Demokrasi: Akhir Hikayat Suara(?)

oleh Riduan Situmorang pada 7 Juni 2018 (272 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari bigstockphoto.com

 

Bagaimana mendefinisikan negara ini? Cukupkah dengan membaca media sosial yang penuh sesak dengan hoax, pemelintiran berita, hingga serapah-serapah kebencian? Baiklah, langsung saja, media sosial hanya dunia angan. Tak nyata. Dunia dengan bergelimang serapah itu hanya berada di awang-awang. Tak ada perjumpaan dan tatap muka, apalagi adu jotos di sana. Jadi, meski pada berbagai komentar kita saling caci, itu hanya dunia angan-angan. Kalau mengacu pada filsuf Emmanuel Levinas (1906-1995), dunia seperti ini hanya ilusi, tak pernah ada. Hidup harus berjumpa dengan syarat utamanya tatap wajah dan bersentuhan.

Karena itu, mendefinisikan negara ini tak bisa melihat ilusi yang demikian. Kita harus melihat langsung ke kenyataan. Seperti apa misalnya kenyataan itu? Tolehlah ke sekitar kita. Adalah fakta yang tak bisa dibantah bahwa kini bangsa kita sedang disesaki kedengkian dan kebencian. Miris sekali sebenarnya! Betapa tidak, hanya karena pilkada, kita lupa bagaimana cara mencintai; lupa bagaimana cara berdebat; lupa bagaimana cara memperlakukan orang lain. Terkait kelupaan itu, di berbagai status media sosial, saya melihat berbagai keluhan betapa pilkada sudah merusak nalar dan moral.

Hanya karena ajang pilkada, yang hingga detik ini pengertiannya tak lebih dari lomba hitung-hitung suara, kita pernah mendadak menolak mendoakan mayat. Kita tak sadar bahwa lomba hitung-hitung suara ini hanya pesta orang-orang nakal. Kebanyakan pesertanya adalah calon pesakitan KPK. Kebanyakan pesertanya adalah penggarong. Celakanya, demi calon pesakitan KPK dan penggarong ini, kita harus saling melaknat dan menghujat. Kita lepas dari kewarasan berpikir. Kita seakan tak sadar bahwa suara kita sama sekali bukan bagian dari suara para penggarong itu.

Menjadi Keheningan

Suara kita bukan teriakan kebencian, bukan pula bisikan kongkalikong. Suara kita (rakyat) adalah suara mulia: suara Tuhan (vox dei populi, vox dei). Suara kita adalah bisikan kerja sama dan teriakan kemenangan. Hanya saja, karena ketidaksadaran itu, suara mulia itu dibuat menjadi legacy bagi para penggarong. Dengan suara itu, para penggarong seakan terberkati (vox dei) untuk kawin-mawin dengan para pebisnis pecundang. Analisis Oxfam yang menyebutkan bahwa kekayaan 4 orang terkaya Indonesia setara dengan harta 100 juta orang termiskin dalam hal ini dapat menjadi bukti kuat.

Baca Ulasan Lainnya: Menebak Masa Depan Djarot di Sumut

Betapa tidak, dalam angka yang lebih detail, 10 persen orang terkaya Indonesia menguasai (sebenarnya menggarong) sebanyak 77 persen kekayaan nasional menjadi bukti kuat bahwa penggarong sudah kelewat batas. Sederhana saja, bagaimana mungkin pemilik vox dei (90 persen) dapat hidup kalau harus berebut kekayaan negeri yang hanya tersisa 23 persen lagi, tak sampai seperempat karena dimonopoli elite politik dan pebisnis serakah? Belum selesai berita itu, oh, kita harus tersedak lagi melihat berita penggarongan yang terungkap melalui skandal e-KTP yang kian memanas akhir-akhir ini.

Ini adalah skandal terbaru penggarongan yang terungkap. Nah, siapa yang merestui para penggarong itu kalau bukan kita? Pikirkanlah sekali lagi dengan lamat-lamat betapa selama ini kita berkelahi demi para penggarong itu. Kita tidak tahu bahwa mereka yang kelihatan seteru di layar televisi ternyata acap malah sekutu di balik laci. Betapa tidak, dalam contoh megaskandal e-KTP, baik oposisi maupun koalisi sama-sama dapat bagian. Ini menjadi bukti kuat bahwa penggarong tak punya partai. Mereka bahkan tak punya agama.

Jadi, bagaimana bisa kita harus berseteru atas nama agama dan partai jika mereka saja tak punya partai dan agama? Saudara-saudaraku, mulai saat ini, marilah menggeliatkan nurani dan nalar. Kita adalah pemilik suara Tuhan. Jangan biarkan suara kita menjadi tumpukan kebisingan. Suara kita adalah puisi-puisi keindahan, bukan serapah dan laknat. Mari sadar bahwa suara kita yang disebut sebagai suara Tuhan itu sedang dimakamkan tepat ketika terkumpul di kotak suara. Makamnya adalah bilik suara di mana petinya adalah kotak suara. Suara kita menjadi suara lirih.

Suara kita mendadak menjadi keheningan: tidak ada bunyi, apalagi bentuk. Di sini tak berlaku puisi John Cage yang dengan gegap gempita menyebut bahwa suara terindah itu adalah keheningan. Keheningan justru sudah menjadi kematian. Bentuk terbaiknya, tolehlah pada Wiji Thukul. Bukankah dia dibungkam ketika dengan kukuh berteriak: apa guna ilmu kalau hanya untuk mengibuli? Wiji Thukul tidak sedang meneriakkan kebencian. Dia justru sedang mengutuk karena para elite menggunakan ilmu yang diperolehnya untuk mengibuli rakyat.

Teknis yang mereka lakukan adalah propaganda dan mistifikasi bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Suara yang kemudian terbukti menjadi suara kepongahan. Suara yang kelak dikumpulkan sehingga yang lahir hanya kebisingan. Suara-suara yang dihimpun dengan segepok uang. Begitukah suara Tuhan? Yang lebih penting, bisakah Tuhan dipaksa untuk bersuara hanya dengan segepok uang yang tak abadi itu? Bisakah Tuhan bersuara lewat tangan-tangan kotor? Bisakah Tuhan tak diikutkan dalam menentukan suaranya?

Baca Ulasan Lainnya: Negara Apa Ini?

Saudaraku, Tuhan itu kumpulan dan puncak puisi. Dia mencipta hanya dengan sebuah puisi. Tuhan bukan tempat untuk berkerumun dengan kumpulan suara-suara yang dikotakkan itu. Maaf, namun saya harus mengatakan ini: dalam demokrasi Tuhan nyata-nyata telah dibunuh. Tuhan telah mati, begitu Nietzsche bertutur. Kematian yang nyata-nyata turut membawa suara kenabian itu pergi. Tolehlah pada demokrasi kita. Bukankah kita hanya memestakan suara, memestakan kebisingan, seakan semakin bising, maka semakin baik?

Semoga Tidak!

Sekali lagi, mari ramai-ramai saling menyadarkan bahwa demokrasi hanya lomba hitung-hitung suara. Jika lebih baik, paling tidak demokrasi hanya lomba menghiasi kata-kata. Di sana ada program yang berbunga-bunga. Tetapi, semua suara yang indah itu akan hilang tepat ketika rakyat mencoblos gambar di tempat pemilihan suara. Suara itu akan disosor para petinggi partai lalu dibagi-bagikan kepada para pengusaha serakah. Mereka akan makan melalui suara kita, sementara kita akan mati karena suara kita itu.

Suara kita bukan lagi aspirasi, tetapi alat respirasi, bahkan reproduksi bilogis bagi mereka. Ibaratnya, kita bersuara untuk memberi napas kepada para elite dengan cara mengurangi napas kita. Saya tak sedang mengutuk demokrasi. Tetapi, demokrasi yang sampai mempertuhankan kebencian jauh lebih mematikan daripada tirani. Demokrasi ada bukan menjauhkan rakyat dari rakyat. Demokrasi lahir bukan untuk arena pertengkaran. Demokrasi digeliatkan bukan memelihara, bahkan membiakkan kebodohan.

Demokrasi adalah perayaan akal sehat yang meski saat ini demokrasi telanjur menjadi perayaan kebodohan. Demokrasi menjadi penyiksaan. Demokrasi menjadi alat bagi politisi dan mafia untuk meminjam tangan-tangan agama. Demokrasi menjadi panggung perayaan bagi mafia. Sementara kita tersisih jauh hingga pinggiran. Kita hanya pemungut sampah setelah pertunjukan panggung itu selesai. Kita tersisih karena memang panggung ini bukan panggung nalar. Ini panggung barbar. Ini panggung seperti diteriakkan John Northbrooke (1577) dengan menyebut, salah satunya, bahwa teater merupakan sarang setan.

Northbrooke, dalam pengertian dangkal, tak sedang meracau atau bercanda. Dia berkata benar selama demokrasi adalah teater yang dipanggungkan oleh para politisi Karena itu, saudaraku, jika kita adalah pemilik vox dei, marilah merawat puisi Indonesia ini dengan baik. Kalau tidak, puisi Indonesia akan menjadi keheningan: hilang. Pada masa itu, suara kita menjadi suara-suara tanpa ada telinga yang mendengar, bahkan tanpa ada lidah untuk mengucapkan. Saat itu, hikayat suara resmi tewas. Bilakah hal itu tersaji di Indonesia? Semoga tidak!

Baca Ulasan Lainnya: Menguji Kewarasan pada Pilkadasu

Baca Ulasan Lainnya: Ahokrasi dan Dehidrasi Demokrasi

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar