“Adatfest Sonja dan Timo” Mewarnai Hari Batak Dunia 2018

oleh Andil Siregar pada 14 Juni 2018 (380 kali dibaca)

 

Tobawriters.com. Tahun 2017 lalu diadakan seminar bertema Toward Batak Day (Menuju Hari Batak) di Samosir. Salah satu hasil rekomendasi seminar itu adalah pelaksanaan Hari Batak setiap bulan Juni penuh mulai tahun 2018 ini dengan terpulang kepada inisiatif masing-masing wilayah dan sub-kultur untuk memilih tempat dan waktunya. Alasan utama penetapan Hari Batak setiap bulan Juni adalah tradisi panen padi atau pertanian sudah dikenal berlangsung pada bulan itu.

“Hari Batak sudah dimulai di kota Koeln, Jerman dengan sebutan Batak Tag dan dilaksanakan di Rautenstrauch-Joest Museum (RJM). Di salah satu museum etnologi terpenting di Jerman yang juga menyimpan koleksi Indonesia dan Batak. Pelaksana Batak Tag berlangsung pada bulan November waktu itu oleh orang-orang Batak yang ada di Jerman. Malahan ada juga yang hadir dari Denmark. Waktu itu juga konsulat di Frankfurt adalah orang Batak, Damos Agusman Lumbantoruan. Rencana kelanjutan Hari Batak di Jerman dibayangkan dapat terjadi di kota Muenchen,” jelas Thompson HS.

Pelaksanaan Hari Batak di Jerman 2013 mendorong munculnya seminar Toward Batak Day di Samosir dan disandingkan dengan salah satu program Horas Samosir Fiesta (HSF), yaitu Batak Fiesta. Hari Batak yang ditetapkan kemudian pelaksanaannya setiap bulan Juni mulai tahun 2018 ini dapat menjadi cara yang baik untuk memilih tema kegiatan terkait kebatakan, tanpa harus seperti perayaan besar yang mengundang eforia dan dilema.

Tema “Adatfest Sonja&Timo”

Salah satu pegiat Batak Tag di Jerman 2013 lalu adalah Lena Simanjuntak – Mertes. Alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Jerman, terutama mengikuti suami, Karl Mertes yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Jerman – Indonesia (DIG). Lena dan Ketua DIG dapat menghadirkan Tim Opera Batak PLOt untuk Hari Batak di Jerman, sehingga ide meneruskan kegiatan ini di Indonesia, khususnya wilayah Batak dilakukan lagi secara inisiatif dengan memilih sebuah tema pesta adat (Adatfest), selengkapnya dengan sebuah judul Adatfest Sonja&Timo.

Menurut Thomson HS, Adatfest, merupakan sebutan yang dibentuk dari kata adat (Indonesia, Batak) dan fest (Jerman). Lazimnya, lanjut Thompson HS, dalam sebutan Indonesia (atau Batak) cukup dengan “Pesta Adat”. Jadi kata fest sengaja diambil karena Sonja dan Timo merupakan pasangan Jerman yang akan melaksanakan pesta adat itu.

Nah, kenapa pula dengan penggunaan kata adat? Tentu saja terkait dengan Sonja yang memiliki darah Batak dari ibunya, Lena Simanjuntak. Namun secara adat pula Sonja sudah serta merta memiliki marga dari ayah, Karl Mertes yang diangkat menjadi bagian dari marga Pardede pada 30 tahun lalu.

Dalam prinsip adat, ayah Sonja selengkapnya bernama Karl Mertes Pardede. Sedangkan untuk dia selengkapnya dengan Sonja Pardede. Marga dalam adat Batak memiliki makna penting jika diteruskan.
Sonja & Timo dikonstruksi agak berbeda dari kesan marga Batak yang bersifat patrilineal. Namun karena Timo belum memiliki marga, maka konstruksi itu sementara menjadi wajar. Lalu permintaan mereka untuk diadatkan secara penuh memerlukan proses dan prosedur marga. Proses pemilihan marga dalam tradisi Batak secara umum melibatkan konsolidasi keluarga.

Jika konsolidasi di tingkat keluarga utama tidak menemukan kata sepakat, konsolidasi dapat dilakukan kepada marga lain yang masih ada hubungan dengan keluarga utama. Kadang bisa berbelit-belit. Namun Timo boleh dikatakan gampang. Gampangnya begini: Karl Mertes Pardede memiliki dua adik perempuan yang dinikahi marga Silalahi dan Marga Manalu. Salah satu dari marga suami Karl Mertes itu dapat menerima Timo sebagai anaknya agar pesta adat dapat dilakukan kemudian dengan Sonja. Terkait dengan proses dan prosedur “pemberian marga” akan dihantarkan dengan sebuah seminar pada 22 Juni 2018, pukul 14.00 – 17.00.

Esok harinya, 23 Juni 2018 dua mata acara menjadi acara puncak. Jadi Keputusan menerima Timo sebagai anak Silalahi sudah selesai di tingkat keluarga. Namun secara adat, lapisan marga Silalahi dan Pardede harus menyaksikan penerimaan dan pengangkatan itu dengan sebuah upacara adat yang sering disebut sebagai Mangain dohot Mangampuhon Marga (mengadopsi dan meresmikan marga anak). Ayah angkat Timo bersama keluarga Silalahi lainnya berdaulat hadir dalam upacara adat itu, selain lapisan-lapisan lain terkait marga istri dan ibu/bapa ayah angkat Timo.
Puncak mengadopsi dan meresmikan anak terjadi sah dengan kehadiran perangkat dan simbol adat. Perangkat adat dimaksud adalah pranata tungku yang tiga, sebutan untuk variasi-variasi yang berbeda dalam pelaksanaan adat.

Diikuti juga oleh Wisatawan Mancanegara

Tungku yang tiga dalam masyarakat Batak Toba disebut dalihan natolu, di Karo disebut rakut sitelu, di Simalungun disebut tolu sauduran, di Pakpak/Dairi disebut daliken sitelu, dan di Angkola/Mandailing disebut dalian natolu. Setiap elemen marga dalam pranata tungku yang tiga akan menjelaskan peran dan fungsinya dalam pelaksanaan adat, bahkan dalam keseharian menjadi pengikat nilai-nilai sosial.

Kebetulan Timo akan diadopsi secara Batak Toba. Proses adopsi berlangsung berdasarkan hasil pertemuan dengan Punguan Silahi Sabungan di Balige, Kabupaten Toba-Samosir. Silahi Sabungan adalah induk dari delapan (8) marga Silalahi dan satu putrinya. 8 marga itu juga menurunkan sub-sub marga yang menjelaskan deretan generasi yang terkadang dikodifikasi dengan sistem penomoran. Sistem penomoran ini pada sebagian masyarakat Batak memperjelas tutur.

Namun munculnya sub-sub marga itu di kalangan Marga Silalahi upacara tahunan untuk mengingat Silahi Sabungan tetap berlangsung 30 tahun terakhir di Desa Silalahi, Dairi. Silalahi termasuk organisasi marga terkuat dan memiliki keunikan lainnya melalui empat (4) kain tenun atau ulos yang digunakan secara spesifik hanya di kalangan mereka. Keempat ulos Silalahi itu akan kelihatan dalam “Adatfest Sonja&Timo”. Keempat ulos yang dimaksud adalah ulos gobar, ulos simangkatangkat, ulos polangpolang, dan ulos ragi siantar. Sedangkan ulos lain secara umum pada sub-kultur Batak Toba juga akan muncul dengan beberapa macam dan merupakan tenunan asli tangan (gedhokan).

Terkait pesta adat itu pihak keluarga Sonja&Timo datang dari Jerman dan tiba di Balige pada 21 Juni. Selain dari Jerman ada juga yang datang sengaja dari Belanda, Finlandia, dan Jakarta khusus menghadiri acara pesta adat itu. Balige akan kedatangan tamu luar negeri lewat Kualanamu dan Silangit. Dari kota-kota di Sumatera Utara tamu-tamu dipastikan berdatangan dari Medan, Perbaungan, Tebingtinggi Siantar, Kabanjahe, dan Kotacane. Beberapa fasilitas penginapan di Balige mulai terisi oleh tamu pesta adat itu dari 21 – 24 Juni 2018. Selanjutnya mereka berencana menikmati Danau Toba dari Parapat dan Samosir.

Acara ini dilaksanakan bersama PLOt Siantar dan didukung oleh T.B. Silalahi Center, Pemkab Tobasa, Deutsche-Indonesische Gesellschaft (DIG), Binter Production, dan Bagian Promosi Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).

Info Penulis

Pendidik di SMA/SMP Budi Murni 3 Medan dan Konsultan pendidikan Fisika di Ganesha Operation Medan. Ketua Umum UK-KMK St Martinus UNIMED yang ke-21 (2011-2012)

Bagikan:


Komentar