Ini Sejarah Beberapa Kecelakaan di Danau Toba, dari Mistis Hingga Human Eror, Mana yang Anda Percayai?

oleh Riduan Situmorang pada 21 Juni 2018 (3438 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/

 

Tanah Batak terkenal dengan mistisnya. Di kampung saya, Hutapaung Utara, seseorang dari kerabat pernah tenggelam di rawa-rawa. Sebelum tenggelam, di rawa kecil bernama Siboron-boron ini, sebelumnya warga sekitar menemukan seekor ikan mas besar., berukuran 5 kg. Ukuran yang tidak terlalu besar sebenarnya. Namun, di rawa ini, jarang sekali ada ikan mas, apalagi kalau sampau berukuran 5 kg.

Ikan mas itu dimasak dan dimakan. Padahal, konon, warga sekitar sudah mengingatkan agar kalau mandi hati-hati. Singkat cerita, seseorang kerabat itu mandi, lalu tenggelam. Tragisnya, meski tidak dalam, mayat dari kerabat itu sukar ditemukan. Tim Basarnas sampai di datangkan dari kabupaten. Namun, hasilnya nihil. Mayat baru ditemukan setelah datang pertolongan dukun. Untuk mencarinya pun harus memakai ulos.

  1. Kapal Sinar Bangun

Tak lama ini, 18 Juni 2018, Kapal Sinar Bangun tenggelam dalam perjalanan dari Simanindo ke Tigaras. Tenggelamnya kapal ini menyisakan duka. Seluruh tanah air menyaksikannya. Di televisi, di linimassa media sosial, di portal berita lokal, nasional, bahkan internasional. Jumlah korban tak diketahui pasti karena tidak ada manifes. Ini sangat disesalkan karena proyeksi Danau Toba sangat mengagumkan: Monaco of Asia.

Sebelum kapal ini tenggelam, hampir keseluruhan daerah Danau Toba sedang mendung, angin kencang, ombak besar. Maka, sempat disebutkan, kapal tenggelam karena hantaman ombak. Namun, sebelum peristiwa duka ini terjadi, sehari sebelumnya konon seorang warga di Paropo, Tao Silalahi, mendapatkan ikan mas besar, berukuran 14-15 kg. Ikan ini konon merupakan ikan emas paling besar, setidaknya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Ceritanya, warga tersebut tidak mengindahkan larangan supaya ikan itu dilepas kembali ke Danau Toba. Entah ada hubungannya, pada tanggal 18 pukul 16.30, angin putting beliung di atas Danau Toba, tepatnya di Tao Silalahi Paropo. Banyak warga yang mengaku belum melihat ombak sebesar 3-4 meter sejauh ini dengan ketebalan ombak hingga 2 meter.

Namun, di atas mistis tersebut, tenggelamnya kapal ini disebut-sebut karena human eror. Kapasitas penumpang yang menurut Menhub Budi Karya, mestinya 43 orang malah diisi dengan hampir 200 orang berikut 80-an kendaraan roda dua. Pembludakan penumpang kapal ini, jika itu benar, dapat disebut sebagai salah satu bentuk keserakahan.

Apalagi konon, menurut Widya yang diwawancarai Metro TV, sempat mengatakan, para awak kapal sempat mabuk-mabukan. Mereka tak mengindahkan jumlah penumpang. Mereka tak membaca alam. Barangkali, dalam bahasa spiritualnya, mereka tak sopan kepada “penghuni” danau sehingga tragedi tak bisa ditolak. Dalam pada ini, tenggelamnya kapal Sinar Bangun dapat dibaca dari dua sisi: human eror dan tidak menghormati alam (penumpang dan danau).

  1. Tabrakan Kapal Boat dan Kapal Kayu di Ajibata 2016

Kecelakaan terjadi antara kapal boat dan kapal kayu di perairan Danau Toba pada bulan Mei tahun 2016 silam. Peristiwa ini tepatnya terjadi di perairan Ajibata Parapat, Kabupaten Toba Samosir.

Akibat kejadian ini dikabarkan dua penumpag skearat dan puluhan penumpang mengalami luka-luka. Beruntung saat kejadian ini penumpang cepat dibawa ke rumah sakit umum terdekat. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

  1. Pesta Danau Toba 2013

Perayaan Pesta Danau Toba dihiasi kejadian tragis. Kecelakaan antara sebuah kapal motor dan kapal Ferry Toa Toba I terjadi di tengah peraiaran Danau Toba. Kejadian ini terjadi pada bulan September tahun 2013 silam.

Diketahui kejadian tersebut menggakibatkan belasan orang penumpang di kapal motor mengalami luka-luka. Terdapat 85 penumpang dalam kejadian. Empat orang dari puluhan penumpang dikabarkan hilang akibat kejadian tersebut. sedangkan 81 penumpang lainnya dikabarkan selamat.

  1. KM Peldatari 1997

Tenggelamnya Peldatari hampir mirip dengan Sinar Bangun. Jika pada Sinar Bangun ada human eror, pada Peldatari juga terjadi. Ini terjadi pada dini hari dalam pelayaran dari Tigaraja, Parapat, ke Tomok, Pulau Samosir. Malang tak bisa ditolak. Sudah hampir tiba di daratan, namun mereka malah tenggelam sekitar 150 meter dari bibir pantai.

Penyebebabnya sepele: kelebihan kapasitas. Penumpang pun berdesakan. Mereka tak sabar untuk segera keluar dari kapal yang sudah terlalu padat. Puluhan, bahkan sebagian besar penumpang di bagian anjungan dan dibagian bawah, berlomba-lomba ke depan. Puluhan penumpang bertumpuk di bagian kiri depan. Kapal pun oleng ke kiri. Melihat kapal oleng, penumpang beramai-ramai berpindah ke kanan. Kapal pun oleng ke kanan.

Kejadian itu, kata dua saksi mata, Novendra Sinaga, 16 tahun, dan Ivana boru Sidabutar, 23 tahun, berlangsung lima kali. Setelah itu, kapal terbalik dan tenggelam ke dasar danau. “Saya tidak tau apa-apa lagi. Menjelang kapal terbalik, saya melompat dan menyelamatkan diri, berenang ke pantai,” ujar Novendra, pelajar kelas III SMP Negeri VI Pematangsiantar.

Novendra malam itu menumpang kapal tersebut untuk menjenguk inanguda-nya (bibinya) di Tomok.“Saya mencoba berenang sekuat tenaga. Akhirnya saya sampai ke tepi pantai dan langsung tidak sadarkan diri. Baru sadar setelah beberapa jam di Puskesmas Pembantu Tomok,” ujar Ivana boru Sidabutar yang masih merasa traumatis atas kejadian itu.

Keduanya membenarkan, mereka malam itu baru saja menyaksikan acara hiburan artis-artis Ibukota pada penutupan Pesta Danau Toba (PDT) XVII yang berlangsung di pentas terbuka kota wisata Parapat. Pesta rakyat itu berakhir sekitar pukul 24.00 WIB. Begitu usai,
masyarakat yang umumnya penduduk Tomok, ramai-ramai menumpang KMP
Peldatari I yang berlayar lewat tengah malam meninggalkan dermaga
Tigaraja, di dekat Parapat, menuju Tomok.

  1. Epilog

Sebenarnya, masih banyak tragedi-trafedi di Danau Toba. Hanya saja, skalanya tidak besar. Biasanya hanya pada satu atau dua orang. Kadang tenggelam karena tidak tahu berenang. Kadang tenggelam karena kejauhan berenang. Kadang, tergelincir karena keasyikan foto. Kadang, hendak menolong, lalu tenggelam. Kadang karena tidak dipedulikan oleh masyarakat atau petugas setempat.

Kita tidak tahu, apakah ini mistis atau tidak. Hanya saja, kita mahfum, cerita yang pernah didongengkan orangtua adalah petuah, nasihat, dan ajaran. Dongeng itu bukan menakut-nakuti. Dongeng itu hanya perangkat lunak bahwa di dalam makrokosmos ini, kita harus saling menghormati antara yang satu dengan yang lain.

Alam bisa marah, tentu saja. Dalam scope ilmiah, ketika terlalu banyak menebang hutan, banjir bisa menerjang. Itulah salah satu bukti bahwa alam bisa marah meski dalam pengertian yang lain. Kita tak mau mencari apakah ada penghuni Danau Toba dalam bentuk lain. Pendekatan saintifik belum bisa menemukannya. Hanya saja, kita harus sama-sama maklum, bahwa adalah lebih banyak yang tidak terlihat daripada yang terlihat. Lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui.

Sudah saatnya kita saling menghargai. Alam harus dihormati. Penghuni setempat, dalam hal ini, warga setempat harus dihormati. Warga setempat pun harus menghormati pendatang, yaitu wisatawan. Jangan karena banyak tamu yang datang, maka penduduk setempat semena-mena untuk menjadikannya ladang uang sehingga dimasukkan ke dalam kapal hingga berdesak-desakan misalnya.

Penghuni setempat harus memanjakan pendatang supaya ketagihan untuk tetap datang, bukan malah jera, apalagi ketakutan. Pendatang, dalam hal ini wisatawan, pun harus menghargai adab masyarakat setempat. Saya punya bahasa sederhana, jika kita saling menhormati, Tuhan di atas sana pun akan gembira. Jika Tuhan gembira pada kita, apakah Dia akan memanggil umat-Nya dengan cara yang tragis?

Tuhan ingin kita saling menghormati. Pengertian “kita” di sini adalah makrokosmos. Mari menghormati alam supaya alam juga menghormati kita. Mari menghormati penduduk setempat agar mereka rindu untuk menyambut kita. Lebih-lebih, mmari menghormati tamu supaya tamu menhgormati kita dan mereka rindu untuk kembali datang.

Jangan biarkan ini menjadi pertemuan terakhir kita. Pertemuan terakhir, misalnya, dalam bentuk halus: mereka tak lagi datang, atau, mereka malah tenggelam di danau. Semoga Sinar Bangun menjadi yang terakhir. Bukankah Danau Toba adalah lambang kebahagiaan kita, bukan malah lambang tragedi yang memilukan?

DIambil dari Berbagai Sumber dan Ditulis dari Tepian Danau Toba di Balige, 21/06/2018, sambil Menikmati Sejuknya Angin Danau

Baca Esai Lainnya: Siapakah Tuhan?

Baca Esai Lainnya: Ketika Manusia Menjadi Tuhan Sekaligus Iblis

Baca Esai Lainnya: Kalau Bukan Satpam, Tuhan itu Pasti Hantu

Baca Esai Lainnya: Agamamu Agama Impor

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar