Istri dan Beban Ganda

oleh Firman Situmeang pada 16 September 2017 (494 kali dibaca)

Sumber : twitter.com

Keluarga merupakan sebuah hubungan terikat antara laki-laki dan perempuan dimana keduanya menjalin hubungan sejajar (mitra) dalam menjalani mahligai rumah tangganya. Namun dalam prakteknya dalam kehidupan rumah tangga terjadi pembagian kerja yang sangat kontras antara laki-laki. Dimana suami bekerja di ranah publik (mencari nafkah) dan isteri di ranah domestik (rumah tangga). Munculnya pembagian kerja yang seperti ini tidak terlepas dari kontruksi sosial yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Dimana kaum perempuan dicitrakan sebagai “konco wingking”(pelengkap suami).

Dewasa ini wajah isteri yang demikian mulai menunjukkan perubahannya. Kalau dahulu kaum isteri diidentikkan dengan peran domestik, kini kaum isteri mulai memasuki sektor publik. Kaum isteri mulai menunjukkan eksistesi dalam peranannya dalam keluarga. Bahkan dewasa ini muncul sosok-sosok isteri yang jabatannya jauh lebih tinggi daripada suami. Sebut saja Tri Risma (walikota Surabaya), Megawati (Mantan Presiden ke-5), ataupun Sri Mulyani (Menkeu).

Mulai eksisnya kaum isteri dalam ranah publik tak pelak membuat berbagai pihak mengklaim bahwa kesetaraan gender di Indonesia mulai menunjukkan sinyalemen positif.

Gagalnya Emansipasi

Jika kita melihat wajah isteri kekinian secara sekilas maka kita akan menyimpulkan bahwa emansipasi di tanah air mulai membuahkan hasil. Namun dalam sudut pandang saya realitas yang terjadi menyatakan sebaliknya. Bagi penulis emansipasi yang ada di Indonesia adalah emansipasi yang terbayang. Adalah benar bila kaum isteri mulai diberi ruang dalam memasuki ranah publik. Adalah benar bila isteri mulai ikut berperan dalam menafkahi keluarganya.

Namun ada satu hal yang sering dilupakan oleh masyarakat yakni emansipasi baru akan terwujud bila emansipasi dilaksanakan oleh laki-laki maupun perempuan. Sayangnya emansipasi yang kita lihat hari ini masih menunjukkan emansipasi yang berat sebelah dimana hanya kaum isteri yang memperjuangkannya. Lihat saja ketika kaum isteri berjuang mati-matian untuk membantu suaminya dalam mencari nafkah, sang suami malah enggan membantu sang isteri dalam urusan rumah tangga. Alhasil kaum isteri terjebak dalam belenggu beban ganda. Di samping mengerjakan pekerjaan rumah tangga kaum isteri juga harus mencari nafkah. Sebelum dan sepulang kerja isteri harus mengerjakan urusan dapur, sumur dan kasur. Kaum isteri pun bekerja hampir seharian.

Inilah emansipasi gagal yang penulis maksud. Suami dan isteri yang harusnya menjadi mitra dalam berbagai ranah kehidupan malah menunjukkan hubungan yang top-down dimana suami memegang peranan sebagai raja.

Eksploitasi Kaum Isteri

Eksodus kaum isteri ke dalam sektor publik tentunya menjadi kabar baik dalam upaya menciptakan kesetaraan gender di Indonesia. Namun sayangnya teori tak seindah realitas yang ada. Bukannya memerdekakan, masuknya kaum isteri dalam ranah publik tak jarang malah membuat kaum isteri terjebak dalam kungkungan eksploitasi. Maksudnya dalam kehidupan berkeluarga tak jarang ada suami yang menjadikan keikutsertaan isteri dalam mencari nafkah sebagai dalih untuk mengurangi bebannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan dalam banyak kasus banyak suami yang memilih menganggur dengan anggapan bahwa sudah ada isteri yang mencari nafkah.

Sayangnya, meskipun para kaum isteri mengalaminya baik sadar maupun tidak. Para kaum isteri tidak dapat berbuat apa-apa akibat faktor-faktor yang mengikatnya.

Pertama, tuntutan ekonomi. Dalam berbagai lapisan masyarakat khususnya di pedesaan dan pinggiran kota, keputusan kaum isteri untuk ikut serta dalam mencari nafkah tidak terlepas dari masalah ekonomi yang diidap oleh keluarganya. Kalau si isteri tidak bekerja maka kondisi perekonomian keluarga akan labil, namun kalau si isteri bekerja maka dia akan mengalami eksploitasi. Isteri pun pada akhirnya terjebak dalam kondisi yang dilematis.

Kedua, faktor agama. Faktor agama menjadi faktor lainnya yang mendorong seorang ibu rumah tangga memilih untuk menanggung beban ganda. Dalam ajaran agama perempuan ditempatkan sebagai pendukung suami. Atau disebut pula sebagai pelengkap suami. Kondisi ini semakin diperkuat dengan adagium “masuk atau tidaknya seorang istri ke surga adalah bergantung pada si suami”. Adagium inipun membuat kaum isteri harus mengikuti setiap perintah sang suami karena menaati suami adalah pintu surga. Kalau isteri membangkang maka aksi kekerasan rumah tangga bisa jadi akan terjadi.

Ketiga, faktor budaya. Faktor yang tidak kalah penting yang melegitimasi ekploitasi isteri dalam keluarga adalah budaya dalam masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat laki-laki selalu ditempatkan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Bahkan meskipun penghasilan istri lebih besar daripada suami, istri tetap dianggap sebagai penambah penghasilan dalam keluarga. Alhasil kondisi ini membuat para suami mendapat pembenaran meskipun tidak bekerja. Ketika suami menganggur dan isteri bekerja maka kata-kata yang muncul yakni “namanya juga keluarga harus saling membantu”. Namun ketika suami bekerja dan hanya bersantai di rumah maka isteri akan mendapat citra buruk yakni “sebagai isteri harusnya kamu bisa membantu suami mencari nafkah bukan malah tenang-tenang”.

Diputus

Memutus fenomena beban ganda tentunya menjadi sebuah misi yang tidak mudah bahkan terdengar agak mustahil diwujudkan apalagi di Indonesia. Hal ini karena ketidakadilan gender yang selama ini terjadi dilegitimasi oleh seluruh sistem dalam masyarakat baik sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial-budaya, hingga agama. Namun bukan berarti hal ini tidak bisa ditanggulangi.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan memunculkan kesadaran akan didiri setiap masyarakat tentang kesetaraan gender dan pentingnya mnejalin hubungan yang saling seimbang antara isteri dan suami. Misalnya ketika suami dan isteri sama-sama pekerja, maka ketika pulang kerja keduanya saling bantu membantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya menyapu. Dengan memunculkan kesadaran yang demikian maka memutus beban ganda yang selama ini menjajah para isteri bukanlah hal yang niscaya.****

Info Penulis

Penulis adalah Pengamat Sosio-Politik, dan Pegiat Literasi di Toba Writers Forum (TWF).

Bagikan:


Komentar