JANGAN NYANYIKAN LAGU PULAU SAMOSIR, DOSA ?

oleh Parno Mahulae pada 2 Desember 2018 (301 kali dibaca)


Lagu adalah sebuah ungkapan perasaan hati seseorang yang diungkapkan dengan alunan nada nada yang indah. Sehingga sebuah lagu dapat menyentuh hati seseorang hingga ke lubuk hati yang paling dalam. Seseorang bisa menangis hanya karna mendengar sebuah lagu. Seseorang bisa melompat kegirangan karna sebuah lagu.
Lagu bisa diciptakan atas kenyataan yang pernah dialami penciptanya. Atau bisa juga diciptakan atas dasar harapan yang ingin dicapai penciptanya. Tetapi lagu daerah yang berjudul Pulau samosir diciptakan atas dasar kenyataan yang pernah terjadi.

Lagu Pulau samosir menceritakan tentang betapa banyaknya hasil tanaman dan ternak dipulau itu. pada bait kedua dikatakan “Disi do pusokhi pardengkeanhu haumangki
Gok disi hansang nang eme nang bawang rarak do pinahan di dolok i “. Yang dapat diartikan dengan disitulah tempat kelahiranku, tempat mengambil ikan, banyak kacang bawang ditanam di ladang, dan binatang peliharaan pun banyak di puncak gunung.

Kini lagu ini masih sering dinyanyikan para pemuda maupun orang tua di kampung halaman dan perantauan. Tetapi jika menyanyikan lagu ini rasanya menyayat hati dan serasa berdosa. Karenak isi lagu tersebut tidak sesusai lagi dengan keadaan sekarang. Danau toba yang ditengah-tengahnya terdapat Pulau samosir katanya sedang rusak parah.

Danau Toba Rusak Parah
Danau toba yang digadang gadang pemerintah sebagai pariwisata internasional telah mengalami rusak parah. Baru baru ini World Bank melalui Kemenko Kemaritiman bapak Luhut Binsar Panjaitan melaporkan bahwa Danau toba itu kerusakannya sangat parah, hanya 50 meter air yang punya oksigen, di bawahnya tidak ada oksigen. Dan yang menjadi penyebabnya adalah Keramba Jaring Apung (KJA) disekitaran Danau toba. kemudian ada peternakan babi yang membuang limbah ke Danau toba. Selanjutnya rumah hotel membuang limbah ke Danau toba juga.Selain itu, kerusakan juga terjadi pada hutan.
Sebenarnya kerusakan Danau toba bukanlah hal yang baru. 2 tahun sebelumnya menteri lingkungan hidup siti nurbaya pada tahun 2016 pernah mengatakan bahwa kerusakan lingkungan di sekitar Danau toba sudah memprihatinkan. Kerusakan yang memprihatinkan itu ditandai dengan adanya antara lain 5.600 keramba jaring apung yang menghasilkan limbah organik tinggi. Kerusakan juga ditambah adanya lahan kritis seluas 157.000 hektare atau 21 persen dari luas daerah tangkapan air Danau toba.

Pada tahun 2016 juga pernah beredar sebuah video yang menggambarkan kerusakan Danau toba akibat keramba jaring apung. Dalam video tersebut diperlihatkan bahwa betapa banyaknya limbah berupa pakan ikan dan kotoran ikan yang berada dibawah KJA. Judul video tersebut adalah Memprihatinkan!!! Kondisi Terkini Dasar Danau Toba Dokumentasi Video Per 30 Agustus 2016. Hal ini adalah sebuah bukti bahwa kerusakan Danau toba sudah terjadi sejak lama.

Lindungi Hutan
Di puncak gunung tak ada lagi hewan ternak, yang ada hanyalah pohon pohon perusahaan yang sengaja ditanami untuk keperluan perusahaan. Ladang ladang pun tak banyak lagi menghasilkan kacang dan bawang. Lahan lahan disekitaran Danau toba kini sebagai penghasil eucaliptus yang berujung pada penghasil bubur kertas. Hal itu dapat dilihat dari izin terhadap perusahaan Toba Pulp Lestari dengan konsesi lahan hutan seluas 188.055 hektare yang tersebar di 13 kabupaten.

Delapan di antaranya merupakan daerah lingkar Danau toba, yaitu Samosir, Karo, Dairi, Humbahas, Pakpak Barat, Simalungun, Tapanuli Utara dan Toba Samosir yang mencapai sekitar 78.558 hektare serta merupakan sumber daerah resapan air. Jadi, total vegetasi hutannya yang kini tersisa hanya 12 persen. Sungguh miris. Betapa tidak. Selama puluhan tahun pemerintah dan perusahaan tidak mengakui hak-hak masyarakat adat dan pola hubungan masyarakat adat dengan sumber daya alamnya di kawasan Danau Toba.

Perusahaan-perusahaan malah cenderung membabi buta tanpa mempertimbangkan kerugian yang dialami masyarakat luas akibat dampak kerusakan lingkungan terhadap hak-hak ekonomi, sosial, budaya dan kesehatan. Hal ini sangat ironis karena nyata-nyata kini bahwa kehadiran perusahaan kertas skala besar di Indonesia, yaitu TPL, misalnya, yang berdiri sejak 1992 ini ternyata hanya menguntungkan segelintir orang. Sebaliknya kerugian rakyat di kawasan Danau Toba yang semakin besar masih berlangsung hingga saat ini.

Perambahan hutan harus kita cegah, dan digantikan dengan gerakan penanaman sekaligus perawatan pohon. Tahun lalu, pemerintah kita, Presiden Jokowi, sudah menanam sejuta pohon di sekitaran Danau Toba. Penanaman ini bertujuan untuk menjadikan Danau Toba menjadi kawasan hijau pada masa mendatang. Pada pidatonya saat itu, beliau pernah mengatakan bahwa penanaman sejuta pohon ini bukan semata acara formalitas saja. Jokowi mengatakan, jika ditanam sejuta, maka akan tumbuh besar pula sejuta batang pohon.

Ide menanam pohon ini merupakan upaya konservasi sumber daya alam hayati berikut ekosistemnya. Menanam pohon berarti merawat kawasan Danau Toba. Secara berkesinambungan, merawat kawasan Danau Toba berarti menjaga fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan.

Bersihkan Keramba
Selain kerusakan hutan, kerusakan kualitas air pun terjadi yang diakibatkan oleh KJA (Keramba Jaring Apung). Para nelayan pun susah memperoleh ikan di Danau. Ikan ikan kini sudah berada dalam keramba jaring apung. Tetapi itu dikelola oleh perusahaan besar yang peruntukannya ke orang orang diluar negeri. Dan peruntungannya pun bukan untuk masyarakat. Keramba jaring apung yang dikelola oleh perusahaan besar dari Swiss hanya menguntungkan orang tertentu saja namun meninggalkan pencemaran danau yang luar biasa.

Berdasarkan data citra satelit Spot VII pada 2016, terdapat sekitar 11.282 KJA di Danau Toba. Jumlah ini tersebar pada tujuh kabupaten, 80% di Haranggaol, Kabupaten Simalungun, sebanyak 7.700 dengan kepadatan tinggi sekitar 1.000 KJA per 300×300 meter. Air sudah tidak dapat dikonsumsi.Rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada pada Gubernur Sumatera Utara. Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/213/KPTS/2017 maksimum kapasitas produksi 10.000 ton per tahun. Saat ini, produksi ikan budidaya di Danau Toba enam kali lipat dari rekomendasi yakni, 65.000 ton per tahun. Kotoran atau feses ikan membuat kondisi perairan danau ini buruk.

Menurut penelitian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Danau Toba memiliki waktu 78 tahun untuk mengembalikan ekosistem seperti semula, dikarenakan Ekosistem memiliki kemampuan membersihkan diri sendiri, jika berada dalam daya dukung yang baik.

LIPI juga mengatakan tak perlu menunggu 78 tahun jika mau mendorong pariwisata dengan nol KJA, karena pada dasarnya danau bukan tempat keramba. Solusi nol KJA merupakan solusi terbaik untuk memulihkan keadaan Danau toba menjadi lingkungan yang bersih. Jika bapak Kemenko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan berniat untuk membersihkan keramba dari Danau toba, nol KJA adalah sebuah langkah yang tepat menuju pariwisata dunia yang bersih.

Lagu Pulau Samosir Riwayatmu Kini
Air, hutan, kultur budaya dan lagu daerah menjadi sebuah daya tarik untuk sebuah kawasan pariwisata. Lagu daerah yang berjudul ”Pulau Samosir” diciptakan oleh seorang penyair terkenal yaitu Nahum Situmorang. Lirik lagu yang diciptakan oleh Nahum Situmorang selalu menggugah hati dan pikiran. Lagu Pulau samosir sangatlah terkenal diseluruh penjuru dunia. Bahkan lagu Pulau samosir pernah mendapat anugrah sebagai lagu daerah terbaik.

Lagu ini menggambarkan betapa indahnya Pulau samosir yang dikelilingi oleh Danau toba. Dalam lagu ini juga dijelaskan bahwa Pulau samosir memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Sebab di sekitaran pulau samosir kita bisa memiliki padi, kacang dan juga tempat mengambil ikan di Danau toba. Dikarenakan keindahan dan kekayaan alamnya Pulau samosir dan Danau toba adalah tempat yang selalu dirindukan.

Kini, masihkah Pulau samosir yang berada ditengah Danau toba menjadi sebuah tempat yang dirindukan ? Ditengah rusak parah yang melanda Pulau samosir dan Danau toba. Lagu Pulau samosir yang menggambarkan kekayaan dan keindahan alam ini, kini enggan untuk dikumandangkan. Bahkan dengan kenyataan hari ini, menyanyikan lagu Pulau samosir serasa berdosa dikarenakan kerusakan alam yang dialami pulau dan danau.

Semoga dengan keceriaan pada lagu Pulau samosir, semakin menggugah hati dan menambah semangat untuk mengembalikan keadaan alam di Danau toba dan Pulau samosir.

Info Penulis

pejuang suara rakyat

Bagikan:


Komentar