Kejujuran dalam UN

oleh Riduan Situmorang pada 12 April 2018 (368 kali dibaca)

Tulisan Riduan Situmorang yang Dimuat di Harian Waspada

Tema besar UN kali ini sepertinya bukan lagi mengukur kelulusan, tetapi sudah lebih pada aspek kejujuran. Ini tentu merupakan sebuah kemajuan karena kita tak lagi menjadikan UN sebagai momok yang menakutkan. Imbasnya, kini tidak marak lagi fenomena di mana ada kebaktian massal dan pengajian akbar hanya untuk menghadapi UN. Sekilas, acara religius seperti ini memang diperlukan.

Tetapi, kalau kita menjenguk ke dalam, adanya acara keagamaan akbar semacam ini menjadi peneguhan bahwa betapa selama ini UN menjadi momok yang menakutkan sehingga harus dihadapi dengan berdoa serta penuh kepasrahan. Pendidikan dimaknai menjadi sesuatu yang menegangkan, bukan menyenangkan. Adalah fakta bahwa masih banyak kejanggalan dalam UN. Adegan kebocoran jawaban masih ramai dan terus berulang.

Saya pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Saya menyaksikan bagaimana kebohongan itu selalu berulang. Setiap kali menjelang UN, misalnya, tidak terkecuali untuk tahun ini, saya masih sering mendengar siswa yang bertransaksi. Mereka membeli kunci jawaban dengan harga ratusan ribu rupiah per orang. Dan, ketika mereka selesai UN setiap harinya, saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka selalu merayakan kemanjuran kuncinya. Tak jarang bukti fisik itu mereka pertunjukkan dengan bangga, entah itu di foto atau pun di kertas.

Sudahlah, mari berjujur hati. Kunci keberhasilan kita kelak adalah dari keujujuran. Sebaliknya, jika kita masih tetap menutup diri, pendididkan kita akan tetap bobrok dan menjadi arena pembodohan. Lagipula, bukankah tema besar UN kita kali ini lebih condong pada kejujuran? Karena itu, mari jujur! Baik, mari saya beberkan kisah-kisah kejanggalan perihal UN di kolom ini, tentu saja dengan jujur. Mudah-mudahan ini salah.

Baca Juga Opini Lainnya: Berhenti Menggurui Guru

Yang janggal itu, misalnya., tahun lalu, khusus untuk mereka yang melaksanakan UN berbasis komputer, kunci jawaban banyak dikeluhkan. Ada katanya banyak ketidakcocokan jawaban. Itu terjadi karena (entahlah) per lima belas menit, soal dikocok sehingga kunci jawaban menjadi acak. Ini sesuatu kemajuan. Ke depan, cara yang seperti ini dapat dikukuhkan. Ini dapat meminimalisasi mafia penjawab soal. Sekali lagi, sudahlah, mari berjujur hati. Ini demi kebaikan kita ke depan.

Jujur saja, boleh saya katakan bahwa saya hidup dari bimbel. Begitupun, saya tetap menaruh hormat dan sangat optimis ketika Menteri Pendidikan pernah mengancam akan mencabut izin bimbel yang kedapatan mengeluarkan kunci jawaban. Bagi saya, ini menjadi berita positif yang harus diparesiasi dan karena itu harus ditindaklanjuti. Jangan hanya sebatas ancaman. Hanya memang, Menteri tak boleh sembrono. Yang membuat soal bukan bimbel. Yang mendistribusikan soal juga bukan bimbel.

Bimbel bukan negeri dan bukan pula swasta. Bimbel hanyalah lembaga bimbingan informal. Dan, bimbel hanya ada karena sekolah—baik itu swasta mampun negeri—tidak dipercayai oleh masyarakat. Artinya, masyarakat belum menaruh kepercayaan kepada sekolah. Ini tentu pukulan telak yang harus segera ditindaklanjuti. Dasar berpikirnya sederhana. Andai sekolah dipercaya, orang tua dan siswa tak akan rela membayar mahal-mahal hingga puluhan juta hanya untuk bimbel.

Tetapi, karena sekolah belum dipercayai, kecuali hanya untuk memproduksi ijazah, maka masyarakat pun merelakan uang berpuluh-puluh juta. Dengan kata lain, sangat tidak berlebihan jika saya mengatakan, lulusnya siswa dari UN atau seleksi selama ini sama sekali bukanlah karena sekolah, melainkan karena bimbel. Bahasa kasarnya, Kementerian Pendidikan gagal. Maaf, kalau bahasanya terlalu jujur. Kembali, perihal bocornya soal dan Bapak Menteri mengancam akan mencabut izin bimbel.

Harus ditegaskan berkali-kali, ini patut diparesiasi. Tetapi sekali lagi, kita jangan sembrono. Jangan sembarang mencabut izin. Jika bimbel yang bukan lemaga pendidikan resmi saja bisa mendapatkan dan mengerjakan soal, konon lagi sekolah. Ini logika sederhana bukan? Dan, tentu saja ini menjadi indikasi betapa di lembaga pendidikan kita ada banyak mafia. Artinya, perbaiki dulu dari dalam. Bimbel hanya ekses dan puncak gunung es. Mafia sebenarnya ada di dalam dan mereka itulah lereng gunung es.

Barangkali ini membantu, maka itu, izinkan saya membelalakkan bagaimana skema pembocoran soal. Ini saya tangkap secara samar-samar dari siswa, terutama dari rekan para mentor. Mudah-mudahan ini salah dan tentu saja jika Anda meminta data, saya tak punya! Sebab, ini hanya cerita. Saya yakin, siswa dan rekan itu akan menghindar jika media menanyainya. Lagipula, di negeri ini, susah sekali mencari data aktual. Datanya sulit diambil, tetapi rumornya sudah dipercaya.

Maksud saya, demi perbaikan, barangkali ini saatnya bagi kita untuk berjujur hati. Nah, bagaimana skema pembocoran kunci jawaban itu berlangsung? Pertama, soal diperdagangkan kepada bimbel oleh lembaga pendidikan. Kemudian, bimbel menjual kunci kepada para siswa. Ada juga skema lain, yaitu kabupaten-kabupaten tertentu, sekolah-sekolah tertentu, atau pihak-puhak tertentu mengajak para mentor di bimbel untuk mengerjakan soal. Para mentor ini dibayar. Mentor ini dapat pula menjual kuncinya kepada siswa.

Tiga Langkah

Yang saya beberkan di atas (barangkali) hanyalah cerita. Tetapi, bagi saya itu fakta. Dan, jika skema di atas benar-benar terjadi, ini menjadi sebuah peneguhan betapa pendidikan kita menjadi kumpulan para mafia. Ini juga menjadi peneguhan betapa pendidikan kita sudah bobrok. Pendidikan yang mestinya menjadi sumber kebajikan menjadi sumber kecelakaan. Lalu, bagaimana kita berlaku agar hal serupa tidak terulang lagi?

Baca Juga Opini Lainnya: Surat Terbuka untuk Mendikbud

Pertama, jadikan UN menjadi sebatas pemetaan. Biarkan sekolah mandiri meluluskan siswanya. Kualitas sekolah akan teruji dari seberapa siswa mereka yang kelak berhasil atau minimal lulus ujian tulis ke berbagai perguruan tinggi. Dan, harus dipahami bahwa pendidikan itu bukanlah setumpuk fakta. Pendidikan itu bukan jam-jam yang kita habiskan di ruang-ruang kelas, atau, bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian.

Pendidikan lebih-lebih bukan pula proses indoktrinasi, memuja para leluhur, patuh pada yang berwenang, memercayai begitu saja kata-kata siapa pun tentang apa yang benar dan apa yang salah, tentang apa yang penting dan yang tak penting, tentang apa yang lazim dan apa yang janggal. Pendidikan adalah apa-apa yang muncul setelah kita berproses di dalamnya. Jadi, persekolahan bukanlah pendidikan. Persekolahan hanya akan menjadi pendidikan jika mampu membuat pribadi tanggung menjadi pribadi utuh.

Kedua, jika UN tetap dikukuhkan menjadi alat untuk meluluskan, buat UN berbasis komputer. Soalnya diacak secara berkala sehingga kunci yang bocor tidak lagi relevan. Dengan demikian, mafia pembocor soal dapat diminimalisasi. Betul, dengan UN berbasis komputer, mafia penjawab soal tetap saja masih bisa bekerja karena mereka tinggal mencetak soal lalu membuat kopiannya sekecil-kecilnya.

Ketika ujian, siswa tinggal mencocokkan ke layar komputer. Samar-samar saya dengar, ini juga sudah terjadi. Lalu bagaimana biar ini tidak terjadi berulang lagi ke depan? Nah, di sinilah kita membutuhkan langkah ketiga, yaitu UN harus menjadi barometer kejujuran. Jika terbukti ada calo, ada keributan, bahkan ada gejala kecil sekalipun, maka beri sanksi. Lebih-lebih, bagi mereka yang jujur dan bisa mengungkap kebobrokan, beri mereka hadiah.

Intinya, selain menjadi pemetaan, UN harus menjadi ajang yang bertemakan berani untuk jujur. Tidak saatnya lagi kita bermain mata dengan UN. Tidak saatnya lagi kita menoleransi setiap ketidakjujuran. Semoga catatan kecil ini dapat dipertimbangkan, sekali lagi, demi kebaikan kita!

Baca Juga Opini Lainnya: Kompetensi Tambahan untuk Calon Guru

Baca Juga Opini Lainnya: Yesus dan Pendidikan yang Memerdekakan

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar