Ayo, Mari Memberi Anies Seberkas Cahaya

oleh Riduan Situmorang pada 25 Oktober 2017 (530 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari digaleri.com

 

Karena Ahok, lilin pernah menyala di berbagai pelosok negeri, bahkan menular sampai ke negara-negara lain di dunia. Ahok memantik orang untuk memberikan sinarnya. Ahok kini memang dipenjarakan. Namun, sebagaimana cahaya, Ahok tak berhenti bersinar. Ahok ibarat matahari. Seberapa kuat pun benda-benda planet menghalangi, matahari akan tetap bercahaya. Matahari tak akan berhenti berbinar selama energi di dalamnya masih kuat. Artinya, matahari tak tergantung benda-benda planet yang menghalangi.

Matahari tergantung pada dirinya: akan tetap bersinar selama masih menyimpan energi meski ayam tak berkokok. Barangkali, karena menyadari hal itu, bahwa Ahok tak akan berhenti bersinar, meski di penjara sekalipun, maka konon ada oknum yang ingin membunuh Ahok di penjara. Ini masuk akal sebab kejahatan tak punya etika dan pertimbangan. Kejatahan hanya punya perhitungan. Perhitungannya adalah seberapa untung dan seberapa rugi. Kejahatan tak mengenal dosa, kecuali keuntungan. Kasus penyiraman wajah Novel Baswedan dengan air keras bisa menjadi contoh.

Untunglah kemudian Ahok dipindahkan. Pengamanannya lalu diperketat. Namun, sekali lagi, kejahatan tak mengenal rasa ampun. Karena itu, Ahok tetap saja dalam ancaman. Target mereka adalah membunuh matahari, bukan menempatkan benda-benda planet di sekitar matahari itu. Saya pikir, menjadi tugas bangsa ini untuk tetap merawat Ahok. Ahok bukan dalam pengertian sempit, tentu saja. Sebab, Ahok bukan semata Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur Nonaktif DKI itu. Ahok, seperti kata Goenawan Moehamand, adalah pejuang kebenaran. Mereka ini adalah kaum minoritas dalam sikap. Benar-benar minoritas.

Tak Terdefinisikan

Sebab, bukankah rerumputan selalu lebih banyak daripada padi? Betapapun kita bersemangat menyingkirkan rerumputan, nyatanya rerumputan akan tetap merongrong padi. Betapapun kita menanam padi, ilalang akan selalu hadir. Sangat jarang, untuk tidak menyatakan tidak pernah sama sekali. Bahwa kalau kita menanam rerumputan, maka akan tumbuh padi-padian. Begitulah kehidupan. Kita menabur kedamaian, tetapi kejahatan selalu tumbuh. Kejahatan sudah menjadi takdir. Kejahatan tak pernah diciptakan, tetapi timbul sendiri.

 

Baca Juga Opini Lainnya: Tak Perlu Bertoleransi

 

Tuhan mencipta bumi ini baik adanya, serupa surga di taman firdaus. Tuhan tak menciptakan kejahatan pada masa itu. Namun, sejarah kemudian membuktikan bahwa kejahatan nyata-nyata tercipta sendiri. Meski tak diternakkan, kejahatan akan menetaskan telur-telur kejahatan lain. Kejahatan itu tak terdefinisikan. Kejahatan ibarat hantu, tetapi pada saat yang sama juga ibarat nabi. Dia datang bersama kebaikan, tetapi pergi dengan kejahatan. Kejahatan adalah tuhan lain selain Tuhan yang kita sesembah dengan hening.

Jika Tuhan mencipta kebaikan, maka tuhan itu mencipta dirinya dengan sendirinya sebagai kejahatan. Jadi, kalau ada banyak orang yang berterik bahwa Tuhan telah mati, seperti dengungan Nietsche, tepat karena padi dirambati ilalang, itu hanyalah rintihan minta tolong. Tuhan tak pernah mati. Yang ada, tuhan lain tumbuh semakin kencang. Lalu, tuhan lain itu hadir seakan membunuh Tuhan dalam hati kita. Tak semua tuhan lain mampu menumbuhi hati manusia. Ada saja manusia yang rajin menyiangi hatinya. Untuk saat ini, mereka bisa kita sebut sebagai Ahok. Mereka adalah penikmat nurani.

Seperti kata Goenawan Moehamad, mereka ini (Ahok) ada, pernah ada, dan akan selalu ada. Jumlahnya saja yang minim. Tempatnya saja yang berbeda. Waktunya saja yang lain. Jadi, Ahok itu adalah simbol perlawanan. Perlawanan ketika kebaikan hampir dilumat kejahatan. Untunglah, pada abad kontemporer ini, sawah untuk kebaikan semakin luas. Itu terlihat dengan hadirnya demokrasi untuk menjungkalkan kediktatoran. Namun, kita perlu berhati-hati. Bersebab demokrasi adalah sawah yang luas untuk kebaikan, demokrasi juga rentan menjadi tempat tumbuhnya rerumputan liar.

Apalagi konon, demokrasi tak selalu dapat mendefinisikan apa itu kebaikan. Demokrasi pada pengertian dangkalnya malah hanya kerumunan. Demokrasi pada titik ekstremnya bahkan hanya lomba kebisingan. Siapa paling bising, maka itulah yang paling baik. Karena itu, demokrasi sering jatuh menjadi grasa-grusu (merasa benar dan merusuh yang benar). Itulah yang terjadi pada Ahok. Karena kebisingan dan kerumunan, Ahok menjadi penghuni penjara. Sekali lagi, Ahok dalam esai ini hanya simbol. Ini bukan semata Basuki Tjahaja Purnama. Jika pun itu Basuki Tjahaja Purnama, dia hanyalah contoh kecil.

Sebab, jika kita cermat, dari gumpalan sejarah, kita dapat melihat ada banyak Ahok lain yang sering menjadi tumbal. Sekadar menyebut contoh, Ahok itu juga Alfred Dreyfus di Perancis. Dengan bukti yang tipis, Dreyfus dibungkam. Di negeri ini, Ahok-Ahok lain masih banyak. Hanya saja, mereka dikungkung. Mereka bahkan sering dikriminalisasi. Mereka tak dibiarkan bergerak lebih jauh karena seperti kata Jakob Soemardjo, kebaikan itu tanpa pamrih. Karena tanpa pamrih, kebaikan akan berhenti begitu saja tanpa mengharapkan imbalan.

Membukakan Mata

Kebaikan it tak genit, apalagi cerdik dan canggih. Sebaliknya, kejahatan memiliki hierarkinya sendiri: semakin pandai kejahatannya semakin canggih, semakin kuat kejahatan semakin mengerikan. Dengan kejahatan, suara tiruan bisa menjadi suara asli. Dengan kejahatan, niat bejat menjadi kebaikan. Ini digambarkan dengan gamblang dalam pengalaman Atticush Finh, tokoh fiktif To Kill A Mockingbird karangan Harper Lee. Atticush Finh menolak suara kerumunan yang mengandalkan kebisingan. Atticush tak membiarkan tuhan lain merambat pada hatinya. Karena itu, dia membela Tom Robinson.

 

Baca Juga Opini Lainnya: Kelas Pancasila

 

Tetapi, suara kerumunan lebih canggih. Sebelum pengadilan, Tom Robinson sudah diadili. Sebelum dibunuh pengadilan, orang ramai bahkan sudah membunuhnya di jalanan sesuai selera kerumunan. Inilah yang kurang lebih kata Goenawan Moehamad telah terjadi pada Ahok. Ahok maju ke dalam arena dengan belenggu di tubuhnya: belenggu sebagai “penista agama”. Ia bisa bergerak dan bisa bicara, tapi tak sepenuhnya bebas. Ia dibelenggu, dipertandingkan tanpa senjata. Orang lain pun takut untuk mendukung sebab keramaian adalah sesuatu yang ganas.

Kini, Anies sudah dilantik. Di sisi lain, lilin-lilin untuk Ahok sudah memudar meski bukan hilang. Saya tak sedang mengatakan agar kita memperjuangkan Basuki Tjahaja Purnama semata. Terlalu dangkal perjuangan kita kalau hanya berjuang untuk Basuki Tjahaja Purnama. Toh, dan sudah terbukti, Basuki Tjahaja Purnama akan tetap bersinar di balik jeruji. Perjuangan kita saat ini adalah bagaimana sinar itu bisa dilihat. Sebab, adalah tak ada guna sinar tanpa ada mata yang melihat. Sinar akan menjadi kegelapan bagi orang buta.

Karena itu, saat ini, setelah Anies benar-benar menang, tugas kita tak lagi hanya menyalakan lilin. Tugas kita adalah membuka mata: bahwa Anies juga mempunyai cahaya. Mengapa membuka mata? Karena hanya dengan mata terbuka kita bisa melihat cahaya. Hanya dengan mata terbuka kita mengerti mengapa Ahok dipenjarakan. Pada saat itu, pengorbanan Basuki Tjahaja Purnama yang terkurung di penjara tak sia-sia. Pada saat itu, lilin yang bercahaya dengan membakar dirinya tak percuma.

Saya punya kutipan penutup yang bagus untuk tulisan ini. Kutipan itu ada dari Bill Kovach dan Tom Rosentiels yang dimuat dalam surat kabar Scripps Company. Begini kutipan itu, “Berikan sinar(mu), maka orang-orang akan menemukan jalan mereka sendiri.” Saya tambahi kutipan itu, “Buka matamu, agar kita dapat melihat sinar itu!” Pada pokoknya saya hanya mau bilang, semoga kita bisa berjalan dalam cahaya, bukan dalam kegelapan.

Soal Anies mengucapkan kata “pribumi” ayo, marilah segera dimaafkan. Mungkin dia khilaf. Karena itu, berilah Anies kesempatan untuk memancarkan cahayanya. Hal yang sama juga berlaku untuk kita: ayo, mari memberi Anies cahaya, terutama jika dia sedang berjalan dalam kegelapan! Siapa yang tahu bahwa jangan-jangan kelak Anies merupakan salah satu contoh “ahok-ahok”. Ayo, Pak Gubernur, bekerjalah dan pancarkan cahayamu!

Baca Juga Opini Lainnya: Penganut Agama Lokal Juga Indonesia

Baca Juga Opini Lainnya: Nasionalisme Kaum Urban

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar