Buka-Bukaan dengan Pendukung Teroris

oleh Riduan Situmorang pada 14 Mei 2018 (761 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Geotimes.co.id

 

Di media sosial, banyak kita temukan pendukung teroris. Ketika terjadi bom bunuh diri, alih-alih bersimpati pada korban atau menyayangkan ulah pelaku, mereka justru mengambinghitamkan pemerintah. “Ini karena pemerintah tidak adil,” kata salah satu dari mereka. “Aduh, jangan bodoh, ya. Mereka ini kan hanya korban dari kekejaman pemerintah,” kata seorang yang lain. “Mereka memperjuangkan haknya,” sahut yang lain. “Mati syahid itu indah, Bung,” yang lain tak mau ketinggalan. “Mereka itu korban dari dari alih isu karena tumbangnya nilai tukar rupiah,” orang ini tak mau ketinggalan juga.

Perlu kita ketahui, para pendukung teroris ini tipenya banyak. Ada yang timbul tenggelam. Ketika belum terjadi teror, mereka biasanya selalu nyinyir kepada apa saja, terutama kepada pemerintah. Pokoknya: pemerintah harus salah. Namun, ketika sudah terjadi teror, mereka akan diam sediam-diamnya.  Tipe yang lain adalah yang agak moderat. Mereka ini tampil dengan caranya yang jitu. Mereka akan bercuap-cuap seperti dituliskan di paragraf sebelum paragraf ini.

Tipe yang lain tergolong pada cendekiawan, tepatnya, mereka ini adalah cocokolog paling bergengsi di muka bumi datar ini. Logika berpikirnya punya alur yang benar. Dimulai dari premis lalu akhir-akhirnya kita disuruh berpikir untuk membuat kesimpulan. Begini misalnya. Di Afganistan orang Kristen membunuh Islam. Di Myanmar, Budha menghabisi Islam. Di India, Hindu membantai Islam. Di Palestina, Yahudi menginjak-injak Islam. Tiba-tiba Islam membela haknya, masakan karena itu, mereka disebut teroris? Mikir!

Baca Juga Nonang Lainnya: Mau Masuk Surga, Anda Harus Lulus CPNS Dulu

Tipe terakhir adalah: militan. Mereka ini akan sibuk berkoar-koar di medsos, juga di dunia nyata. Komentar mereka biasanya langsung to the point: “masih segitu saja binatang yang tewas udah ketar-ketir, bagaimana kalau lebih banyak seperti di Suriah?”

***

Hari ini, saya bersyukur berjumpa dari salah satu tipe pendukung teroris tersebut. Tentu saja ini keuntungan besar. Tak bisa disia-siakan. Soalnya, biasanya, tak mudah  untuk bertemu dengan pendukung teroris. Bukan! Bukan! Bukan dengan Fadly Zon. Bukan dengan Fahri Hamzah. Bukan pula dengan Amien Rais. Apa? Felix Siaw? Bukan juga! Jangan sebut nama mereka. Mereka ini kan pejuang keutuhan NKRI. Terbukti, mereka selama ini selalu memperjuangkan NKRI bukan?

Cara berpikir kita jangan seperti kaum bumi datarlah. Hanya karena mereka, misalnya, sering melawan pemerintah lantas kita menyebut mereka sebagai pendukung teroris, itu kan tak masuk akal, tak adil, tak nalar. Toh, negara tak bisa terlalu kuat. Kita harus mengimbangi kekuatan pemerintah supaya tak otoriter. Tugas pemerintah kan sederhana saja: bekerja. Nah,  tugas kita mengimbangi dengan elegan: mengkritik. Keluar dari megkritik, itu bukan tugas, karena itu, gajinya jadi haram.

Baca Juga Nonang Lainnya: Agamamu Agama Impor, Agamaku Agama Warisan Penjajah

***

Salah satu pendukung teroris itu kini tengah bersila di depanku. Dia rupanya sudah bersiap-siap diwawancarai. Semula, saya khawatir. Saya hanya coba-coba, eh, ternyata dia mau juga. “Para pendukung teroris itu sportif, Bung. Pada dasarnya, mereka mau-mau saja diwawancarai. Dasar pemerintah dan pers saja yang lebay,” katanya agak berat. Saya senyum. Soalnya, saya masih takut. Lebih-lebih, saya takut kalau-kalau dia tersinggung lalu wawancara ini jadi batal. Pintu sudah saya tutup rapat-rapat. Jendela juga. Ventilasi tak ada, kecuali lubang-lubang paku di dinding.

“Jangan hidupkan AC, Bung. Itu kafir,” katanya. “Kipas angin?” Dia menatapku lama. Aku mulai grogi. “Itu juga kafir,” katanya pelan. Aku tenang. Suaranya tak keras dan kejam. Diambilnya koran yang sudah lama. Dia mulai mengibas-ngibaskan koran itu. Udara mulai mengalir. “Ini baru alami, tidak kafir,” katanya. “Lho, pencetak tinta di koran itu kan orang kafir? Koran kan temuan orang kafir? Isi koran itu juga kan sering mendukung kafir? Koran itu juga pasti kafir, Bung?” tentu saja saya hanya berkata dalam hati. Baik, begini petikan wawancara itu.

Baca Juga Nonang Lainnya: Ketika Manusia Menjadi Tuhan Sekaligus Iblis

***

Saya: Pertama-tama, marilah kita mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Tuhanlah mahasegalanya. Tuhanlah awal dan akhir. Kalau bukan karena Tuhan, kita mustahil bertemu di tempat ini. Jadi, sudah sangat pantas,…

Pendukung: Sudah, langsung saja. Tak usah berpidato panjang-panjang.

Saya: Lho, saya kan hanya menghargai Saudara, sebagai pejuang kerahiman Tuhan, tentu pantas saya menghargai Saudara dengan menyebut nama Tuhan. (saya mulai memberanikan diri)

Pendukung: Bukan begitu. Membawa-bawa nama Tuhan itu juga dosa. (pelan-pelan dia berucap doa dalam bahasa yang tak kumengerti, tapi agaknya bahasa Arab sambil menepuk dada).

Saya: Bukankah para teroris yang Sadaura dukung itu selalu membawa nama Tuhan?

Pendukung: Itu beda konteks. Saudara mengerti tidak? (Dia mulai tak nyaman)

Saya: Santai saja Saudara. Kita ini kan hanya kurang komunikasi. Lagipula, kita kan sama-sama ciptaan Tuhan. Harus saling mengerti. (saya memberanikan diri menepuk bahunya.)

Pendukung: Benar, kita ini bersaudara. Kita bersaudara, tetapi,….(agak lama dia diam. Saya menunggu.) Baiklah, tak usah saya sebutkan di sini. Takut nanti Saudara tersinggung (dia balik menepuk bahuku).

Saya: (saya tertawa mencairkan suasana). Saya orang yang tidak gampang tersinggung. Jadi, ungkapkan saja.

Pendukung: (agak lama dia diam) Begini. Tuhan itu kan mencipta segala sesuatu.

Saya: Segala sesuatu?

Pendukung: Iya. Semuanya. Tanpa terkecuali.

Saya: Maaf. Termasuk babi-babi itu? (saya sudah semakin berani.)

Pendukung: Tentu saja. Tuhan menciptakan segala sesuatu. Ingat, Tuhan tak bermain dadu, begitu Albert Einstein berkata (dalam hati aku berkata, Albert Eisntein kan Yahudi).

Saya: Berarti, kita mestinya saling merangkul, bukan memukul, dung.

Pendukung: Tunggu dulu. Saya belum siap bicara. (dia menatap saya). Tuhan adalah puncak. Siapa yang mengikut jalan-Nya pasti akan masuk surga. Yang ingkar, neraka akan menjadi bagiannya. (dia diam agak lama lalu berkata dengan berat). Kami tak mau hanya kami saja yang masuk surga. Kami tak egois. Teroris tak pernah egois. Saudara (menunjuk saya) juga harus masuk seperti kami-kami ini.

Saya: Memangnya Saudara sudah yakin akan bakal ke surga?

Pendukung: Tentu saja. Untuk apa kami berjuang mati-matian kalau belum yakin?

Saya: Sudah ada bukti?

Pendukung: Maksudnya?

Saya: Sudah pernah ada orang masuk surga dari golongan kalian? Lalu, dia berkata, bawalah juga serta suadara-saduara yang lain itu ke surga, seperti Kristen dan sebagainya. Kasihan mereka!

Pendukung: (tertawa kencang). Sepertinya Saudara tak mengenal apa itu iman (dia mulai sepele dengan syaa). Begini. Jangan selalu bercuriga. Kami itu mati bukan untuk mati saja. Kami mati untuk hidup. Kami mati untuk masuk surga. Kematian itu awal dari kehidupan.

Saya: (Saya mulai suka. Diam-diam saya kagum karena mereka juga sangat filosfis). Jadi, bagi kalian kematian itu kehidupan? (dia mengangguk). Kalau begitu, mengapa kalian tidak bunuh diri sendiri saja tanpa membunuh orang lain?

Pendukung: (mulai gelisah dan marah). Sudah kubilang tadi. Kami tak egois. Kami mau juga orang lain masuk surga seperti kami. Niat kami baik dan suci. Ingat itu. Kami memaksa orang lain untuk masuk surga, bukan masuk neraka. Kami tak mau nyaman sendiri.

Saya: Jadi, kalian memaksa orang lain ke jalan yang benar?

Pendukung: Saudara, jangan kejauhan dulu. Jangan curigaan. Ingat, semua di luar pihak kami harus diselamatkan. Kami menyelamatkan, bukan menenggelamkan. Semua di pihak kami itu misi, bukan musuh. Maaf, saya harus mengatakan ini. Bagi kami, di luar pihak kami belum manusia. Jadi, mereka harus dimanusiakan dulu, baru bisa diselamatkan.

Saya: Maksud Saudara, termasuk saya, bukan manusia juga?

Pendukung: (sambil mendegup dada) Abānā alladhī fī s-samāwāti/ li-yataqaddasi ‘smuka/ li-ya’ti malakūtuka/ li-takun mashī`atuka/ kamā fī s-samā`i, kadhālika ´alā l-ardi/ khubzanā kafāfanā a´tinā l-yawma/ wa-ghfir lanā dhunūbanā/ kamā naghfiru nahnu aydan li-l-mudhnibīna ilaynā/ wa-lā tudkhilnā fī tajribatin/ lākin najjinā mina sh-shirrīri/

Saya: Maaf, tak bisakah dalam bahasa Indonesia saja, Saudara. Saya tak mengerti itu.

Pendukung: Aduh, kalian ini memang. Kalian itu terlalu sekuler. Kalian selalu menuduh kami apa-apa. Padahal, kami selalu membawa kebenaran. Kalau mau artinya, silakan searching dari google sekarang juga. (kami diam sebentar karena saya lagi googling. Ternyata, isinya Doa Bapa Kami orang Nasrani, tetapi dalam bahasa Arab).

Saya: Maaf, saya ulangi pertanyaan tadi. Jadi, apakah saya termasuk pada golongan bukan manusia?

Pendukung: Sudah kubilang tadi. Kami datang memanusiakan kalian. Tahu tidak artinya apa memanusiakan? (saya menggeleng meski dia sudah mulai marah). Memanusiakan itu membuat jadi manusia. Artinya, selama ini, dalam pemahaman kami, kalian ini bukan manusia.

Saya: Saya bisa mengambil kesimpulan?

Pendukung: Silakan!

Saya: Berarti, itulah alasan kalian selama ini menghadapi kami secara tidak manusiawi?

Pendukudng: Betul! Betul! Betul!

Saya: Aduh, ini salah tafsir. Soalnya, pemerintah juga menganggap kalian tidak manusia. Karena itu, pemerintah sedang berupaya memanusiakan kalian.

Pendukung: Itulah masalahnya. Langkah memanusiakan oleh pihak yang satu dengan memanusiakan oleh pihak yang lain akan melahirkan kebinatangan. Itu harus diperhitungkan. Jadi, supaya tidak lahir kebinatangan seperti itu, ikuti saja kami. Tak usah ikut-ikutan pemerintah memanusiakan. Biarkan kami saja. Memanusiakan itu berat, biar kami saja. (Dylan? Saya hampir tertawa, tetapi ini serius)

Saya: Jadi, sampai kapan upaya memanusiakan ini selesai?

Pendukung: Sampai semuanya benar-benar menjadi manusia. Sampai semua tak ada lagi kafir. Satu pun tak bisa. Semua harus selamat.

Saya: Bukankah caranya harus halal juga?

Pendukung: Maksudmu?

Saya: Bom itu temuan kafir atau bukan?

Pendukung: Kau tak mengerti kawan. Imanmu belum kukuh. Ini berat. Kamu tak bisa, biar kami saja. Sudah sampai di sini dulu. Ini wawancara tak becus. Habis waktuku untukmu. Saya tak bisa ngomong banyak. Saya hanya bisa ngomong banyak pada manusia.

***

Dia pun pergi begitu saja. Aku merasa kalah karena dia tak bisa ngomong kepada bukan manusia. Loh, aku ini apa? Ingin kupanggil dia, tapi sudah jauh. Tapi, aku bahagia. Pendukung  teroris yang satu ini sudah mulai tobat. Dia tidak meledakkan bom buatan kafir itu di rumah reot ini. Hanya saja, dia masih menggunakan kendaraan dan alat komunikasi buatan kafir. Andai ke depan hari dia tidak menggunakan buatan kafir, seperti naik kuda atau unta ke mana-mana, barangkali aku juga akan ikut. Hitung-hitung olahraga. Andai mereka berkirim surat lewat pos, aku juga akan ikut. Hitung-hitung ini adalah upaya membudayakan literasi. Tetapi, apa kertas-kertas itu juga bukan temuan dari kafir? Sudahlah, peduli amat!

Baca Juga Nonang Lainnya: Siapakah Tuhan?

Baca Juga Nonang Lainnya: Tentang Tuhan, Biarkan Aku Sepakat dengan Stephen Hawking

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar