Jangan Nyinyir Lagi, Habib Rizieq dan Tan Malaka itu Sebenarnya Sama-Sama Pejuang

oleh Riduan Situmorang pada 4 Juni 2018 (398 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari kelaskita.com

 

Kadang, mencari persamaan di antara dua tokoh itu sangat menyebalkan. Sudah beda kok disamain? Tetapi namanya cari persamaan. Mau tak mau harus dicari, bila perlu dengan meminjam otak dengkul para “cocokolog” paling ulung di bumi datar ini. Sama, mencari perbedaan juga seringkali sangat menyebalkan. Sudah jelas-jelas sama kok dibedain. Seperti ini, misalnya. Apa bedanya pastor dengan monyet? Ya, jelas-jelas beda. Monyet, pantatnya botak. Sementara pastor, kepalanya botak. (Jadi bersyukur mengapa saya pernah gagal jadi pastor).

Tapi, jangan puas dulu. Mungkin, ada saja orang bertanya apa beda pastor dengan monyet lalu ada yang menjawab: tak ada bedanya. Apakah itu betul? Betul. Ya, memang, tak ada bedanya pastor dengan monyet. Coba, apa monyet hidupnya di bumi lalu pastor hidupnya di Mars? Tidak! Apa monyet ciptaan pastor dan pastor ciptaan monyet? Tidak juga. Apa monyet menikah dan pastor juga menikah? Lebih parah lagi! Jadi, berhentilah mencari perbedaan pastor dan monyet sebab keduanya sama saja. (Sekali lagi, bersyukur gagal jadi pastor).

Begitulah yang terjadi pada Habib Rizieq dan Tan Malaka. Apakah mereka beda? Tidak! Apakah mereka sama? Tidak juga. Perhatikan, kedua jawaban dari pertanyaan yang berbeda itu! Jawabannya sama saja: Tidak! Apa pelajaran yang bisa kita petik dari sana? Banyak. Namun, yang paling penting tidak lain tidak bukan adalah bahwa ternyata mencari persamaan dan perbedaan itu sama saja. Karena itu, jika ada orang yang menyebut persamaan dan perbedaan itu antonim, saya tak sepakat. Maaf, mungkin dalam hal ini kita harus berbeda. Aku manusia dan kau….(hehehe)

Baca Ulasan Lainnya: Antara Charlie Hebdo dan Tempo

Jadi begini, kita mulai saja, apakah ada persamaan Tan Malaka dan Habib Rizieq? Buaanyaaak! Karena itu, mohon maaf, pasti banyak yang kecewa dan marah setelah membaca tulisan ini. Seperti monyet dan pastor tadi. Para lovers monyet pasti emosi. Monyet kok disamakan dengan pastor. Para lovers pastor apalagi. Mereka tak setuju pastor disamakan dengan monyet. Jadi, kalau kalian tidak bisa diajak bercanda dengan nakal, sudah, tak usah lanjut membaca ulasan ini. Ini soalnya rubrik Nonang. Rubrik khusus untuk nakal-nakal tak perlu yang kadang malah dianggap perlu. Sebab, apalah bedanya perlu dan tak perlu? Tidak ada juga bukan?

Baiklah, mari kita mulai dengan serius (catatan redaksi, serius dan tak serius tak ada bedanya). Inilah persamaan Tan Malaka dan Habib Rizieq. Pertama, Tan Malaka dan Habib Rizieq itu sama-sama buronan. “Tan Malaka itu seorang mahaguru dan buronan abadi,” demikian kata Poeze, sejarawan yang khusus mendalami Tan Malaka. Sama, Habib Rizieq juga buronan. Bedanya (kalau kita harus mencari perbedaaan di dalam persamaan), Habib Rizieq tak perlu menyamar seperti Tan yang harus menjadi aseng dan membuat namanya menjadi Tan Ming Sing dan Tan Ho Seng.

Beda yang lain, Tan Malaka harus kesusahan mencari-cari pekerjaan. Sementara Habib Rizieq, tidak. Beda yang lebih spektakuler, Tan Malaka kalah telak pada Sang Habib. Jika Tan Malaka diincar-incar lalu harus menyamar supaya tak tertangkap, Habib Rizieq tak perlu melakukannya. Bahkan, kedatangannya sangat dinanti-nantikan. Malah konon juga, dalam catatan Moddie Alvianto Wicaksono, Sang Habib ingin disambut sebagimana Ayatullah Khomeini ketika dia pulang dari eksilnya di Perancis ke Iran.

Sudah, tak usah kau cari-cari apakah Khomeini Syiah atau tidak. Maaf, khusus untuk ini, saya tak tahu perbedaannya, apalagi persamaannya. Saya Katolik. Saya tak pakar soal itu. Nah, mengapa Sang Habib ingin disambut sedemikian meriah? Mengapa pula para haters dan lovers begitu merindukannya seolah-olah Sang Habib bukan buronan? Di sinilah kita harus mengerti bahwa seperti tadi, tak ada bedanya persamaan dan perbedaan. Saya kira, sama halnya, tak ada juga perbedaan seseorang sebagai buronan atau tidak.

Kedua, sama-sama pengkritik pemerintah di masanya. Tan Malaka sering mengkritik Soekarno Hatta. Bayangkan, sosok dwitunggal yang kita agung-agungkan ini juga ternyata pernah dikecam dan dikritik. Jadi, tak usah heran ketika Jokowi selalu dikritik. “Mereka telah menyinyiakan hak-hak mereka sebagai pemimpin,” kata Tan Malaka kepada dwitunggal. Sama, Habib Rizieq juga rajin mengkritik pemerintah di masanya. Tidak hanya Jokowi. Saya kira, tak perlu saya sebutkan satu per satu apa-apa saja kritikan Habib Rizieq untuk pemerintah di masanya. Silakan cari di om gugel biar lebih banyak.

Ketiga, keduanya sama-sama mahir untuk menghilang dari kejaran “musuh”. Tan Malaka, konon kata Asvi Warman Adam, jago menghilang selama hidupnya. “Sampai mati pun masih ada jagonya untuk menghilang,” tegas Asvi Warman Adam. Habib Rizieq? Saya pikir dia tak pernah benar-benar menghilang. Dia selalu nampak. Alamatnya jelas. Sering nongol di media. Ringkasnya, dia tak menghilang. Namun, inilah keistimewaannya seorang Rizieq. Dia bisa menghilang dalam sebuah kelihatan. Tan Malaka jelas tak bisa seperti itu. Di sinilah saya semakin paham bahwa menghilang atau tidak menghilang ternyata sama saja: sinonim.

Keempat, ini tak mengada-ada. Baik Tan Malak maupun Sang Habib adalah pejuang revolusioner. Siapa yang mengatakannya, tentu saja tidak terlalu penting di tulisan ini. Yang penting, kata “revulisoner” itu pernah disematkan kepada mereka. Tan Malaka, misalnya. Dalam “Program Mendesak”, menyebut dirinya sebagai pemimpin Revolusi Indonesia. Tak ada yang meragukan itu. Bahkan, Bung Karno konon sangat megagumi Tan Malaka. Mahasiswa-mahasiswa saat ini juga banyak yang sangat mengagumi Tan Malaka.

Baca Ulasan Lainnya: Manusia-Manusia Setan

Tan Malaka sudah menjadi legenda tersendiri. Maka, tanpa sungkan, Moh Yamin mengakui bahwa beliau adalah serupa Jefferson Washington yang merancang Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai, atau serupa Rizal Bonifacio meramalkan Filipina sebelum revolusi di negara itu pecah. Intinya, kita tak bisa menolak kehebatan Tan Malaka. Sama, Sang Habib juga hebat dan revolusioner. Dia pernah mengancam dengan kalimat yang menggetarkan untuk rezim saat ini. Kata Habib, rekonsiliasi atau revolusi? Sampai saat ini, rekonsiliasi agaknya belum ada. Entahlah, barangkali rekonsiliasi juga sudah sinonim dengan revolusi.

Kelima, Sang Habib dan Tan Malaka adalah pemberani. Habib Rizieq berani melawan dan menjungkalkan Ahok. Padahal, dulu, ramai-ramai orang menyebut bahwa urat ketakutan Ahok sudah putus. Namun, Sang Habib menghantamnya. Memang, kini Sang Habib pergi ke luar negeri. Namun, itu bukan lah simbol sebuah ketakutan. Lagipula, apakah memang ada perbedaaan antara ketakutan dan keberanian? Sama juga dengan Tan Malaka. Kata-katanya penuh keberanian. Suatu kali, Tan Malaka berkata, “Ingatlah bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.” Kurang berani apa lagi itu? Bukankah suara Rizieq dari alam Arab sana juga tak kalah menggetirkan?

Karena itu, berhentilah mengidolakan Ahok. Selain Ahok cerai, kini Ahok sudah menjadi pembaca ulung. Ap coba yang kita dapatkan dari baca-membaca? Nah, Rizieq? Sekali lagi, Ahok tidak sebanding dengan Rizieq. Lihatlah, meski Ahok berani menista agama (saya ucapkan begitu karena memang dia dihukum karena pasal itu. Atau, apakah ini terjadi semata karena keberanian Sang Habib mengalahkan keberanian Sang Ahok? Entahlah). Yang pasti, Sang Habib bisa mengantar Ahok ke mulut penjara. Kata-kata Ahok yang teriak maling tidak membuat Habib ketakutan. Jangan-jangan, Habib Rizieq sedang mencontoh kalimat Tan Malaka, pada rapat pertama Persatuan Perjuangan, yaitu “Orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya.”

Keenam, agaknya, baik Tan Malaka maupun Habib Rizieq sama-sama menyimpan ambisi untuk menjadi presiden. Memang, keduanya sama-sama tak pernah menjadi ketua umum partai. Padahal, di negara ini, ada semacam dogma bahwa kalau menjadi presiden maka harus terlebih dahulu terpilih menjadi ketua partai. Namun, Tan Maka bukan tidak mau menjadi ketua partai. Pada 7 November 1948, Tan membentuk Partai Murba dengan asas: antifasis, antiimperialis, dan antikapitalis. “Dia tidak mau jadi ketua. Mungkin, dia harap jadi Prsiden RI dan selalu tidak senang dengan politik diplomasi,” kata Harry Poeze.

Begitu juga dengan Habib Rizieq. Dia bukan ketua partai, bahkan bukan anggota partai mana pun barangkali. Namun, Habib Rizieq pernah diisukan ingin menjadi calon presiden. Namanya juga konon seringkali disebut-sebut sebagai calon presiden alternatif. Hanya saja, ambisi itu sepertinya tidak pernah akan jadi kenyataan. Di sinilah Tan Malaka dan Habib Rizieq benar-benar sama. Namun, jangan pernah memandang Habib Rizieq sebelah mata. Meski bukan calon presiden, apalagi presiden, dia kini menjadi tokoh yang boleh dibilang, paling utama.

Baca Ulasan Lainnya: Habib Rizieq, dari Rekonsiliasi Hingga Capres

Betapa tidak, di Mekkah, kini dia ditemui Prabowo, Amien Rais, dan kawan-kawannya. Ini menakjubkan. Siapa coba yang sampai dikunjungi begitu rupa oleh orang-orang beken, seperti Prabowo, terutama Amien Rais? Yang lebih hebat, konon PKS yang bersikukuh mencalonwakipresidenkan salah satu kadernya bersama Prabowo tiba-tiba bisa legowo karena pengaruh Sang Habib. Konon pula, Habib Rizieq menjadi “pemimpin” utama koalisi, berdiri di atas semua ketua partai. Siapa bisa seperti ini kalau bukan Habib Rizieq?

Jokowi? Saya ragu. Konon, dari berbagai media, Jokowi pada posisi sebagai Presiden Indonesia saja katanya tidak bisa sembarangan bertemu dengan Amien Rais. Harus ada beberapa syarat, kata Amien Rais. Nah, tak lama ini, Amien Rais berjumpa dengan Habib Rizieq. Kalau mau mengikuti lajur berpikir itu, apakah Jokowi sebanding dengan Habib Rizieq? Jokowi saja tak bisa sembarangan menjumpai Amien Rais, konon lagi Habib Rizieq? Saya pikir, karena itulah Habib Rizieq ditemui tokoh-tokoh beken seperti Prabowo dan Amien Rais. Jabatan presiden bukan level untuk Sang Habib. Begitu kira-kira.

Kedelapan, keduanya, Tan dan Rizieq, adalah tokoh agama yang hebat. Tan Malaka bergelar datuk dan Rizieq bergelar habib. Masalah agama ini, saya tak mau bahas panjang, apalagi dalam. Bukan soal karena saya bukan Islam. Ini soal karena bagi saya, beragama atau tidak beragama sebenarnya sama saja. Untuk apa beragama kalau congkak? Seperti saya ini, karena kalian asyik-asyik baca, tiba-tiba tanpa ketujuh langsung lompat kedelapan. Padahal, saya beragama. Lalu, mengapa menipu? Tapi, santai saja, apalah bedanya ketujuh dan kedelapan. Apa pula persamannya?

Terakhir, saya mau bilang, tulisan ini ada agar kita bisa mencari persamaan di antara perbedaan atau perbedaan di antara persamaan. Tulisan ini bukan nyiyiran. Kalaupun nyinyiran, apalah bedanya sama seriusan? Tulisan ini pun bukan ilmiah. Kalaupun ilmiah, apa pula beda ilmiah dan dongeng? Intinya, mencari persamaan dan perbedaan itu menyebalkan. Menyebalkan karena memang kadang tidak ada bedanya, kadang pula tak ada samanya. Sebab, jangan-jangan tidak ada perbedaan antara yang tidak ada dengan yang benar-benar ada.

Hehehe, tulisan ini sebenarnya tak pernah ada. Maaf!

Baca Ulasan Lainnya: Amien Rais dan Kemenduaan Pandangannya tentang Kafir

Baca Ulasan Lainnya: Cakap-Cakap dengan Teman Katolik yang Mimpinya Sama dengan Teroris

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar