kita dengan maksud untuk di perkenalkan kepadaku. Herannya selalu saja ada kendala dengan berbagai alasan. Tapi dari semua calon yang ingin Mamak kenalkan itu Berliana sosok yang paling luar biasa. Albert salut dengan sikap terbukanya.” Albert membuka suara.

Dengung lebah terdengar menanggapi penilaian Albert. Kecuali Namboru. Dia memilih berdiam diri. Entah kesal atau malu. Jakun Clara naik turun mengamati mereka. Ujung kakinya mulai terasa kesemutan karena sejak tadi ia harus berjinjit.

“Mungkin sudah waktunya Albert harus jujur dengan diri sendiri, Mak!” suara Albert berubah serius.

Clara terbelalak mendengar suara Albert. Semua yang di ruang tamu serta merta kembali duduk di posisi semula. Namboru bahkan sampai menoleh mencoba memahami maksud perkataan putranya. Suasa beku barusan berangsur mulai cair.

“Percaya tidak percaya apa karena Albert tidak jujur sehingga Tuhan selalu memberi kendala untuk semua usaha Mamak. Albert pikir sudah waktunya harus jujur, Mak.” kata Albert mengulangi perkataan sebelumnya.

“Maksudmu?” sela Mamak ikut penasaran.

“Kedengarannya serius? Apaan Bang?” tambah Susan penasaran.

“Kesibukan di rumah sakit benar-benar membuat Albert tidak punya waktu untuk diri sendiri. Sewaktu kuliah dalam pikiran Albert hanya satu. Segera lulus dan menjadi dokter. Setelah lulus mengabdi dan sekolah lagi. Lulus lagi kembali mengabdi dan sekolah lagi. Begitu terus. Sampai lupa pada umur. Mamak sampai ikut sibuk mencari calon istri untukku. Ternyata tidak mudah.” desah Albert.

“Albert!” potong Namboru, “langsung saja jangan bertele-tele kau. Apa maksud ceritamu?” rongrong Namboru tidak sabar.

“Di rumah ini ada satu lagi boru Tambun. Baik. Pendiam. Terkadang tidak percaya diri padahal kemampuannya ada. Ringan tangan tanpa mengharap balasan. Satu lagi, pandai memasak. Tidak pernah malas atau lupa memasak untuk kita semua. Terutama untuk makan siangku di rumah sakit. Menunya tidak pernah sama. Setiap kali rantang kirimannya sampai di mejaku tidak sabar untuk segera mencicipinya. Rasanya luar biasa. Bisa jadi karena dia memasak dengan hati. Perutku berubah tenang setiap kali menghabiskan rantang kirimannya. Sayangnya…” Albert menghentikan perkataannya.

“Apa?” tanya mereka bersamaan. Clara juga. Semua seakan tersihir.

“Boru Tambun itu baru saja menerima tawaran mengajar di Batam International Scholl. Kemarin surat itu dia letakkan di mejaku. Bisa jadi boru Tambun itu tidak tahu cara menyampaikan berita ini kepada kita!”

“Clara maksudmu, Albert?” jerit Namboru terkejut.

Albert mengangguk. “Albert sudah minta ijin kepada Tulang Horas. Tugas Mamak menahan Clara agar tidak pergi?” Albert menunduk. Dadanya terasa lega.

Clara mundur tergesa. Betisnya menambrak meja yang penuh dengan hidangan. Tempat sendok bergeser lalu tumpah ke lantai. Clara tidak perduli. Dia ingin lari lalu bersembunyi. Pipinya panas mendengar pengakuan Albert. Kulitnya dingin menahan gigil. Tapi dadanya hangat. Clara tambah gegas begitu suara namboru sayup-sayup terdengar di kejauhan. Namboru beranjak mencarinya.

“Clara, Clara, Parumaenku. Manantuku!” getar suara Namboru bahagia.

Baca Juga Cerpen Lainnya: Pendengar Setia

Baca Juga Cerpen Lainnya: Kecapi Terakhir di Malam Minggu

 

Info Penulis

Bagikan:


Komentar