Antara Charlie Hebdo dan Tempo

oleh Riduan Situmorang pada 28 Maret 2018 (424 kali dibaca)

Ilustrasi diambil dari Geotimes.co.id

 

Terkait tragedi pemuatan karikatur oleh Charlie Hebdo, Agus Dermawan T pernah menuliskan “Karikatur” (Tempo, 10 Januari 2014). Di sana, secara tersirat dia mengatakan bahwa “pembantaian” yang menewaskan 12 orang manusia ciptaan Tuhan pada saat itu merupakan tumbal pada kekeliruan para segelintir punggawa penting di Charlie Hebdo (CH). Apa kekeliruan itu? Kekeliruan itu, kata Agus, setidaknya dapat dilihat dari dua hal.

Pertama, pelanggaran moral yang dilakukan oleh editor dan seniman sembrono: yang tak punya rasa hormat serta tidak memiliki sensibilitas atas dogma agama. Kedua, menyangkut akar seni karikatur, yang tampaknya tidak dipahami oleh para karikaturis di majalah satire itu. Memang, seperti kata Agus, karikatur merupakan salah satu jembatan seni yang memakai rupa untuk menyindir dan mengkritik. Akan tetapi, karikatur tidak boleh melepaskan diri dari konteks.

Agus juga mengatakan, karikatur harus dibuat dari wajah yang pernah dilihat, entah itu langsung ataupun tidak. Artinya, jika seseorang tidak pernah melihat, seseorang itu tidak “berhak” membuat karikatur tentangnya. Maka, dari  logika seperti ini, Agus mengatakan karikatur CH tentang—sekadar menyebut contoh Nabi Muhammad—sebagai karikatur yang salah. Meski Agus tidak mengatakannya secara lugas, saya mengartikan bahwa “pembantaian” itu merupakan sesuatu yang pantas sebagai balasan terhadap “kekeliruan”.

Sangat Sederhana

Sebagai penikmat sastra dan seni, saya tidak sepakat dengan Agus Dermawan. Saya menempatkan karikatur sebagai sebuah seni. Dalam pada itu, dalam benak saya, seni tentu saja tidak terbatas pada apa yang dilihat atau tidak. Sastra itu bebas melampaui pancaindra, namanya imajinasi. Maka, ketika ada sosok arogan yang membantai para punggawa CH, saya juga melihatnya sebagai pembantaian terhadap seni itu sendiri. Orang banyak bahkan mengatakannya sebagai kejahatan beruntun: kemanusiaan, kebebasan, pers.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Disfungsi Hukum Kita

Tak lama ini, Tempo juga menjadi sasaran demonstrasi dari FPI. Akar masalahnya sama seperti di Charile Hebdo. Bedanya, jika benar tokoh dalam karikatur Tempo adalah Habib Rijieq, maka Tempo mengangkat tokoh yang pernah dilihat, sementara Charlie Hebdo, tidak. Mengekor pada alur berpikir Agus Dermawan, apa yang dilakukan Tempo juga masih masuk akal. Tempo masih melakukannya dalam ruang gerak moral. Tempo tidak vulgar. Sosok terduga Habib Rijieq tidak dibuat menghadap ke depan.

Dalam pada ini, kita bisa saja menduga bahwa sosok terduga itu adalah orang lain, bukan Habib Rijieq. Memang, jika dipungut semua latar belakangnya, sosok terduga dalam karikatur itu cenderung mengarah pada Habib Rijieq. Ini terlihat dari percakapan sosok terduga Habib Rijieq dengan wanita di depannya. Sosok terduga itu minta maaf karena tidak jadi pulang. Lalu, sosok wanita di depannya menjawab dengan kalimat gaul: yang kamu lakukan itu jahat. Kita sama-sama tahu bahwa kini Habib Rijieq “takut” pulang ke Indonesia.

Dia meninggalkan “jejak” kasusnya di Indonesia tanpa tanggung jawab. Akibatnya, ada sejumlah meme unik yang menyebutkan bahwa perbedaan Ahok dan Habib Rijieq itu sangat sederhana. Jika Habib didukung 7 juta penggemar namun malah kabur, Ahok beda lagi: meski sendirian, dia tetap tegar menghadapi 7 juta umat. Ahok tidak takut dipenjarakan: berani berbuat, maka berani pula bertanggung jawab. Habib Rijieq agakanya melakukan hal berbeda: dia pergi ke luar negeri dan belum balik-balik.

Perginya Habieb Rijieq tanpa kembali inilah yang kemudian dibaca sebagian orang sebagai “kejahatan”. Namun, Tempo, lagi-lagi, tidak melakukannya dengan “sadis” seperti Charlie Hebdo. Tempo tidak mengatakan sosok terduga itu sebagai orang jahat. Sederhana saja, melakukan sesuatu yang “jahat” bukan berarti membuat kita benar-benar jahat. Kita barangali akan benar-benar jahat jika setelah melakukan tindakan itu, namun kita malah mengabaikan. Kita lebih-lebih akan dikatakan jahat jika setelah dicurigai, kita malah pergi.

Kejahatan itu bukan puncak. Memelintir Nietzsche, kejahatan itu hanya tafsir. Karena itu, kejatahan itu akan beres setelah ada klarifikasi. Kejahatan itu bahkan akan benar-benar tuntas setelah ada pertanggungjawaban. Kejahatan, pada gilirannya nanti, malah akan segera berbuah kemuliaan. Tentu saja ini hanya akan terjadi setelah seseorang selesai bertanggung jawab lalu selekas itu, dia pun mulai untuk berubah dalam sikap. Di sinilah menjadi sangat menarik membaca karikatur Tempo. Tempo melakukannya secara bertanggung jawab.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Kampanye SARA

Tempo bahkan “bertanggung jawab” untuk sesuatu yang tidak dilakukannya, untuk tafsir yang disalahtafsirkan. Saya mengatakan untuk “sesuatu yang tidak dilakukan” sebab Tempo mengayun karikatur kontroversial itu dengan sangat indah dan lincah. Tempo melakukannya melalui kalimat yang belakangan ini populer, antara Rangga dan Cinta. Maka itu, ketika FPI melakukan persekusi, saya membacanya sebagai sebuah gagal paham yang luar biasa. Malah, (maaf) saya membacanya sebagai kekekerasan beruntun: kemanusiaan, kebebasan, terutama pers.

Babi yang Buta

Sederhana saja, apa yang dilakukan Tempo adalah karya seni. Bahwa jika kemudian ada seseorang atau sekelompok orang yang merasa tersinggung, seseorang dan sekelompok orang itu mestinya melawannya dengan seni pula. Ini bukan zaman kebodohan lagi, di mana perang selalu dijawab dengan kekuatan massa, apalagi otot. Supaya lebih elegan dan sejuk, FPI semestinya memprotes Tempo dengan surat keberatan ke Tempo. Supaya lebih elegan lagi, FPI bahkan bisa mengadukan Tempo ke Dewan Pers. Sebab, ini wilayah pers.

Namun, apa yang terjadi kemudian sangat menggelikan. FPI tidak hanya demonstrasi. FPI malah memaksa agar Tempo minta maaf. Padahal, menuntut secara paksa agar Tempo minta maaf dapat disamaartikan bahwa Tempo memang benar-benar melakukan penghinaan kepada Habib Rijieq. Jujur saja, saya lebih kagum kepada Setya Novanto ketika dia memolisikan semua orang pembuat meme yang jelas-jelas menghinanya. Setnov melawan dengan elegan: melalui hukum. Atau, apakah FPI hidup tanpa hukum?

Entahlah. Yang pasti, (ini untuk kita semua, bukan hanya untuk FPI saja) saat ini kita cenderung hidup tanpa hukum. Orang seenaknya saja menghina presiden. Namun, ketika menghina orang yang bukan presiden, kita langsung geram. Karena itu, adalah tak berlebihan jika saya menyebut bahwa manusia saat ini sudah semakin membabi buta. Manusia bahkan sudah benar-benar menjadi babi yang buta: menyerang apa saja. Lakonnya hanya seruduk demi seruduk. Hanya karena tersinggung lalu seruduk hingga lupa bahwa kita masih punya sesuatu yang sangat penting: otak.

Baca Juga Ulasan Lainnya: Menebak Masa depan Djarot di Sumut

Baca Juga Ulasan Lainnya: Amien Rais dan Kemenduaan Sikapnya tentang Kafir

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar