Makna Ulos bagi Orang Batak

oleh Riduan Situmorang pada 19 April 2018 (713 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Kompas.com

 

Tanggal 17 Oktober diperingati menjadi hari Ulos. Terkait itu, sebagai wujud penghormatan, izinkan saya memaparkan sekilas tentang ulos pada kolom ini. Ulos adalah salah satu benda bersahala yang dimiliki oleh orang Batak, khususnya Batak Toba. Ulos sekaligus menjadi simbol Batak Toba selain tungkot tunggal panaluan, gorga, sigale-gale, serts sederet benda-benda pusaka lainnya. Ada pula benda nonmateril seperti tortor dan umpasa, berikut filosofi catursila dan dalihan na tolu.

Tragisnya, tortor pernah dan sedang diklaim Malaysia sebagai kebudayaan mereka. Entah apa lagi yang akan mereka klaim. Saya khawatir, jangan-jangan mereka juga akan mengklaim ihan batak sebagai ikan Malaysia juga? Mari, lupakan saja! Mari kita bahas masalah ulos. Ulos pada Batak posisinya begitu sentral. Ulos menjadi strategis karena dapat dipastikan ulaon, dalam hal ini pesta, tidak akan bermarwah tanpa kehadiran ulos.

Beda dengan gondang. Ulaon tanpa gondang yang walaupun pada hakikatnya tidak dapat digantikan dengan musik modern seperti keyboard, setidaknya masih bisa ditangguhkan. Bahkan jika mendesak, ulaon tertentu pun boleh tidak dibarengi dengan gondang. Begitupun harus ditegaskan, mengganti musik gondang sebenarnya bukan sebuah kebenaran, itu keterpaksaan.

Mempunyai Peranan yang Sama

Beda halnya dengan ulos. Kita tak bisa menggantinya dengan selendang atau mandar. Selain merupakan kesalahan besar, itu juga merupakan perbuatan biadab. Artinya, mengganti fungsi ulos sampai saat ini tidak bisa ditoleransi oleh apa dan siapa pun. Fungsi dan kedudukan ulos itu sangat sentral dan strategis, terutama bagi Batak Toba.

Baca Ulasan Tentang Batak Lainnya: Karena Jokowi, Mandailing Bukan Batak(?)

Kita mungkin sudah tahu dan mudah-mudahan benar-benar tahu, raksa ulos itu sangat beragam. Artinya, ulos itu tidak bersifat joker. Selalu ada fungsi khasnya. Misalnya, ulos mangiring atau ulos parompa hanya digunakan apabila maksud kita adalah agar orang yang kita berikan ulos itu beroleh keturunan. Jika tidak, beroleh tinododhon anak dan boru. Jadi, kalau maksud kita untuk memohonkan berkat kepada penerima ulos agar mendapatkan keturunan, tidak mungkin sekali memberikan ulos bolean.

Ulos bolean diberikan bagi mereka yang kemalangan. Dengan kata lain, ulos itu tidak sembarangan dan selalu mempunyai peranan khusus. Hal itu dapat diartikan, orang Batak Toba pada saat yang sama tidak boleh menjadi raja, dongan tubu, dan boru. Yang lebih tegasnya, otoriter menjadi hal yang tidak dibenarkan dalam Batak Toba. Singkatnya, dalam Batak Toba tidak ada joker. Orang Batak bisa saja multitalenta, tapi hal itu tidak  mengisyaratkan bahwa orang Batak Toba menjadi otoriter dalam setiap pesta.

Mungkin kita pun sudah tahu, filosofi ulos itu berkaitan erat dengan karakteristik Batak.  Secara tersirat, keinginan orang Batak Toba itu juga terpatri dalam simbol ulos karena ulos itu bukan sekadar benda sakral dan bersahala saja. Ulos itu menjadi cerminan perilaku nenek moyang orang Batak Toba dulu. Orang Batak Toba yang umumnya tinggal di daerah pegunungan seakan mengharuskan mereka untuk mencari kehangatan.

Hal itu tidak berlebihan karena daerah pegunungan biasanya begitu dingin. Kehangatan itulah yang mereka cari sebenarnya dari ulos. Secara garis besar—menurut ompu si jolo-jolo tubu—unsur pendukung kehidupan manusia itu terdiri atas tiga unsur, yaitu mudar (darah), hosa (napas), dan halason (kehangatan). Masalah darah dan napas itu menjadi hak mutlak Tuhan. Manusia hanya perlu menjaga supaya darah dan napas itu tetap terawat.

Menurut ompu si jolo-jolo tubu, cara yang paling efektif untuk menjaga kesehatan itu adalah dengan menjaga kehangatan tubuh. Uniknya, sumber kehangatan itu dulu adalah hanya dari tiga sumber saja, yaitu matahari, perapian, dan selimut. Akan halnya matahari tidak terlalu perlu diperhatikan karena matahari itu selalu timbul dan tenggelam pada waktu yang tetap. Masalahnya lagi, matahari tidak ada pada malam hari, padahal pada malam harilah sebenarnya tubuh benar-benar membutuhkan kehangatan.

Lain lagi dengan perapian. Perapian yang menjadi tempat untuk marsisulu tidak terlalu praktis. Bukan saja karena kita lelah mencari kayu bakar, melainkan juga karena perapian itu harus selalu dijaga. kalau tidak, apinya bisa saja padam atau malah makin membesar. Jadi, perapian tidak praktis untuk menghangatkan tubuh.

Jagalah Kebudayaan

Yang praktis adalah selimut atau dalam bahasa Batak Tobanya disebut gobar atau ulos. Hanya saja, makna gobar secara semantis bergerak stagnan. Lain halnya dengan ulos, kalau perubahan semantis gobar terkesan stagnan, ulos malah masuk pada panggung amelioratif. Ulos tidak lagi sekadar menghangatkan tubuh, tetapi juga menghangatkan jiwa si pemakai ulos.

Baca Ulasan Tentang Batak Lainnya: Bukan Batak Bisa Masuk Batak

Dengan begitu, cakupan makna ulos menjadi lebih luas, amelioratif, dan sakral. Selain praktis, ukuran kehangatannya juga dapat kita kontrol dengan baik. Kalau kita sudah kepanasan, kita bisa menyimpan ulos itu. Kalau kedinginan, kita juga bisa mengambil ulos itu kembali. Tidak seperti matahari dan perapian tadi yang rumit.

Bagi orang Batak, kehangatan itu sangat penting. Lihat saja bahasanya. Kalau dalam bahasa Indonesia, ungkapan kegembiraan adalah gembira, ria, senang, bahagia, tetapi dalam bahasa batak Toba, arti senang dan gembira itu adalah las ni roha. Arti Las ni roha kata per kata adalah hangatnya hati. Dalam bahasa Inggris beda lagi, disebut joyfull. Cermatilah, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris tidak menyentuh kata hangat atau las. Itu artinya, kehangatan menjadi unsur penting dalam Batak Toba. Arti turunannya, ulos merupakan hal yang sangat sentral karena di sana tersimpan benih-benih kehangatan.

Mungkin, itulah alasan mengapa orang Batak selalu hangat dan akrab dalam setiap perbincangan. Mereka selalu berbicara dengan dialek keras, tetapi makna yang kita tangkap sebenarnya sangat bersahabat. Lihat, mereka selalu ceria dalam guyonan dan nyanyian di kedai-kedai tuak. Mungkin benar pula pameo yang mengatakan, apabila ingin menghibur diri dan memecahkan masalah, pergilah ke kedai tuak.

Saya menduga maknanya bukan karena dengan minum tuak kita akan bahagia, melainkan dengan hanyut dalam keakraban dan kehangatan pembicaraan di kedai tuak, kita akan semakin senang dan gembira dalam las ni roha. Saya yakin pula, kehangatan Batak Toba akan selalu terpatri di balik ulos. Untuk itu, mulai saat ini, mari menghormati budaya kita sebagai sumber kehangatan, baik bagi tubuh maupun jiwa kita. Mari kita menjaga segala silsilah sebagai amanah karena bagaimanapun, silsilah juga merupakan produk budaya.

Sebelum kita akhiri, mari kita kutip produk budaya Batak Toba melalui umpasa berikut, Sinuan bulu mambahen las, sinuan partuturan sibaen horas. Horas bagi kita pencinta kehangatan budaya!

*Tulisan ini sudah terbit di koran Analisa Edisi 9 April 2017

Baca Ulasan Tentang Batak Lainnya: Batak itu Yahudi(?)

Baca Ulasan Tentang Batak Lainnya: Kalau Bukan Batak, Yang Dipertanyakan Pasti Si Raja Batak

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar