Kalau Bukan Satpam, Tuhan itu Pasti Hantu

oleh Riduan Situmorang pada 28 Agustus 2017 (876 kali dibaca)

Karikatur Tuhan dari Charlie Hebdo, Tuhan Semacam satpam membawa pistol

 

Pembaca diperkenankan untuk segera undur diri dari bacaan ini. Sebab, taruhannya besar: Anda mungkin akan jengkel karena tak mendapatkan sesuatu apa pun dari bacaan ini. Sekali lagi diperingatkan, ayo, undur dirilah. Satu, dua, tiga,…!

Bagi yang sudah undur diri, semoga Anda masih sempat membaca kalimat ini: terima kasih, Anda memang memilih jalan yang benar. Bagi yang belum, ayo, Anda pasti penasaran kan kalau Tuhan itu hanya seorang satpam? Kalaupun tidak, pastilah Ia hantu? Jangan marah. Tak ada hak Anda untuk marah lagi. Soalnya, saya tadi sudah kasih waktu untuk Anda segera undur diri.

Mari kita mulai dengan tegas! Yapz, tak salah lagi kalau Tuhan itu hanyalah satpam, bahkan budak bagi manusia. Tak percaya? Periksalah pengalamanmu sendiri. Jika kamu religius, Anda adalah tersangka utama yang membuat Tuhan jadi satpam. Setelah Anda bangun, Anda misalnya sudah langsung meminta agar Tuhan melindungimu. Mau tidur, Anda juga membiarkan Tuhan untuk tetap on merawatmu. Anda tak memberi Tuhan istirahat sekelak.

Mau makan, Anda pun mohon Tuhan agar makanan itu jadi kesehatan. Anda bahkan tak peduli, apakah Anda memakan makanan berlemak, berminyak, bahkan banyak-banyak lagi. Dokter saja sudah melarang, “Woy Pukimak, jangalah kau makan lagi makanan berminyak, apalagi berlemak. Tubuhmu sudah kelebihan kalori. Itu akan menjadi bibit penyakit. Capek aku dengar curhatan penyakitmu yang mau kurus, tapi makaaaaan aja, terus. Sesekali, kalau kau tak bisa mengemanakan uangmu, berilah ke fakir miskin,”

Tetapi, oh, Anda tetap ngotot. Lalu, mengajak Tuhan untuk berkompromi dengan niat busukumu: “Tuhan, buatkanlah makanan ini jadi kesehatan.” Ah? Apa? Anda menyuruh Tuhan untuk mengubah calon bibit penyakit di tubuhmu jadi kesehatan? Tak salah?

 

Simak Juga Nonang Lainnya: Mau Masuk Surga? Anda Harus Lulus CPNS Dulu!

 

Hey, kamu. Kalaupun posisimu kini jadi jenderal berbintang berderet di perusahaanmu, lalu karena itu bisa menyuruh pembantumu mengelap keringatmu dari dahi hingga di balik baju, terutama di balik celanamu, plis, jangan menyuruh Tuhan mengubah racun yang kau makan jadi vitamin. Tuhan itu emang mahabaik, tapi bukan jadi budak kali.

Tuhan itu, oke, emang bisa mengubah batu jadi roti, tapi Tuhan tak perlu jadi tukang sulapmu kali. Kalau tugas Tuhan adalah untuk mengubah racun jadi tawar, oh, untuk apa lagi dibuka Fakultas Kedokteran, yang kalau masuk ke sana, siswa-siswa konon harus rela belajar full day school: di sekolah, di bimbel, lalu di rumah lagi?

Untuk apa pula ada petani mengantre mendapatkan pupuk yang harganya selangit? Tinggal bilang: Tuhan, aku mau makan batu besar ini. Tolong, ubah jadi darah dan daging, ya! Beres. Tuhan, aku mau makan buah naga hasil dari pohon buah nangka. Simsalabim, beres. Tuhan, aku mau buah anggur sebesar durian. Sip, selesai sudah!

Hidup benar-benar jadi sederhana. Tapi jangan salah, hidup sederhana ini justru teramat rumit. Bayangkan kalau semua orang minta agar kaya-raya, lalu karena Tuhan baik, simsalabim, kemudian semua orang jadi kaya-raya dalam waktu sekejap. Nah, karena mereka sudah kaya, mereka akhirnya jadi malas berjualan atau bertani. Mereka hanya santai di rumah. Bayangkanlah, kepada siapa lagi mereka membeli karena semua sudah santai di rumah?

Saudaraku. Ini yang mau kubilang: Tuhan itu emang mahabaik, tapi bukan jadi suruhan, apalagi budakmu. Namun, walau demikian, janganlah kiranya gegara tulisan ini Anda jadi merasa bersalah sendirian. Di luar sana, ada jutaan manusia lain yang membuat Tuhan jadi satpam dan pembantu, persis seperti Anda. Ketika koruptor hendak korupsi, misalnya, dia selalu berdoa, “Tuhan, berkati pekerjaanku ini.”

Ketika koruptor sudah tersangka, lalu diadili, koruptor itu juga masih mengajak Tuhan untuk berkompromi. Dia membawa tasbih, mulutnya berkomat-kami mengalun doa, dan masih banyak lagi. Dia seolah memerintah dengan setengah marah, tetapi karena tak bisa lagi marah, lalu dia pun memelas seolah berkata, “Hei Tuhan, kenapa Kau melupakan tugasmu? Kenapa Kau tak menyembunyikan dosa-dosaku? Apa karena hasil korupsiku belum kubagi sama-Mu, ya?”

Ya, terserah Anda mau berkata: Tuhan itu kan tugasnya emang melindungi manusia. Masalahnya, kalau begitu, apakah Tuhan itu adalah sosok yang bisa diajak kompromi, lalu disuruh-suruh ke mana-mana? Anda, misalnya bilang begini, “Hei, Tuhan, kali ini aku mau memerkosa gadis itu. Salahmu sendiri mengapa menciptakan aku laki-laki beginian. Karena itu, cepat Kau ikat tangannya ya, dekap mulutnya, biar urusanku memasukkan ular imut setengah mutung ini ke lubangnya? Bukankah ular harus dibenamkan kepalanya ke dalam lubang supaya tak mengganggu?”

Wah, saluuuuut. Tuhan tugasnya jadi temanmu untuk memperkosa. Lalu, setelah kau menjinakkan ular itu (dan kau merasa berjasa?) kau berkata pada Tuhan, “Hei Tuhan, jaga rahasia kita ini. Jangan sampai terbuka ke khalayak ramai. Ini hanya urusan kita berdua saja, ya!” Apakah Tuhan memang tugasnya begitu: memuaskan hasrat nakalmu?

Sudahlah. Ternyata baru di paragraf-paragraf akhir ini aku sadar bahwa Tuhan itu emang milikmu. Karena milikmu, sudah pasti saya tak bisa melarang kau menggunakan milikmu. Mau kau bikin Tuhan itu jadi penjaga wanita simpananmu, penjaga tidurmu, penjaga ularmu, penjaga dari penjagamu, atau bonekamu, terserah. Itu ternyata urusanmu! Maaf.

Cuma, aku mau bilang. Tuhan itu, barang kepunyaanmu itu, hanyalah hantu. Kenapa hantu? Gini, cobalah sekarang tunjukkan dulu mana Tuhanmu itu di mana? Oke, oke, mungkin kau akan memberikan pertanyaan yang sama padaku. Mana otakmu? Tunjukkan sekarang juga, katamu sambil matamu melotot! Sekarang, pertanyaan itu akan kubalas lagi, tentu dengan mataku yang tak kalah melotot juga. Kau punya otak juga enggak? Segera tunjukkan juga dung!

Kawan, otak dan Tuhan itu beda. Jangan samakan! Mau kau tidak tunjukkan atau kau tunjukkan pun otakmu, kita udah sama-sama tahu kok bahwa otak itu ada. Ada barang buktinya. Nah, Tuhan? Mana barbutnya? Mana wujudnya? Nah, kenapa pula kau menjejali otakkku bahwa Tuhan itu harus ditakuti? Bukankah satu-satunya yang kita takuti adalah hantu? Kenapa juga kau bilang bahwa kita harus takut pada Tuhan?

Eits. Mamaku datang. Dia pasti memarahiku karena kebanyakan megang laptop. Padahal, dia nyuruh aku harus ke sawah hari ini. Aku takut pada mamakku ini. Takut kali. Stop. Mamakku bukan hantu. Aku takut sama mama kalo pas lagi aku ngelanggar aturan saja. Kalo dia lihat aku langgar aturan, uang jajan udah pasti tak akan diberikan. Tuhan, tolong butakan mata mamakkua ini biar ga dilihat aku. Eh, lho kok?

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar