Kembali Mengingat Tuhan

oleh Firman Situmeang pada 16 September 2018 (291 kali dibaca)

Sumber : myfitriblog.wordpress.com

 

Tuhan itu ada dimana-mana, Dia melihat dan maha mengetahui semua yang dilakukan oleh ciptaan-Nya, ibarat mata-mata. Demikianlah manusia menggambarkan keberadaan Sang Pencipta. Dengan penggambaran yang demikian maka sudah selayaknya manusia melakukan segala hal yang baik dan menjadikan perintah Tuhan sebagai standar kehidupan.

Namun yang terjadi bak jauh panggang dari api. Ke-Mahatahuan Tuhan mulai dijadikan omong-kosong oleh manusia. Tuhan yang Maha Tahu itu kini mulai diperlakukan bak seorang tunanetra dan hanya ada di rumah ibadah. Lihatlah bagaimana manusia berusaha menipu, membodohi, dan membohongi Tuhan dengan berbagai adegan kemunafikan.

Dengan uang haramnya, banyak masyarakat yang bersedekah ke sana kemari. Untuk menjaga agar kebusukannya tidak tercium, mereka pun begitu rajin beribadah. Mereka tahu betul bahwa masyarakat hari ini begitu mudah ditipu pandangannya. Bersedekah sedikit langsung dipuji setinggi langit, rajin beribadah langsung di cap sebagai orang benar. Mereka pikir Tuhan bisa disuap layaknya manusia.

Lihatlah pula pejabat kita hari ini, diawal jabatannya mereka bersumpah atas nama Tuhan untuk menjalankan tugasnya secara baik. Namun fakta membuktikan sudah begitu banyak pejabat kita yang menjadi pelaku korupsi. Berengseknya lagi, ketika sudah tertangkap basah melakukan korupsi, mereka masih saja menyangkal dengan berbagai dalih, bahkan ada yang membawa-bawa nama Tuhan untuk membenarkan diri sembari mengenakan atribut-atribut keagamaan untuk menuai simpati.

Saya jadi teringat dengan pemikiran Pemilkir Jerman, Nietzsche, yang hingga kini membuat para orang-orang yang mengaku ber-Tuhan sempoyongan. Beliau berkata bahwa “Tuhan telah mati, dan kitalah yang membunuhnya”. Kalau kita berkaca pada realitas hari ini maka “Kematian Tuhan”  tersebut mulai menjadi kenyataan. Tentu saja mati yang dimaksud disini bukanlah kematian Tuhan secara fisik. Namun lebih kepada keberadaan Tuhan dan ajarannya tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tindakan kita tidak lagi berdasarkan ajaran Sang Pencipta.

Tuhan mengajarkan manusia untuk berbuat jujur namun di depan mata Tuhan, manusia malah mencuri, korupsi. Tuhan mengajarkan manusia untuk berbuat adil, namun manusia hari ini malah meng-anakemaskan penjahat berdasi, dan mengeroyok sampai mati para maling jalanan. Tuhan mengajarkan manusia untuk mengasihi, namun banyak manusia malah saling menghujat dan saling membenci satu sama lain. Tuhan mengajarkan manusia untuk bekerja keras, namun ketika kemiskinan menimpa, banyak manusia yang malah berucap “sudah takdir”.

Kalau sudah begini masihkah kita layak disebut sebagai umat Tuhan ?

Baca Juga : Simulakra Politik

Komodifikasi Tuhan

Dewasa ini Tuhan sedang mengalami komodifikasi. Komodifikasi diartikan sebagai proses menjual apa yang sekiranya dapat dijual bukan menjual apa yang seharusnya dijual. Menurut Sosiolog Karl Marx, semua hal yang ada, termasuk Tuhan bisa menjadi komoditas. Tuhan yang seyogyanya merupakan subjek yang mengontrol kehidupan dan prilaku manusia, hari ini telah banyak dijadikan objek dan menjadi alat untuk memenuhi kepentingan individu atau kelompok. Sang Pencipta hari ini tak lebih seperti barang, bisa dipertukarkan, diperjualbelikan.

Misalnya untuk menutupi kebohongannya, banyak orang yang bersumpah atas nama Tuhan. Untuk diakui sebagai orang suci dan mendapatkan banyak pengikut, ada orang yang mengaku pernah bertemu dengan Tuhan, dan mendapat perintah untuk membuat sekte/agama baru. Guna membenarkan aksi kriminalnya, seseorang sering mengatasnamakan Tuhan dan ajarannya. Demi mendapatkan simpati dari rakyat, ada tokoh yang hendak maju pada Pilkada mengaku-ngaku telah mendapat bisikan dari Tuhan. Bahkan untuk mendapatkan kekayaan, ada orang yang memperjualbelikan ayat-ayat suci. Cekalanya, komodifikasi Tuhan tersebut justru laku keras di pasaran dan dikonsumsi mentah-mentah oleh masyarakat

*******

Melihat realitas ber-Tuhan hari ini yang ditunjukkan oleh masyarakat, maka upaya untuk mendudukkan Tuhan kembali harus dilakukan. Tuhan harus kita kembalikan eksistensinya sebagai pedoman hidup, dan solusi untuk segala persoalan kita. Namun perlu ditekankan bahwa Tuhan bukanlah candu yang membuat kita pasrah ketika kita berada dalam kesusahan. Kata-kata seperti takdir, nasib, dan lainnya saya pikir bukanlah tabiat dari seorang yang ber-Tuhan. Sebaliknya, Sang Pencipta yang kita ejewantahkan dalam bentuk agama harusnya menjadi solusi atas kemiskinan, penderitaan, kesengsaraan, maupun penindasan. Sang Khalik harus kita jadikan alasan untuk bangkit, bukan untuk pasrah pada keadaan.

Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk menipu, mencuri. Dia mengajarkan kita untuk berbuat jujur. Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk menghujat, membenci apalagi membunuh sesama manusia. Dia  mengajarkan kita untuk mengasihi. Tuhan bukanlah sebuah barang yang kadang kita gunakan, dan kadang tidak. Dia adalah Tuhan yang harus kita imani sepanjang waktu.  Tuhan juga bukanlah persinggahan yang  kita panggil ketika susah, dan kita tinggalkan ketika senang. Dia adalah rumah bagi orang-orang beriman.

Lalu akankah kita mengembalikan eksistensi Tuhan sebagai pemilik kehidupan ?

Soekarno pernah berkataBangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Maka saya ingin berkataBangsa yang diberkati adalah bangsa yang tidak melupakan Tuhannya.”

Salam satu Tuhan.****

Baca Juga : Tentang Tuhan, Biarkan Aku Memaklumi Stephen Hawking!

Info Penulis

Penulis adalah Pengamat Sosio-Politik, dan Pegiat Literasi di Toba Writers Forum (TWF).

Bagikan:


Komentar