Apakah Anies Baswedan Ingin Menjadi Capres? Begini Hasil Wawancara Ekslusif Saya melalui Medsos…

oleh Riduan Situmorang pada 9 Juli 2018 (294 kali dibaca)

Gambar diambil dari Kompas.com

 

Menjelang Pilpres 2019, berbagai nama mulai timbul. Ada banyak nama baru. Ada Gatot, AHY, Aher, juga Anies Baswedan tentu saja. Nama-nama lama masih juga ada. Ada Mahfud MD, ada Amien Rais (katanya kembali merasa muda), dan Prabowo. Mereka inilah yang diwacanakan menjadi calon penantang atau cawapres dari Jokowi. Sebelumnya, calon penantang kuat dari Jokowi adalah Prabowo lalu disusul Gatot Nurmatyo.

Hanya saja, agaknya nama Prabowo mulai meredup. Demikian juga dengan Gatot. Memang masih berpotensi menang, apalagi kalau melihat Anies bisa mengalahkan Ahok. Tetapi, Jokowi bukan Ahok. Jika Ahok bisa didemo karena keseleo lidah lalu jatuh-jatuhnya seakan-akan digiring menjadi penistaan agama yang mahaakbar itu, Jokowi tidak. Memang, Jokowi kini dipersonifikasikan sebagai anti-Islam.

Bahkan, Jokowi disebut-sebut sebagai pemenjara ulama sehingga muncul lagu khusus untuk mengampanyekan agar Jokowi ditumbangkan. Agak aneh memang karena yang pernah memenjarakan HRS bukan Jokowi, tetapi SBY. Ajaibnya, SBY tak pernah dijuluki sebagai presiden pemenjara ulama. Ada apa ini? Apakah sampai segitunya hanya untuk menumbangkan Jokowi? Sebenarnya, dalam hati kecil saya, gampang saja sebenarnya mengalahkan Jokowi.

Cukup membuat modelnya seperti pertarungan Pilgub DKI kemarin. Benar, Jokowi bukan non-Muslim. Tetapi, banyak jalan menuju Roma, toh? Dan, ini sudah mulai dicoba berkali-kali. Dibuatlah, misalnya, Jokowi itu berlabel PKI. Kurang nendang memang. Dibuat lagi Jokowi sebagai poros Beijing. Sebenarnya kurang nendang juga. Tetapi, semuanya masih bisa berubah bukan? Masih ada waktu untuk menggiring opini-opini yang buruk.

Apalagi kini, anti pada negara Cina sedang dikumandangkan. Didengung-dengungkan, misalnya, jubelan TKA dari Cina ke Indonesia. Sementara di sisi lain, ada kekuatan yang mencoba menempatkan diri sebagai poros Mekkah, juga bagian dari Partai Allah. Ini lawan langsung dari poros Beijing yang sedang dibangun sebagai brand khusus untuk Jokowi sebagai anak asuh dari Partai Setan. Apakah ini akan berhasil? Ini tergantung kewarasan. Jadi, bisa berhasil, bisa pula tidak.

Yang pasti, jika rakyat cerdas, mereka akan tahu betapa Arab Saudi sebenarnya jauh lebih percaya ke China daripada negara berpenduduk islam terbesar di dunia ini. Ketika Raja Salman datang dan berlibur ke Bali, pemerintah kita menyambutnya dengan sangat sumringah. Raja Salman dilayani dengan sangat mewah melebihi negara mana pun. Tetapi, entah mengapa, investasi Arab ke Cina jauh lebih besar daripada Indonesia, bahkan 10 kali lipat bedanya. Makjang!

Baca Ulasan Lainnya: Supaya tak Bubar, Prabowo harus Gabung Jokowi

Tak diragukan lagi, Cina sangat intim dengan Arab Saudi. Sebagaimana dinyatakan Xi Jinping dalam artikel yang ditulisnya dalam bahasa Arab di harian Al Riyadh edisi 18 Januari 2016 silam, Cina menjadi mitra dagang terbesar sejak 2013. Pada 2014, angka perniagaan bilateral Suadi-Cina mencapai hampir 70 miliar dolar Amerika, melonjak 230 kali lipat sejak 1990.

Tenaga kerja Cina juga berduyun-duyun ke Arab. Jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun, bahkan konon lebih banyak dari TKA Cina yang diisukan akan masuk ke Indoensia. Anehnya, tak ada kecurigaan besar dari Arab seperti Indonesia yang curiganya jauh lebih besar dari Candi Borobudur sehingga kalau Candi Borobudur masuk keajaiban dunia, TKA dari Cina juga konon masuk “keajaiban” yang jauh lebih besar lagi.

Baiklah, mari masuk ke pembahasan capres/cawapres. Menguatnya nama Anies diduga-duga akan menjadi fenomena Jokowi-Jilid II. Kita tentu sama-sama tahu bahwa Jokowi sebelumnya tidak diduga-duga akan menjadi lawan yang tangguh, bahkan menjadi pemenang untuk mengalahkan Prabowo yang sudah sempat hampir pasti menjadi pemenang. Sama, kita juga tidak menduga-duga bahwa Anies akan tampil sebagai lawan Jokowi.

Sebab, sebelumnya, Anies menjadi juru bicara untuk tim pemenangan Jokowi-JK melawan Prabowo-Hatta. Anies bahkan diberi kesempatan untuk menjadi Menteri Pendidikan. Sayang, Jokowi langsung me-reshuffle-nya dan tanpa terduga, JK membidiknya sebagai “mesin” untuk melawan ketangguhan Jokowi. JK rupanya tak ingin di bawah bayang-bayang Jokowi seperti dia juga tak mau di bawah sinar SBY. JK memang JK.

Nah, apakah Anies akan maju melawan Jokowi yang baru-baru ini tak disebutnya sebagai “guru politik” layaknya JK, Prabowo, juga Zulkifly Hasan? Aau, apakah Anies akan tetap setia membangun Jakarta dengan menambahi pohon-pohon tiruan misalnya? Baiklah, begini hasil wawancara saya dengan Anies.

Riduan: Hai Pak Gubernur. Perkenalkan, ini saya Riduan Situmorang, penulis utama untuk kolom nakal tobawriters.com.

Anies: Wah, salam kemerdekaan. Ada apa Riduan Situmorang? Apakah tobawriters.com sudah bisa memproduksi tong sampah untuk menggantikan produk dari Jerman?

Riduan: Pak, ini website, bukan pabrik tong sampah!

Anies: Setidaknya berita sampah ada banyak di sana bukan? Hehehe. Lupakan Saudaraku. Saya hanya bercanda. Ini tak serius.

Riduan: (agak geram sih). Ngomong-ngomong, apakah Bapak mengenalku?

Anies: Kamu? Kamu siapa? Hehehe. Lupakan saja. Lagipula, aku tak perlu mengenalmu. Untuk apa coba? Yang penting bagiku, melalui kamu, orang bisa mengenal aku lebih dalam.

Riduan: Untuk apa Pak Gubernur?

Anies: Oh, kamu tidak tahu, bahwa aku sedang membangun popularitas dan elektabilitas?

Riduan: Lho, untuk apa kesemuanya itu Pak Gubernur?

Anies: Aduh, makanya jangan terlalu bocah mengurusi hal sepele, semacam mengurusi website sampah ini. Untuk apa coba? Hehehehe. Maaf ya. Bercanda.

Riduan: (semakin geram meski mulai sadar ternyata itu benar).

Anies: Oh, iya. Sampai mana tadi. Jadi begini, siapa tadi namamu? Oh, Riduan Situmorang. Maaf, maaf. Jadi begini, saya ulangi ya. Saya kan mau gubernur bukan untuk jadi gubernur?

Riduan: Mau gubernur bukan untuk menjadi gubernur. Maksudnya apa Pak Anies?

Anies: Aih, polos kali ternyata kau. Katanya nakal, bahkan pengisi utama rubrik nakal di rubrik ini. Tapi, kok polos ya. (Dia berhenti sebentar, mungkin sambil mengejek saya dengan muka imutnya). Begini, aku mau tiru Jokowi. Jika Jokowi menjadi presiden setelah menjadi gubernur, aku juga bercita-cita kurang lebih begitu.

Riduan: Tetapi, ketika menjadi calon gubernur DKI, Bapak sudah bilang bahwa tak akan maju menjadi capres sebelum menunaikan tugas.

Anies: Jokowi juga begitu.

Riduan: Tetapi, dulu, Jokowi kan tak pernah dibayangkan bakal menjadi Presiden? Malah Prabowo sepertinya mengangkut Jokowi dari Solo dan menandemkannya dengan Ahok agar Prabowo semakin kuat.

Anies: Nah, justru itu. Jokowi tak pernah dibayangkan. Aku sudah pernah dibayangkan. Berarti akan bisa melebihi Jokowi bukan? Lagipula, apa tadi? Apa ya? (sepertinya dia sedang mikir). Oh, iya, yang ini aku suka: supaya Prabowo semakin kuat. Jadi begini, sesungguhnya, Prabowo juga melakukan hal yang sama untukku di Pilgub DKI kemarin.

Riduan: Maksud Bapak, Bapak ingin menikam Prabowo dari belakang?

Anies: Jangan begitu Pak Riduan. Berpikirnya jangan sempit sekali. Bapak tidak pernah melihat debatku kemarin pas masih cagub. Bahasaku lembut  dan adem bukan? Kita harus seperti itu.

Riduan: Tetapi, semua omongan Bapak abstrak, tidak teknis. Bahkan, menurut pengamat, tidak ada program prioritas di Jakarta selama Bapak yang menjabat.

Anies: Oh, begitu kata orang? Peduli amat! Negara ini cukup dibangun dengan kata-kata saja Pak Riduan. Buai mereka dengan kata-kata indah, maka, kata kasarnya begini: taik dibungkus plastik indah akan menjadi kue dan kue dibungkus dengan plastik seadanya akan menjadi taik. Jadi, tak perlu teknis-teknis begitu.

Riduan: (Diam-diam, saya mulai terbuai dengan kalimat Anies)

Anies: Jadi begini Riduan. Saya tegaskan, saya tidak menikam Pak Prabowo dari belakang. Cuma, Pak Prabowo kan negarawan. Dia rela untuk negara ini sehingga apa pun bisa dilakukan. Termasuk untuk merelakan aku sebagai capres menggantikan dia supaya negara ini tak bubar pada 2030.

Riduan: Oh, saya baru nangkap. Berarti Bapak sebenarnya ingin menjadi presiden, bukan menjadi gubernur sehingga gubernur ini hanya batu loncatan.

Anies: Kurang lebih begitulah. Tak ada yang salah bukan? Namanya cita-cita dan ambisi.

Riduan: Tetapi, harusnya, kalau Bapak berambisi menjadi presiden, selama menjadi gubernur ini, Bapak harus melakukan kerja-kerja terukur, bukan malah membebaskan Ratna Sarumpaet dari hukuman derek mobil, misalnya.

Anies: Pak Riduan, Pak Riduan. Sekali lagi, jangan polos sekalilah. Di negara ini Anda tak perlu bekerja. Anda hanya perlu meraup popularitas dengan kebijakan-kebijakan populis. Ketika Anda melakukan hal populis, kebijakan aneh akan dibaca menjadi kebijakan ajaib.

Riduan: Maksudnya?

Anies: Aih! Apa Bapak tidak tahu terkait ekspor tong sampah kami dari Jerman? Apa Bapak juga tidak tahu pohon-pohon tiruan di DKI itu? Apa gunanya coba? Saya pun bingung untuk apa ini seakan-akan bangsa ini tak bisa membuat benda remeh semacam tong sampah atau menanam pohon asli? Tetapi, seperti pohon tiruan itu, manusia saat ini kan rata-rata sudah tiruan? Hatinya tiruan. Niatnya tiruan. Aksinya juga tiruan. Demo di sini, maka di sana pun akan ikut-ikutan.

Riduan: Maksudnya?

Anies: Ah, susah dijelaskan. Nanti para kosntituenku bisa marah. Cuma, saat ini, aku dan Mas Sandi sedang mencoba menghibur rakyat.

Riduan: Contohnya apa?

Anies: Belum pernah dengar ide brilian dari Sandi supaya trotoar-trotoar di Jakarta menjadi semacam sirkus para atlet? Gila bukan? Anda pasti tertawa. Masa trotoar menjadi sirkus para atlet. Tetapi, bukan di situ poinnya. Cobalah untuk berpikir positif. Begini, dengan ide itu, Anda pasti tertawa bukan? Tertawa pasti terhibur bukan? Ya, begitulah sederhananya. Kami ingin menghibur Anda-Anda sekalian.

Riduan: Jadi, langsung to the point saja Pak. Kesimpulannya, apakah Bapak ingin maju menjadi capres atau cawapres, atau bukan kedua-duanya?

Anies: Bah. Saya yang bodoh atau Bapak yang idiot? Masa belum mengerti dari tadi maksud saya apa?

Riduan: Bukan tak ngerti Pak. Saya butuh bahasa konret, bukan bahasa politisi, apalagi abstrak dan ngawur. Karena yang kutahu, Bapak itu pendidik, bukan politisi.

Anies: Bacalah semua perkataan saya di media. Semua sudah jelas di situ, apalagi baru-baru ini setelah nama Prabowo mulai diragukan banyak pihak. Dan, aku semakin yakin, semoga Allah ikut di pihakku, maka aku akan menang karena aku sudah semakin populis dan populer. Memang, di awal pencalonan sebagai gubernur aku bilang untuk tidak maju sebagai capres. Tetapi kalau Allah sudah berkehendak, siapa kita sehingga bisa menolak?

Riduan: Intinya, Bapak maju. Begitu?

Anies: Siapa yang bilang? Anda jangan menuduh saya seperti itu! Ini tidak baik. Berpikirlah positif Pak Riduan.

Riduan: Lho, tadi kan Bapak yang bilang kalau semua sudah jelas. Yang kubaca begitu, Bapak ingin sekali maju sebagai capres atau cawapres.

Anies: Doakanlah. Semoga dapat yang terbaik untuk bangsa ini.

Riduan: Oke, berarti Bapak ingin menjadi presiden meski belum berhasil sebagai gubernur.

Anies: Heh, hati-hati bicara. Saya tak pernah bilang saya ingin menjadi capres atau cawapres.

Riduan: Bah, Bapak juga belakangan ini tak pernah bilang kalau Bapak akan selalu menjadi gubernur setidaknya hingga periode ini selesai.

Anies: Maaf, aku harus memblokir Bapak dari facebook. Sepertinya Bapak tak mendukung niatku untuk masa depan bangsa ini. Lagipula, Bapak sepertinya terlalu idiot untuk saya.

***

Saya sangat terkejut. Tiba-tiba, kubuka akun facebookku. Kulihat, tak ada lagi nama Anies Baswedan dalam kolom pertemananku. Aku mulai menyesal. Sementara itu, di sisi saya, seorang calon caleg dari Gerindra masih tidur pulas. Calon caleg dari Gerindra ini teman baik saya dari dulu. Kami sekos sudah lama. Karena itu, kami tak pernah berantam. Kubuka lagi akun facebookku. Nama Anies Baswdan tetap tak ada. Dan, teman saya itu semakin pulas.

Astagah, ternyata, dari tadi, saya rupanya mimpi buruk. Ya, saya mimpi buruk. Kurang asam. Maaf, bukan soal Aniesnya yang buruk. Anies jauh lebih ganteng dari saya. So, buruknya di mana? Buruknya ini. Kan, andai Anies jadi capres, kasihan penggemarnya di DKI. Mereka ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Sakitnya itu di sini!

Begitu juga dengan semua penggemar di tanah air yang ingin Anies sebagai capres atau cawapres. Kan, kasihan mereka di-PHP-in kalau Anies malah ga jadi capres/cawapres. Bukankah keduanya itu berita buruk? Jadi, jangan berpikiran buruk. Kata Anies, berpikirlah positif.

Jeng-jeng-jeng!!!

Baca Ulasan Lainnya: Ayo Memberi Anies Seberkas Cahaya

Baca Ulasan Lainnya: Doa Ajaran Amien Rais Lebih Manjur dari Doa Ajaran Yesus(?)

Baca Ulasan Lainnya: Manusia-Manusia Setan

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar