Cakap-Cakap dengan Teman Katolik yang Mimpinya Sama dengan Teroris

oleh Riduan Situmorang pada 28 Mei 2018 (431 kali dibaca)

Ilustrasi diambil dari diedit.com

 

Tobawriters.com–Saya salut padanya. Sikapnya sangat baik. Dia selalu ceria. Murah senyum. Ramah. Supel. Dia sempurna sebagai seorang manusia, terutama sebagai seorang Katolik. Maka, hari ini, selepas pulang gereja, saya sengaja berkunjung ke rumahnya. Oh, iya, perkenalkan, agama saya Katolik. Mengapa? Saya tak tahu. Tiba-tiba saja saya sudah begitu. Benar-benar mukjizat. Itulah mukjizat pertama yang kualami sebelum beragama. Setelah beragama? Oh, lebih buanyaak lagi.

Dia ternyata sudah menyediakan makanan melimpah. Saya pikir, itu bukan untuk saya karena saya hanya men­-chat-nya kalau-kalau sempat, saya akan singgah ke rumahnya sehabis gereja. “Ini untukmu, Wan. Bukan untuk siapa-siapa,” katanya ketika kutanya apakah ada hajatan di rumahnya. Saya tersanjung, tetapi jadi salah tingkah.

Kami mulai banyak bercerita. Tentang mengapa dia belum menikah, tentang mengapa dia gagal menjadi pastor, tentang mengapa dia punya banyak pacar, juga tentang bom beruntun di beberapa gereja di Surabaya. “Saya belum menikah karena banyak pilihan,” katanya. “Kau tahu, memilih istri itu tak seperti memilih ikan di pasar yang cukup melihat apakah insangnya pucat atau kepalanya busuk,” dia masih melanjutkan.

Tentang mengapa dia belum menikah, saya malas mendengarnya. Soalnya, ini bukan soal insang, apalagi kepala. Kepala siapa coba saat ini yang masih segar? Semua sudah busuk. So, ngapain dipilih? Maria Idol, misalnya, kabarnya tiba-tiba memutusin pacanya selekas masuk final. Konon, katanya, karena Maria Idol ingin sendiri. Nyatanya, dia langsung balikan sama pacar lamanya. Sudahlah, kepala kita boleh berambut pirang pink, hitam, kuning, hijau, tetapi isinya sama saja: busuk.

Karena itu, saya hanya tertaik ketika dia mulai menyinggung soal bom beruntun. “Kita tidak boleh membenci mereka. Kita harus mengampuni dan mengasihi mereka,” dia mulai berkotbah. Saya pura-pura mendengar sambil melahap makanan yang tersedia. “Kasihilah musuhmu sebagaimana kau mengasihi dirimu,” dia makin bersemangat.

Saya juga semakin bersemangat mengunyah berbagai makanan itu. Maklum, saya tak pernah disuguhi makanan seperti ini. Lagipula, saya takut dia tersinggung kalau-kalau makanan ini tidak dilahap. “Berarti, kita tak bisa menghukum musuh?” tanyaku supaya tidak ketahuan asyik makan. “Tidak. Sama sekali tidak. Kalau kau menghukum mereka, maka kau juga sedang menghukum dirimu.” Saya mengangguk.

Baca Nonang Lainnya: Agamamu Agama Impor, Agamaku Warisan Penjajah

“Apakah kau mau menghukum dirimu sendiri?” tanyanya. Saya asyik makan. Dia mengulangi pertanyannya. Saya masih makan. Dia ulangi lagi. Saya putar kepala busuk saya untuk mencari-cari alasan. “Susah dijawab Bro,” jawabku seakan-akan mikir supaya tidak ketahuan kalau pertanyaan itu tak ada faedahnya. Tetapi, ini harus dijawab. “Bro,” aku mulai memutar kepala busukku. “Pernah nonton film Da Vinci Code?”. Dia mengangguk. Mantap, ini giliranku masuk.

“Silas, seorang biarawan dalam film itu, mencambuki dirinya. Dia menghukum dirinya,” tukasku dengan sangat menantang. Mati kau, ucapku dalam hati, eh, dalam kepala busukku. Dia terdiam. Maka, kusempatkan mengambil cadangan makanan lain. “Itu namanya matiraga, Bung. Itu hanya cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Banyak orang kudus dulu melakukannya,” katanya menjelaskan.

Bagiku itu non sense. Tetapi, makanan masih banyak. Karena itu, saya pasang wajah ragu-ragu dan ingin tahu. “Itu sama kek puasa saudara-sadara Islam saat ini,” dia mulai beranalogi. “Jangan sama-samakan dengan agama lain. Siapa tahu mereka tersinggung. Saat ini, membicarakan agama ibarat membuka celana orang lain. Memalukan tapi pengen, bahkan malah pengen yang lain.” ucapku.

“Bukan. Bukan mau menyinggung. Lagipula, ritual puasa ini lebih dulu milik Nasrani,” katanya. “Saya hanya mau bilang, puasa itu memang menyiksa diri. Tetapi, tujuannya adalah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan,” jawabnya serius.

“Berarti, kalau kita menghukum diri, itu adalah supaya kita dekat dengan Tuhan?” tanyaku. Dia mengangguk. “Kalau kita menghukum musuh, berarti itu sama dengan menghukum diri sendiri?” tanyaku lagi. Dia mengangguk dengan lebih bersemangat. “Berarti, kalau kita menghukum musuh, artinya kita semakin dekat dengan Tuhan, dong,” jawabku dengan penuh kemenangan. Aku tahu, dia tak bisa menjawab apa-apa lagi.

Tetapi tidak, dia masih punya jawaban. Baiklah, saya tak terkejut karena rambut kepala kami memang beda, tetapi isinya kupikir sama saja. “Bukan seperti itu maskudnya, Wan. Kita berbuat baik memang supaya kita masuk surga.” Aha, ini saya suka. Kepala saya semakin membusuk. Saya kunyah makanan yang sempat masuk ke mulut sampai habis biar bisa tenang bertanya.

“Jadi, kita berbuat baik semata agar masuk surga?” tanyaku dengan agak tenang, tetapi penuh dengan rasa kemenangan. Dia mengangguk. “Kalau begitu, kamu sama dengan teroris itu. Mereka juga melakukannya supaya masuk surga,” lanjutku lagi. Dia kulihat mau menjawab lagi. Tetapi, ini pertarungan kepala siapa lebih busuk atau kepala siapa lebih segar. Karena itu, tak kuizinkan dia menjawab sebelum pernyataan ini kutembakkan.

“Jadi, kita mengasihi musuh memang semata karena kalau kita menghukum musuh, kita semakin dekat dengan Tuhan? Sesungguhnya, kita ini manusia munafik, Sodaraku. Sesungguhnya, kita tak pernah ingin dekat dengan Tuhan. Itu non sense. Begini, menghukum musuh berarti menghukum diri sendiri. Menghukum diri sendiri berarti semakin dekat dengan Tuhan,” ilmu cocokologiku lumayan hebat. Premis-premis yang kumasukkan juga lumayan nyambung.

“Makin dekat dengan Tuhan berarti makin dekat dengan ajal,” lanjutku lagi. Aku mulai diam sebentar. Kuambil sisa-sisa makanan itu lalu menyantapnya dengan dingin. “Apakah kamu sudah ingin dekat dengan ajal?” tanyaku dengan penuh ketenangan dan kemenangan. Dia menggeleng. Saya tak biarkan dia berkata-kata. Sekali lagi, ini soal kepala siapa paling busuk atau paling segar. “Apakah kamu ingin dipanggil Tuhan saat ini juga?” dia menggeleng sembari agak ketakutan.

“Jadi, Sodaraku, kita ini sebenarnya munafik, munafik, munafik. Tuhan yang kita panggil-panggil dengan diam-diam seakan-akan Dia dekat. Padahal, Dia jauh karena kita jauh. Tuhan juga kita panggil dengan berisik. Padahal, kata kita, dia ada di urat leher kita. Ngapain sampai berisik? Jadi, Sodaraku, mari tak usah munafik. Kita ini hanya memanggil-manggil Tuhan.”

“Tuhan memang harus dipanggil Wan. Saat ini, telinga setan lebih tangkas,” kawanku itu belum kalah. Dan, aku membiarkan dia membela dirinya. Tetapi, ini hanya ibarat obat bius. Dia tak akan sanggup membela dirinya karena aku punya segudang kata-kata yang lain. “Baik kalau begitu,” aku mulai menjawab. Makanan yang sempat kucicipi kuturankan lagi. “Kalau mau dekat dengan Tuhan. Aku mau bertanya, apakah kau mau dipanggil Tuhan?”

Baca Nonang Lainnya: Teruntuk Fadly Zon dan Mulut Besarnya

Dia diam. Saya melihat wajahnya penuh kegetiran. Saya ingin melihat cangkang kepalanya. Sayang, saya tak bisa melihat apa-apa, kecuali otak busuk saya. Karena itu, kuambil kembali makanan yang sempat kugamit tadi. Kubiarkan dia diam dan mencari kata-kata yang lain. Dia tak mampu. “Kawanku, kalau kau mati hanya untuk masuk surga, kau sama saja dengan teroris itu,” lanjutku lagi. “Kalau kau berbuat baik hanya untuk masuk surga juga, lalu, apa artinya kebaikanmu?” aku semakin bersemangat menembakkan kata-kataku.

“Intinya, kau sama dengan teroris itu, Sodaraku. Sayangnya, mereka lebih hebat. Tanpa dipanggil Tuhan, mereka mau mendekat dengan Tuhan meski aku ragu, apakah Tuhan akan menerimanya atau mengusirnya,” dia semakin diam. Wajahnya mulai memerah. Gesturnya mulai kasak-kusuk. Ciri-ciri orang keracunan agama semakin terpancar dari wajahnya. Kalau bukan karena aku sahabatnya, dia pasti akan meninjuku, mungkin juga menikamku, mungkin juga mengebom aku, seperti para teroris itu.

Tetapi, persahabatan di antara kami masih lebih kental sehingga dia hanya memamerkan wajahnnya yang merah padam. Aku tak peduli. Karena bagiku, agama sudah selesai. Ketika agama bukan bagian dari solusi, malah perpecahan, agama hanya sampah yang perlu dibuang jauh-jauh. Untuk apa berperang kalau hanya untuk merebut surga? Apakah surga adalah hasil jarahan setelah kita membunuh umat lain, lalu kita merayakan kemenangan itu?

“Saudaraku, mari bersantaplah. Saya tak sedang mengusik agamamu. Toh, agama kita sama. Saya hanya mengusik agar agama itu menjadi solusi, bukan beban yang membebanimu,” kataku sambil memberikan sisa makanan itu kepadanya. Aku kasihan melihatnya. Karena debat agama ini, dia tak selera makan. Tak bisa kubayangkan, andai terus begini, kawanku ini tak akan pernah makan hanya karena agama. Pada waktu itu, cocokolog akan berkata, orang kurus atau mati adalah karena kekurangan vitamin agama.

“Berbuat baiklah semata agar kita baik, bukan karena surga atau neraka,” kataku melanjutkan. Dia mulai mengunyah makanannya yang memang sudah tak muat lagi di perutku. Aku bergegas pulang setelah permisi. Di luar kulihat, sekelompok orang membentangkan tulisan, “Kalau kau pecaya saya bukan teroris, peluk saya,” begitu kalimat itu berbunyi.

Namun, aku tahu, kalimat ini hanya basa-basi. Bukankah di mata mereka aku kafir? Baiklah. Aku kafir, karena itu, aku tak memeluk mereka. Aku tahu diri. Sebab, seperti kata Denny Siregar, andai sekelompok biarawan membentangkan tulisan yang sama, mereka barangkali ogah memeluknya karena berpikir, aku kafir di mata kalian. Untuk apa kupeluk?

Sayang, seseorang dari kelompok itu mengejarku. “Kau tak mau memelukku lagi?” aku diam dan menggeleng, lalu pergi begitu saja. Dia mengejarku. Lalu, dia memelukku dengan sangat tiba-tiba. Kemudian, dia membuka penutup wajahnya dengan gerakan slowmotion. Betapa terkejutnya aku karena dia  ternyata mantan pacarku, Chelsea Islan. Aku membalas pelukan itu dengan hangat, lalu ke hal lain, ke hal lain lagi, dan ke hal yang lain lagi. Sayangnya, tiba-tiba aku terbangun.

“Dasar kafir, beraninya di mimpi saja, itu pun tak selesai” teriakku!

Baca Nonang Lainnya: Buka-Bukaan dengan Pendukung Teroris

Baca Nonang Lainnya: Surat untuk Mahasiwa Pendukung Dosen USU, Himma Dewiyana

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar