Naskah Soal SBMPTN 2018 Cacat dan Merugikan Siswa, Panitia Di mana?

oleh Riduan Situmorang pada 8 Mei 2018 (2219 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Screenshoot Berita Antara

 

Namanya Nikolaus Munthe. Seseharinya, dia adalah orang yang sangat bersemangat dan antusias dalam belajar. Namun, hari ini, sehabis mengadakan SBMPTN, wajahnya terlihat lesu dan kurang bersemangat. Dia tidak seperti teman-temannya yang justru sangat antusias dan bahagia setelah melaksanakan SBMPTN. Aroma-aroma kemenangan menguar jelas dari pancaran setiap wajah mereka.

“Soalnya gampang-gampang, Bang. Sudah sering dibahas di Inten,” kata salah seorang siswa, juga siswa-siswa lainnya. “Semoga mereka lulus,” bisikku dalam hati.

Wajah-wajah kemenangan juga penulis dapatkan ketika membagikan brosur di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. “Bang, soal bahasa Indonesianya gampang,” kata salah seorang siswa asal SMAN1 Medan kepada saya. Saya sangat penasaran: apa memang iya? Setelah melihat soal bahasa Indonesia, benar saja, saya langsung sepakat dengan mereka: bahwa soal-soal bahasa Indonesia sangat gampang. Benar-benar sangat gampang.

Namun, setelah memperhatikan sampul soal itu, saya mulai menaruh tanya. Betapa tidak, di sampul soal itu tersurat peringatan: soal bukan untuk dibawa pulang. “Lho, kok dibawa pulang, Dek?” tanyaku kepada salah seorang siswa yang lain. “Emang tak dilarang, Bang. Semua kami disuruh bawa soal, kok!” Saya tersenyum. Ini senyum tak biasa. Ini menjadi salah satu senyumku yang tak bisa ditebak. Antara senyum setengah bahagia dan setengah bingung.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Skema Baru SBMPTN

Bahagia karena rasa penasaran saya terhadap kualitas soal itu terjawab sudah. Setengah bingung karena langsung mencuat pertanyaan: panitia SBMPTN ini serius atau tidak? Masakan untuk hal sepele seperti ini tak didiskusikan sebelumnya? Apakah pengawas tak dibekali maksimal? Dibekali, misalnya, ketika ada soal yang kurang, apa yang akan dilakukan? Ketika soal hilang karena terbawa siswa, apa yang mesti diperbuat? Apa hukuman? Dan sebagainya, dan sebagainya! Sebab, ini proyek intelektual berskala nasional. Ini bukan main-main.

Gagap

Lagipula, pembekalan ini penting. Benar-benar sangat penting sebab justru karena hal ini, Nikolaus Munthe murung. Setengah wajah kegembiraannya sirna sudah. “Kenapa, Dek?” tanyaku padanya. “Soalku hilang sebanyak 13 butir, Bang. Tidak tercetak!” tuturnya. “Kenapa tidak kau minta dari pengawas?” tanyaku dan teman-teman lain cepat.

Saya tanya begitu cepat karena sejauh pengetahuan saya, Nikolaus, siswa asal SMAN 4 Medan ini, termasuk pintar. Singkat cerita, Niko sudah mengadukannya kepada pengawas. Namun, pengawas memang sepertinya tak dibekali untuk menanggulangi setiap kendala di lapangan. Betapa tidak, pengawas malah menyuruh agar Niko dan kawan-kawannya (kebetulan bukan hanya soal Niko yang cacat) mengosongkan jawaban yang tidak ada soalnya.

Padahal, di butir petunjuk, disarankan dengan sangat samar agar peserta menjawab semua soal. Memang, jika dilihat beberapa hari sebelumnya, panitia terlihat sangat misterius. Mereka terlihat kebingungan dan gagap. Kadang, mereka menyuruh agar tidak menjawab soal secara ngasal. Kadang malah sebaliknya. Saya sendiri penasaran, bahkan setengah berharap, bahwa skema dan soal yang diujikan kali ini sangat istimewa dan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Namun, setelah saya amat-amati, panitia memang tidak kompeten. Benar-benar tidak kompeten. Pertama, soal kesamaan perlakuan oleh setiap pengawas: apakah dibiskan membawa soal atau tidak. Kedua, jika ada kendala, seperti soal cacat, bahkan sampai puluhan, apa yang harus dilakukan? Sederhana saja, apakah profesional membebankan kesalahan pencetakan (panitia) kepada siswa, padahal, siswa itu sudah persiapan selama bertahun-tahun, misalnya, tetapi malah gagal hanya karena soal yang cacat? Apakah adil membayar untuk sebuah kegagalan, lalu kegagalan itu karena panitia, misalnya?

Niko, dia siswa yang masuk di program alumni di bimbel Inten. Program alumni, berarti sebelumnya, dia tidak masuk PTN, atau, tak puas dengan PTN yang dimasukinya. Karena itu, alih-alih kuliah ke PTS, dia malah memilih menghabiskan waktunya sebanyak setahun dengan harapan: bisa lulus tahun ini. Ini bukan keputusan yang sederhana, apalagi mudah. Butuh waktu, dana tentu saja. Maka, ketika, misalnya, seseorang malah gagal karena kecacatan soal dari panitia, siapa yang semestinya bertanggung jawab?

Kalau kompeten, panitia mestinya bertanggung jawab. Kalau tak bisa bertanggung jawab, panitia setidaknya bisa menggantikan soal yang itu. Banyak alternatif yang bisa dibuat. Banyak sekali. Bisa memfotokopinya ke luar sebentar. Atau, memfotonya dengan kamera lalu diberikan kepada siswa. Atau, menggantikan soal itu jika misalnya siswa lain sudah selesai mengerjakan 13 butir soal yang cacat itu. Namun, itu tak terjadi.

Niko harus merelakan 13 nomor yang barangkali bisa dikerjakannya dengan benar.  Siapa bertanggung jawab atas ini? Panitia agaknya tidak. Benar-benar tidak akan. Bagi mereka agaknya sederhana: siswa membayar, siswa ujian. Beres! Soal kelak mereka gagal karena kesalahan panitia bukan menjadi perhatian. Karena tadi, mereka kurang kompeten. Maaf kalau saya harus jujur mengatakannya. Sebab, lihatlah, perwajahan soal itu saja sangat tidak adil.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Mari Segera Memeratakan Pendidikan

Ukuran hurufnya kecil-kecil. Tulisannya beberapa kabur. Rata kiri-kanan malah tak diaplikasikan. Baiklah, bagi orang bermata normal barangkali itu tak masalah. Tetapi, apakah semua peserta bermata normal? Ketiga, ini terkait konten soal. Soal yang diujikan sering kali tanpa atau dengan jawaban ganda. Saya tidak mengatakan soal itu benar-benar tidak ada jawaban atau jawaban ganda. Hanya saja, dari berbagai buku yang sering saya baca, sering dari buku yang satu ke buku yang lain membuat bahwa jawaban memang tidak ada/jawaban ganda.

Acara Apaan, Sih?

Siapa bertanggung jawab atas kecerobohan ini? Oh, entah kenapa, sembari mengakhiri tulisan ini, saya mengingat kembali wajah murung Niko Munthe. Dia tidak seperti teman-temannya. Setahun ini, dia sudah belajar banyak. Dia termasuk pintar. Bahkan., dalam benak saya sudah semacam ada sebuah dogma: kalau Niko saja tak lulus, lantas siapa lagi siswa kami yang akan lulus? Dengan kata lain, (semoga Niko LULUS), andai Niko tak lulus, itu sudah pasti karena kecacatan soal dari panitia (13 butir).

Sayangnya, saya agak yakin, panitia tidak akan bertanggung jawab. Sebab, seperti tadi, bagi panitia sederhana: bayar lalu ujian, beres. Perkara apakah siswa kelak akan lulus atau tidak itu hanya akibat. Panitia hanya suka membuat bahwa seakan persiapan sudah sangat baik. Padahal, nyatanya di lapangan, terjadi ketidaksepahaman antara pengawas dan panitia. Ada ketimpangan lokasi ujian. Ada ruangan ber-AC. Ada kursi lengkap dengan meja. Ada kursi “bermeja”. Namun, ada pula kursi tanpa meja. Adilkah?

Maaf, saya harus mengatakan dengan jujur: tidak hanya soal yang cacat, persiapan dan pelaksaan SBMPTN tahun ini pun benar-benar cacat. Masa setelah ujian berlangsung, maka Menristekdikti, misalnya, mengimbau agar jangan ada soal yang dikosongkan? Lalu, Niko dkk malah disuruh harus mengosongkan 13 butir? Ini acara apaan?

Hanya tiga kata: menyedihkan dan memalukan. Bayangkan, untuk sebuah persitiwa akbar pelacakan dan pencarian kaum intelektual yang dilakukan para intelektual, eh, justru dilakukan tanpa nilai-nila intelektual pula. Ini acara apaan, sih?

Baca Juga Ulasan Lainnya: Kejujuran dalam UN

Baca Juga Ulasan Lainnya: Kampus, Arena Pembusukan Bangsa

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar