Memimpi Langit

oleh Jeremia pada 23 September 2017 (503 kali dibaca)

https://id.wikipedia.org/wiki/Langit

 

Bermimpilah selagi langit masih sanggup menampung mimpimu. Kata-kata itulah yang selalu membuatku semangat bermimpi. Sering orang sekitar mengatakan hal tersebut. Suatu ketika, aku menanyakan kepada guru, tentang kenapa harus bermimpi setinggi langit? Bukankah kita bisa bermimpi setinggi pohon kecambah? Untuk apa memanjat langit kalau bisa memanjat kecambah, bahkan menginjak kecambah itu? Ah, mimpi hanyalah mimpi. Selalu muluk-muluk.

Namun, itu dulu. Kini aku sadar, langit itu sangat tinggi. Langit itu menyimpan banyak rahasia, menyimpan banyak bintang. Sementara kecambah? Hanya bisa tumbuh lalu mati. Siklusnya begitu belaka: monotn. Jadi wajar dong kalau orang-orang mengatakan bermimpi setinggi langit, bukan setinggi  kecambah.

Tapi, jangan kau salahkan aku. Saat itu aku masih bocah. Umurku masih menginjak 6 tahun. Aku masih polos. Mimpiku sederhana, aku tertawa maka aku senang. Aku bahkan tak tahu apa itu kecambah, apa itu langit. Bagiku dulu, kecambah jauh lebih tinggi daripada langit. Bodoh bukan? Tapi, bodoh dulu belum tentu bodoh sekarang. Pintar dulu belum tentu pintar sekarang. Roda selalu berputar dan langit selalu berubah.

Memang, dulu aku tak tahu apa itu kecambah. Hingga suatu ketika, ibu berkata, “Nak, kecambah itu bukan pohon. Kecambah itu tunas yang lemah! Bermimpilah setinggi langit. Di langit, ada rahasia yang akan mengantarmu.”  Dengan polos aku bertanya, “Bisakah aku berjumpa dengan Tuhan?” Kuingat hari itu, ibu hanya tersenyum. Senyum yang menyejukkan.

 

Baca Catatan Siswa Lainnya: Perahu tak Berlayar

 

Oh, iya, perkenalkan, namaku Lusia. Usiaku kini sudah mencapai 13 tahun. Kini aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Asal kau tahu, aku adalah seorang bocah pedesaan yang tak pernah putus bermimpi. Mau jadi pengusaha, mau jadi aktor, mau jadi insinyur, atau juga guru. Kali ini, mimpiku ingin menjadi dokter. Apa? Anak pedesaan menjadi dokter? Mungkin kau bertanya begitu. Tetapi, apa guna pertanyaanmu kalau hanya untuk mengolok-olokku. Olok-olokmu tak penting karena aku punya sebuah bekal. Namanya ilmu.

Maka, jika kau lihat pagi ini aku ke tempat ini, jangan heran. Aku hanya sedang menggali ilmu. Menelusuri jalan setapak, meski seperti kau tahu, di kiri dan kanannya ada jurang yang dalam. Jalannya juga curam: naik turun. Tapi demi mimpi, aku melawan itu semua. Aku mesti berkeringat untuk sampai  di perpustakaan desaku.

Dengan semangat, buku itu kubaca, kupilah, kulahap baik-baik. Maklum, di desaku buku sangat minim. Tak banyak buku. Perpustakaan ini pun sudah sangat usang. Tapi, aku sadar, ini semua harus dimanfaatkan. Sejam, dua jam, tiga jam, tak terasa aku sudah mengasyiki buku demi buku. Hingga suatu saat, aku dikejutkan dengan suara yang tiba-tiba menghampiriku. “Mau jadi dokter ya?” tanya orang tersebut sambil melemparkan seulas senyuman indahnya.

Aku pun menganggukkan kepalaku. Sepertinya dari tadi ia nampak memperhatikanku dari sudut dinding.  ” Kenapa mau jadi Dokter? Masuk ke universitas nya aja susah!”, dia seperti mengujiku.

“Jangan lihat susahnya. Lihat peluangnya. Lihat langit itu. Selama  bisa melihat langit, selama itu kamu hanya perlu berlatih untuk terbang. Biar kau tahu, menjadi dokter itu keren dan mulia. Kita bisa menyembuhkan  dan membantu banyak orang” aku menjawab pertanyaannya dengan panjang.

“Kamu tahu aku siapa?”

“Gak tahu kak” Jawabku dengan nada penasaran.

Lalu ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kertas kecil, dan menyodorkannya kepadaku. Aku membaca kertas itu. Seketika senyumku langsung mengembang bagaikan bunga yang lalu disiram air langsung mekar kembali. “Waah kakak dokter yah?” Ucapku dengan semangat. Dia pun tersenyum dan mengangguk kepalanya. “Kalau besar nanti aku pasti bisa seperti kakak” Jawabku sambil melihat keatas seolah-olah ada bayanganku ketika besar nanti.

“Teruslah bermimpi dan belajar karena kakak kecil dulu sama sepertimu. Kakak selalu bermimpi bisa jadi dokter tapi kakak sadar kalau bermimpi saja tidak cukup jika tanpa tindakan. Kakak menghabiskan waktu hanya untuk membaca dan terus membaca. Kakak juga sering bertanya kepada guru tentang IPA. Berkat usaha kakak selalu diiringi doa dari kedua orangtua kakak, kakak bisa seperti sekarang,” jawabnya dengan ucapan yang sangat panjang.

Aku hanya bisa tersenyum bahagia saat mendengar ucapannya. Ucapan ini bagaikan penyelamat dan penyemangatku. “Baiklah kak, aku yakin suatu suat nanti, kita pasti bertemu kembali. Bertemu dengan profesional. Aku dan kakak sebagai dokter. Kita lalu menyembuhkan banyak orang,” tuturku sambil berdiri dan tersenyum manis.

 

Baca Catatan Siswa Lainnya: Cinta dalam Diam

 

@@@

Waktu cepat berlalu. Aku yang dulunya masih cen-cen sekarang telah dewasa. Desaku yang dulu kumuh, kini menjadi sebuah kota kecil yang asri. Perpustakaan yang dulu tempat mencari ilmu sekarang tambah besar, bagus, dan lengkap. Sekarang aku  duduk di perpustakaan ini. Kali ini, meski memilah buku, aku sebenarnya tak berniat untuk membaca. Akuu hanya ingin mengingat betapa perpustakaan ini telah menyelamatkanku. Di perpustakaan ini, aku mengukir kenangan indah. Di perpustakaan ini, aku mengerti betapa langit yang ditatap bisa dipanjat asal kita sigap membangun sayap.

“Hei, ngapain kamu,” aku memanggil seseorang. Seseorang itu terperajnjat. Wajahnya kumal, pakainnya usang. Dia pasti orang miskin, bahkan sangat miskin. “Untuk apa ke sini?”, tanyaku pelan setengah menggertak.  Seseorang itu diam. Dia ketakutan. “Kamu mau mencuri, ya?” tanyaku semakin pelan, tetapi semakin tegas.

“Aku hanya mencuri ilmu. Buku ini akan kukembalikan. Aku datang ke sini karena orangtuaku tak punya uang beli buku,” jawabnya agak takut. Aku sangat takjub melihat anak itu. Aku tahu, dia pasti orang yang sangat miskin. “Untuk apa kamu membaca buku,” tanyaku dengan lembut. “Aku ingin menjadi dokter, Kak!”

Aku memberikan kartu namaku. Di kartu namaku itu, tak lupa aku menuliskan sebuah kalimat, “Belajarlah baik-baik. Jika kamu mau, jangan sungkan, hubungi aku, aku pasti membantumu meraih mimpimu. Langit yang terlihat pasti bisa dipanjat.”

Anak itu gugup. “Siapa namamu?” tanyaku. “Andre,” jawabnya dengan pelan. “Simpan kartu namaku itu dan jangan sungkan,” kataku dengan semangat. Aku meninggalkan anak itu. Dia masih sibuk membaca. Sibuk sekali. Aku kagum, anak semiskin itu masih mengerti apa itu langit.

Aku pun pulang. Teringat pada seorang kakak yang dulu menyapaku di perpustakaan ini. Kelak, aku menunggu, Andre menjadi dokter. Aku berutang pada Kakak itu lalu akan kulunasi pada Andre. Suatu saat, Andre akan melunasinya pada orang lain. Mimpi harus diraih. Langit tinggi selalu bisa dipanjat. Sebelum pergi, aku menitipkan sebpucuk surat penjaga perpustakaan untuk diberikan pada Andre. Isinya pasti kau tahu. Ini tentang langit-langit yang tinggi itu. Andre, aku menunggumu terbang!

 

Baca Catatan Siswa Lainnya: Penikmat Senja

Info Penulis

Pengurus OSIS di SMA Budi Murni 3, sebagai kordinator IPTEK dan Olimpiade

Bagikan:


Komentar