Mengapa Kamu Harus Bangga pada Sumut?

oleh Riduan Situmorang pada 27 Desember 2019 (101 kali dibaca)

Sebagai warga Sumut, hampir tak ada alasan bagi saya untuk tak bangga pada Sumut. Saya suka menulis. Dari dulu. Dan, meski kebanyakan hanya dari dunia maya, teman-teman penulis dari luar Sumut rata-rata kagum pada Sumut. Banyak hal yang mereka kagumi. Dari segi literasi, misalnya, mereka kagum bahwa Sumut adalah muasal kesustraan Indonesia. Mereka tak salah. Benar-benar tak salah. Azab dan Sengsara, misalnya, adalah hasil seorang putra Sumut.

Mau zaman yang lebih maju? Siapa yang tak kenal Chairil Anwar? Kalau harus dideretkan, Sumut telah melahirkan banyak penulis andal. Ada Sitor, ada Simatupang bersaudara, ada STA, dan sebagainya, dan sebagainya. Sayang, untuk kontemporer ini, Sumut seperti sedang mati suri.

Mari masuk ke ranah lain: wisata. Hanya karena kurang perhatianlah mengapa Sumut kalah dari Bali. Danau Toba, misalnya. Danau ini adalah danau terbesar di Asia Tenggara. Kesejukan danau ini tak bisa diragukan lagi. Jadi, tak mengherankan jika pemerintah membuat mimpi yang hebat untuk Danau Toba: Monaco of Asia. Cermati sekali lagi: Monaco. Lebih dari sekadar Bali, lho. Dan, jangan salah, di Danau Toba, kita tak hanya menjual kebersihan air, kemolekan gunung, kesejukan hutan.

Di sekitar danau ini, di berbagai tepiannya, kita akan menemukan spot-spot hebat, mulai dari sungai, air terjun, hingga pantai, bahkan kekayaan budaya. Cobalah memandang danau dari sekitar Huta Ginjang atau Sipinsur di Humbang, Anda akan serasa melihat hamparan langit yang tercurah di atas air. Cobalah sesekali pergi memanjakan tubuh dengan air yang konon jauh lebih sehat dan segar dari air kemasan mana pun di negeri ini: Aik Sitio-Tio. Tempat ini ada di tepian danau di Bakara. Anda bisa berendam sambil minum air saking bersihnya.

Jika tubuh Anda pegal, niscaya selepas bermanja-manja di air itu, Anda akan kembali fit. Mau air terjun? Di tepian Danau Toba banyak. Di Bakara saja ada 3 spot air terjun. Anda jangan mengira bahwa satu-satunya air terjun di sekitar danau ada di Sipiso-piso yang ada di Tongging. Danau Toba hampir seluruhnya dikelilingi air terjun. Dan, bicara air terjun, pergilah ke Langkat. Di sana ada sungai molek yang sejuk beserta air terjunnya. Intinya, teramat banyak.

Bosan bahwa Danau Toba hanya cerita air atau gunung? Sesekali pergilah ke situs-situs sejarah. Banyak, lho. Jangan Anda pikir bahwa puncak wisata budaya hanya ada dari akar hingga puncak gunung Pusuk Buhit. Ramai sekali wisata budaya dan sejarah di sekitar Danau Toba. Ada Huta Siallagan, misalnya. Kuliner di sekitar danau? Jangan ragukan juga. Dan, andai mimpi Monaco of Asia direalisasikan, akan terjadi keajaiban nyata di Danau Toba. Danau Toba akan menjadi wisata alam, tradisional, kultural, modern secara sekaligus. Danau Toba amat potensial mengalahkan Dubai.

Dan, aduhai, Sumut, apalagi kalau bicara wisata tak hanya Danau Toba. Nias adalah pantai nan indah. Nias menjanjikan dan menyuguhkan banyak tawaran mewah. Pantainya menawan, airnya biru, dan masih banyak lagi. Tak berlebihan, apalagi jika dikelola dengan baik, Nias bisa menandingi, bahkan mengalahkan Bali. Acara “Sail Nias” pada September kemarin menunjukkan hal itu semua. Sekali lagi, di Sumut itu melimpah daerah wisata. Di Berastagi, Anda bisa merasakan bagaimana kita seakan hidup di antara awan-awan sembari memetik buah-buahan segar.

Sudahlah, mari kita tinggalkan cerita wisata. Pada intinya, ibarat kisah, Sumut tak terbantahkan lagi adalah cerita puncak wisata, baik tentang tradisi, mitologi, sejarah, dan semacam lainnya. Sekarang, mari masuk ke ranah manusianya. Ada sebuah kisah bahwa konon Sumut adalah miniatur Indonesia. Karena itu, konon, Medan sempat digadang-gadang menjadi calon ibu kota negara. Mengapa? Datanglah ke Sumut. Semua Indonesia ada di Sumut. Ada Batak, ada Jawa, ada Melayu, ada Nias, ada Tionghoa, dan sebagainya. Ada Kristen, ada Katolik, ada Islam, ada Hindu, Budha, juga Konghucu.

Dan, kesemua manusia dari beragam latar belakang itu hidup berdampingan. Bahkan, dua kali berturut-turut, Kota Pematang Siantar masuk sebagai kota paling toleran di Indonesia. Hampir tak ada riak-riak kebencian dari Sumut. Ini mengindikasikan bahwa kehidupan manusia di Sumut sangat toleran. Dan, andai saja dibuat monumen pluraslime di Sumut, itu akan semakin menegaskan posisi Sumut yang semakin mengindonesia. Jadi, jika ingin tahu bagaimana nenek moyang kita yang tak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi juga lebih dalam dan tegas, yaitu keserasian, berkunjunglah ke bumi Sumut.

Pada akhirnya, saya hendak mau mengatakan bahwa Sumut itu adalah sebuah cerita yang tak pernah selesai dengan sebatas kata-kata. Sumut adalah segala cerita. Sekali lagi, segalanya. Wisata, misalnya, seperti yang sudah saya tuturkan di muka. Namun, jangan puas memahami Sumut dengan sebatas membaca tulisan ini. Anda tak akan pernah tuntas membacanya jika tak pernah mengunjunginya sendiri. Maka itu, berkunjunglah ke Sumut. Jangan ragu, apalagi bimbang karena Sumut adalah masa depan Indonesia.

Sederhana saja, jika Sumut adalah juga masa lalu sebagaimana dikisahkan dalam berbagai literatur oleh para penyair lawas kita, Sumut juga lebih-lebih adalah masa depan bangsa ini. Maka itu, nanti-nantikanlah dengan penuh harap cerita Sumut setelah Danau Toba jadi Monaco of Asia atau Nias menjadi Bali baru. Jika saat itu tiba, maka tiada lagi alasan bagimu untuk tidak datang ke Sumut. Ayo, berkunjunglah ke tempat kebanggaan kita ini. Tunggu apa lagi.

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar