Karena Ratna Sarumpaet Katanya Keturunan dari Tokoh “Ormas” Terlarang….

oleh Riduan Situmorang pada 6 Juli 2018 (987 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari tribunnews.com

 

Selamat pagi Bu Ratna yang terhormat. Perkenalkan, saya adalah anak muda yang gemar membaca peta politik. Tapi, saya tak pernah benar-benar mahir setelah membacanya. Politik adalah buku yang penuh dengan tafsir. Kadang tanpa kata, tetapi malah banyak makna. Kadang, banyak kata, tetapi justru tanpa makna. Saya memperkenalkan diri kepada Anda karena Anda sudah pasti tak kenal dengan saya. Itu sudah pasti. Siapa saya dibanding Bu Ratna yang sering kali hanya dengan maki-makian, cerewetan, bahkan ngomong-ngomong sahut-sahut kecil saja malah ramai diliput oleh media seakan semua makian itu adalah sabda.

Supaya semakin kenal, saya juga adalah kutu buku. Buku apa pun saya lahap, termasuk buku-buku aksi para seniman. Dari bacaan itulah semula saya mengenal Bu Ratna yang ternyata doyan baca puisi, doyan teater, hingga aksi. Lama-kelamaan, saya semakin sering melihat Ibu tampil di televisi. Dari situ kemudian, saya mengetahui betapa Bu Ratna adalah orang pemberani sehingga kata-kata terlontar begitu saja tanpa takut ancaman. Tak tanggung-tanggung, hampir semua presiden Indonesia (barangkali kecuali Bung Karno) yang tak luput dari lidah lincah Ibu.

Baiklah Bu Ratna. Saya tak akan berpanjang-panjang membahas siapa saja yang pernah ibu habisi dengan kalimat-kalimat berani itu. Itu terlalu banyak untuk diceritakan. Itu terlalu heroik untuk diingat meski banyak juga yang terlalu lucu untuk dikenang. Tiba-tiba, misalnya, Ibu jadi tidak paham apa itu menghina, apa itu mengkritik. Tiba-tiba juga Ibu jadi tak paham apa perbedaan berani dengan tak tahu sopan santun. Ibu, misalnya, pernah mengatakan bahwa SBY adalah “Presiden Goblok Sejagad”. Sekilas ini bermakna biasa saja. Tetapi, dengan itu, Ibu agaknya ingin mengatakan bahwa mayoritas orang Indonesia adalah orang goblok.

Mental Jalanan

Ibu juga pernah mengatakan bahwa Jokowi adalah presiden bodoh. Padahal, Jokowi belum sampai setahun bekerja. Saya jadi kebingungan: siapa yang bodoh membuat kesimpulan: Ibu atau Jokowi? Baiklah, baiklah, dan baiklah. Saya sepakat, di luar sana, banyak orang yang menyerapah pemimpinnya. Bahkan, jauh lebih kejam daripada Ibu. Mereka itu umumnya adalah anak ingusan, kuli, tak berpendidikan, bahkan malah akun robot. Masalahnya, apakah Ibu sama derajatnya dengan mereka? Apakah Ibu seniman jalanan yang kualitasnya juga mental anak jalanan: tanpa tahu masalah lalu hajar begitu saja, misalnya?

Baca Juga Ulasan Lainnya: Doa Ajaran Amien Rais Lebih Manjur dari Doa Ajaran Yesus…

Terus terang Bu, saya sempat urung untuk menuliskan surat ini. Itu makanya surat ini lama saya tuliskan. Sangat lama. Saya sempat mencoba untuk menghentikan genitnya jari-jariku untuk mengetik. Apalagi, mataku masih sakit. Saya kadang merasa pening ketika lama-lama membaca, apalagi menulis. Karena itu, saya sempat ingin istirahat dulu dari dunia baca-tulis selama dua bulan penuh. Tetapi, entah mengapa, dasar sudah tak bisa, saya tetap saja ingin menulis. Saya jadi paham bahwa kata-kata dan candu itu sama saja. Apakah memang benar-benar sama seperti agama juga candu dan politik juga candu?

Entahlah. Yang pasti Bu Ratna, khususnya, untuk surat ini, saya sudah berkali-kali mengurungkan menuliskannya. Saya sempat mengetik dua-tiga kalimat. Lalu, kuhapus lagi. Kutulis lagi. Kuhapus lagi. Besoknya, kutulis lagi. Kuhapus lagi. Kutulis lagi. Kuhapus lagi. Demikianlah berlangsung selama hampir sepekan. Bayangkan, hanya karena memikirkan Ibu, saya harus berkelahi dengan otak kiriku tentang apakah aku akan menulis surat ini atau tidak. Sayangnya, semakin kucoba untuk tidak menulis, semakin kepalaku gatal dan penuh. Karena itu, kuputuskan untuk menuliskan surat ini. Percayalah, ini khusus untuk Ibu.

Itu ketika Ibu datang jauh-jauh dari Ibu Kota ke Danau Toba untuk membela korban Kapal Sinar Bangun. Aduh, saya tak bisa menggambarkan bagaimana heroiknya sikap Ibu. Saya lebih-lebih tak bisa melukiskan bagaimana magisnya kata-kata Ibu. Ibu menangis (atau berpura-pura menangis?) karena pemerintah akhirnya memutuskan untuk tidak mengangkat jasad para korban dari dasar danau. Terus terang, ketika melihat video itu, terutama ketika ternyata sumber video itu berasal dari seorang wartawan yang kebetulan teman dekat saya, saya langsung menelepon Sang Wartawan tersebut. Kami bicara panjang lebar. Baikkah, tentang apa isis pembicaraan itu tak usah saya tuliskan di sini.

Pakai Akal dan Hati

Baik, mari kembali ke video itu. Dari video itu, maaf, kalau kalimat Ibu saya edit tanpa mengurangi maknanya. Ibu kurang lebih meringis begini, “Ini masalah hati. Sudah ditemukan, kok, malah ditinggalkan?” Ya, ya, ya, ini masalah hati. Ini benar-benar masalah hati. Siapa pun tak tega melihat orang lain menderita. Tetapi, betulkah ini masalah hati? Betulkah? Betulkah? Betulkah? Atau, Ibu yang sebenarnya sudah tak punya hati sehingga tak tahu membedakan mana yang mustahil, mana pula yang mungkin dilakukan sehingga segalanya harus dipaksakan?

Bu Ratna yang terhormat. Saya tak perlu menyertakan semua sumber ilmiah yang mengatakan bahwa kapal dan jasad itu tak bisa diangkat karena alat tidak ada. Masa harus mengangkut alatnya dari laut? Darimana diangkut? Naik truk? Darimana jalannya? Terbang? Saya juga tak usah menyertakan bagaimana curhatan seorang penyelam yang konon hanya bisa menyelam sedalam 50 meter, habis itu sudah sangat berbahaya. Ibu Ratna yang terhormat. Sebenarnya, jika benar-benar masih punya hati, Ibu akan mengetahui hal itu dengan mudah. Hanya saja, agaknya ibu tak pernah hati-hati untuk mengeluarkan setiap perkataan.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Buka-Bukaan dengan Pendukung Teroris

Akibatnya, seperti para politisi yang saya buat sebagai prolog tulisan ini, omongan Ibu memang terdiri atas banyak kata, tetapi tanpa makna. Semua kata-kata itu kering dan tidak punya pengertian. Tidak hanya tak punya hati, Ibu bahkan cenderung tak punya pikiran. Masakan hanya karena tahu titik koordinatnya, maka kita pasti bisa mengambilnya? Saya buatkan ilustrasi sederhana. Sains sekarang sudah mengetahui di mana letak koordinat matahari. Pertanyaannya, bisakah kita ke matahari? Silakah cari sendiri, Bu Ratna. Eh, maksud saya, ayo, pergilah ke matahari. Kalau kejauhan, ayo, silakan Ibu yang menyelam supaya Ibu benar-benar jadi hero!

Maaf, kalau nada tulisan ini terlalu sarkastis. Tetapi, bagaimana lagi saya untuk mengeluarkan isi kepalaku yang sudah penuh selama sepekan sehingga tulisan ini bahkan tak bisa menampungnya lagi. Bu Ratna, saya menghormati sikap Ibu. Tetapi, Ibu harus punya hati dan pikiran. Yang penting, harus hati-hati dalam bicara, apalagi kalau sampai membicarakan hati. Karena itu, saya sangat hati-hati menjaga perasaan Ibu sehingga di dalam tulisan ini, saya tak menyertakan bagaimana seperti tersebar di medsos bahwa konon Ibu adalah keturunan dari “ormas” terlarang (saya katakana saja begitu). Tetapi, saya tak menyertakannya karena ini masalah hati.

Oh, iya, di akhir tulisan ini, saya hanya mau mengatakan, Bu Ratna, pakailah akal dan hatimu sekali saja. Sekali saja. Sekali saja. Saya ulangi, sekali saja. Jangan tahunya hanya mengacaukan hati banyak orang hanya karena libido politik, misalnya. Baiklah, selamat pagi Bu Ratna. Mari menggunakan hati dan akal kita dengan baik. Benar, di DKI, Ibu mungkin bisa bermanis-manis “mengatur” Anies agar mobil yang diderek dikembalikan, tetapi di Danau Toba, saya harus terlebih dahulu menyuruh Ibu memberikan teladan. Jika Ibu menyelam sampai dasar dan membawa serta korban itu, saya janji, akan menyelam juga.

Hehehe, Bu Ratna, ini kalimat tegas: masyarakat Danau Toba bukan masyarakat DKI!

 

Baca Juga Ulasan Lainnya: Agar Danau Toba tak Jadi Danau Tuba

Baca Juga Ulasan Lainnya: Danau Toba bukan Danau Tuba

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar