Ketika Manusia Menjadi Tuhan Sekaligus Iblis

oleh Riduan Situmorang pada 5 Oktober 2017 (1710 kali dibaca)

Ilustrasi dari http://pesankasihdarisurga.blogspot.co.id

 

Anugerah terbesar dari Tuhan adalah kebebasan. Meski lautan nyenyak, sungai lembut, hutan nyaman, gunung menjulang, jika tanpa kebebasan, segalanya itu adalah kutuk. Bukankah hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita melihat kemewahan, tetapi tak bisa menjamahnya? Itu ibarat cinta seorang remaja ingusan ditolak mentah-mentah. Dia akan menderita semati-matinya. Tak jarang malah ada yang bunuh diri. Mengapa? Itulah kebebasan. Kita mencintai ibarat harus memiliki. Kita membenci ibarat harus mengusir. Pokoknya, kita bebas untuk berbuat apa saja, termasuk mencelakai diri, atas nama kebebasan.

Kebebasan itulah yang menjadi hak milik kita selekas Tuhan mencipta Adam dari debu tanah. Pada masa itu, dunia adalah firdaus, dunia adalah kebebasan itu sendiri, sejauh mana kaki melangkah, sejauh itulah kita. Segalanya ada. Fakta ini begitu menyenangkan. Tetapi sejatinya ini hanya tampak luar. Jauh di balik bahwa kenyataan semua ada, ternyara ada fakta yang sangat buruk. Betapa tidak, segalanya ada ternyata bukan menjadi jaminan untuk sebuah kebahagiaan. Sebab, bahagia bukan dilihat dari semua ada. Bahagia punya ukuran yang berbeda-beda. Ada satu pertanyaan untuk beragam jawaban yang sama-sama benar. Bagaimana menjelaskannya?

Itu ibarat kata-kata religius ini: Tuhan ada di mana-mana. Tampak sekali dari kata itu Tuhan dicitrakan sebagai sosok yang berkuasa dan perkasa. Tetapi, menempatkan Tuhan ada di mana-mana ternyata bukan bukti kekuatan, apalagi kebahagiaan. Itu justru bukti kelemahan Tuhan itu sendiri. Kenyataan itu, yaitu berada di mana-mana, membuat Tuhan terdesak hampir di mana-mana dan kemana-mana. Persis seperti kata filsuf asal Spanyol (Andalusia), Ibn Rusyd ini. Baik, saya ambil saja saripatinya: bahwa mengimani Tuhan ada di mana-mana justru menempatkan bahwa Tuhan itu takluk pada tempat di mana-mana (locus).

Bukan Pencipta

Tuhan ada di Indonesia, karena itu Dia takluk pada Indonesia secara locus. Tuhan ada di dalam gereja, karena itu Tuhan terkurung di gereja, Tuhan ada di hutan, karena itu Dia diikat di pohon-pohon di hutan. Tuhan ada di udara sehingga Dia takluk pada hujan dan angin. Tuhan menjadi milik locus, bukan Tuhan memiliki locus. Ajaibnya, sampai sekarang, kita masih mengatakan bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Kemana Dia suka selama di situ ada locus, ke situ Tuhan mampu. Tuhan menjadi pengembara serba bisa (atau penjarah?).

 

Baca Esai Lainnya: Siapakah Tuhan?

 

Ya, sadar atau tidak, kita telah membuat Tuhan menjadi pengembara dan penjajah, bukan pencipta. Dia ada di mana-mana seakan-akan orang yang tersesat, seakan tanpa tujuan. Kita membuat Tuhan takluk pada ruang. Bagaimana tidak? Mengatakan Tuhan ada di mana-mana secara tak langsung membuat diktum bahwa segala ruang mengikat Tuhan. Tuhan terpenjara dalam ruang. “Tuhan ada di mana-mana” tentu berbeda dengan frasa “di dalam Tuhan terselip segala ruang”. Ini beda sekali. Frasa pertama Tuhan menjadi barang milik, sementara pada frasa kedua, Tuhan menjadi Maha Memiliki.

Tetapi, entah kenapa, kita masih dengan kokoh tetap menyebut: Tuhan ada di mana-mana. Buktinya, kalau kita mencuri, agar tak tertangkap, kita berdoa dengan satu kata kunci: Tuhan ada di mana-mana. Ketika berhubungan badan agar si perempuan tak hamil, kita berseru: Tuhan ada di mana-mana. Dengan begitu, Tuhan ada di neraka sekaligus di surga. Dia menjadi satpam yang selalu harus siap dan sigap. Dia menjadi panglima. Dia juga menjadi budak untuk diperintah agar kita tak celaka di mana pun kita berada.

Kita tak berhenti. Kita semakin latah lagi menyebut: Tuhanlah segalanya. Kita mencuri dan kita tertangkap, kita berujar, Tuhan adalah segalanya. Kita membuat Tuhan sebagai Panglima yang siap di sisi kita, apa pun tindakan kita. Kiranya, inilah penjelasan tentang fenomena kontemporer di mana kita acap berkelahi atas nama Tuhan. Tuhan diplot menjadi benda yang diperebutkan. Kita berkelahi di bumi seakan Tuhan kesusahan membuat kerajaan-Nya sehingga Tuhan butuh pertolongan kita. Yang lebih gila, tanpa sadar, kita berkelahi di bumi. Pikirkan sekali lagi: di bumi!

Oh, Saudaraku, alam ini teramat luas. Sebaliknya, bumi ini teramat sempit. Tetapi, anehnya, kita bertengkar atas nama Tuhan seakan Tuhan hanya bisa hidup di Bumi dan tak bisa hidup di Mars, di Pluto, di Jupiter, apalagi di galaksi lain. Kita membuat Tuhan menjadi manusia yang hanya bisa hidup di tempat dengan oksigen yang memadai, suhu yang normal. Apakah Tuhan selemah itu? Apakah Tuhan tergusur dari galaksi lain, atau dari surga, sehingga Dia butuh senjata kita untuk berperang bersama-Nya? Begitukah Tuhan?

Entahlah. Abu Nawas ternyata benar bahwa Tuhan telah menjadi barang dagangan. Manusia menjadi pedagang. Manusia menjadi pembeli. Tuhan diobral dan selalu laris manis, apalagi kalau diramu bersama politik. Konon, Abu Nawas, sang penyair keturunan Arab-Persia, menyebut bahwa di dalam topinya ada surga berikut bidadarinya. Orang-orang terkesima bercampur dungu. Tak melihat, tetapi berteriak tegas: wahai teman-teman, Tuhan ada dalam topi Abu Nawas. Hingga kemudian, ada seorang yang tak melihat apa-apa, kecuali topi. Seseorang itu lalu melaporkan Abu Nawas kepada Sang Raja.

Sama Saja

Sang Raja bertanya, “Abu Nawas, apakah kamu bilang bahwa di balik topimu ada surga dan bidadari?” Abu Nawas menjawab, “Hanya orang beriman dan saleh yang dapat melihatnya”. Sang Raja lalu melihat topi Abu Nawas. Sang Raja sebenarnya tak melihat apa-apa. Benar-benar tak melihat apa-apa. Tetapi, pada akhirnya, Sang Raja mengaku telah melihat surga dan bidadari. Inilah dilema kita: takluk pada kebodohan hanya karena keserakahan. Sang Raja kehilangan nalarnya karena kerakusannya: menyebut tak melihat apa-apa, maka Sang Raja menjadi sang terkutuk, bisa-bisa dirajam dan lengser dari jabatan.

 

Baca Esai Lainnya: Senjata dan Puisi yang Tergusur

 

Kebodohan akhirnya bertumpahan dengan murah. Bukan pada raja saja, tetapi bagi semua orang. Mereka berteriak: di balik topi ada surga. Lalu, kembali kata-kata magis itu berteriak: Tuhan ada di mana-mana, termasuk di topi Abu Nawas. Inilah yang terjadi pada kita. Ada sebuah kekuatan yang memperjuangkan Tuhan. Lalu, ada rakyat yang ikut-ikutan berjuang. Mereka mengaku melihat Tuhan telah terhina. Karena itu, si penghina harus ditumbangkan. Pikirkanlah (tentu tanpa kerakusan), lebih hina siapa: si penghina atau si yang terhina? Mungkinkah Tuhan terhina dengan segala keagungan-Nya? Siapa sebenarnya yang menghina?

Entahlah. Mungkin, kebodohan telah menembus pangkal kepalaku. Kebodohan yang tak mampu membuatku terkagum-kagum pada Titus Lucretius Carus (99-55 SM) dengan nasihatnya: seluruh hidup merupakan perjuangan dalam kegelapan. Akhirnya, kegelapan itu melingkupiku. Kegelapan yang membuatku gagal membuat tafsir atas sebuah perisitwa. Kegelapan yang membuatku tersesat sehingga fakta menjadi isu dan isu menjadi fakta. Kegelapan yang membawaku gila bersama Nietzsche, bahwa fakta memang tak pernah ada, kecuali tafsir.

Lalu karena itu, aku gagal mendapatkan tafsir di balik penggalan puisi orang Sumeria—sebuah bangsa yang hidup pada 3000 SM di bagian selatan Mesopotamia—: singa tidak membunuh/ serigala tidak merenggut domba/. Gagalnya adalah karena tafsirku benar-benar menipu kenyataan. Bukan singa dan bukan serigala, tetapi manusiala yang mendadak berubah menjadi iblis sekaligus menjadi Tuhan. Manusia membunuh dengan caranya yang sadis sekaligus romantis. Mati sadis dan romantis memang agak berbeda. Tetapi, sesunggunya tidak, sebab mau kita mati perlahan, atau mati tiba-tiba, itu sama saja karena mati tetaplah mati!

Atau, jangan-jangan mati hanyalah sebatas tafsir?

 

Baca Esai Lainnya: Generasi Sofa Kentang

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar