Andai Saja Aku Awak Kapal atau Penumpang Fery di Danau Toba

oleh Riduan Situmorang pada 23 Juni 2018 (479 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Kaskus.co.id

 

Tulisan ini terlihami dari pembicaraan beberapa teman seniman, budayawan, juga pers di Gedung Dojo, TB Silalahi Center. Teman-teman itu berasal dari banyak tempat. Ada dari Tanjung Balai, dari Siantar, namun umumnya dari daerah Pulau dan Toba Samosir. Entah mengapa, di sela-sela persiapan kami dalam meramu acara Hari Batak pertama di Indonesia, beberapa teman ini mendiskusikan tenggelamnya Kapal Sinar Bangun. Mereka terlihat sangat khusyuk dalam diskusi itu. Mereka bahkan sampai terbawa emosi ke hal yang paling dasar: andai saja aku di tempat itu.

Mereka menjadi sangat emosional karena lambannya pertolongan. Dari pemerintah, dari masyarakat, juga dari para pekapal yang kebetulan lewat di daerah tenggelamnya Sinar Bangun. Mereka semakin emosional karena korban banyak yang hilang dan tak kunjungan ditemukan, bahkan hingga tulisan ini dibuat. Sebaliknya, korban yang selamat hanya sedikit. Sedikit saja. “Perhatikan saja, dari tampak visual video dari kapal fery itu, korban yang mengapung sangat banyak. Mereka berteriak minta pertolongan,” ujar seorang teman.

Teman itu benar. Dari video yang kemudian beredar, memang ada puluhan korban yang mengapung. Dari video itu, terdengar teriakan-teriakan dari penumpang supaya segera memberikan pertolongan. Dari video itu juga, terdengar suara-suara lirih dari korban Sinar Bangun. Suara mereka lirih lalu terbawa derasnya angin. “Sialnya, fery ini hanya menyelamatkan 3 orang saja. Padahal, ada banyak, bahkan ratusan korban di situ. Pokoknya, mereka lamban sekali. Apa susahnya memberikan pertolongan kepada mereka?” kesal seorang teman yang lain.

Tanpa Merasa Bersalah

Saya menimpali. “Andai saya di sana, saya juga akan melakukan hal yang sama. Saya tak berani terjun ke danau. Arus sangat deras. Cuaca mendung. Saya bahkan tak tahu berenang,” kataku. Saya memberikan kalimat ini karena saya yakin, penumpang banyak seperti saya: tidak bisa berenang. “Ini bukan soal bisa atau tidak berenang. Andai ada niat untuk menolong, gampang sekali. Pakai pelampung. Ikatkan badan dengan tali lalu tambatkan ke fery. Bawa tali panjang. Berikan kepada para korban. Fery tingga menarik korban yang sudah berpegangan pada tali itu,” katanya dengan sangat bersemangat, dicampur kesar dan marah, tentu saja.

Saya sepakat dengan idenya. Tetapi, selalu lebih mudah mengatakan daripada melakukan. Benar, dalam perhitungan saya, jika saya penumpang lalu mengikatkan diri dengan tali setelah memakai pelampung, lalu berenang membawa tali panjang dan memberikannya kepada korban, banyak korban akan selamat. Dan, saya pun, sebagai orang yang menyelamatkan, sudah pasti selamat juga karena saya pakai pelampung, juga diikat ke kapal fery. Hanya saja, sekali lagi, jika saya penumpang fery itu, saya tetap saja masih ragu untuk melakukannya.

Karena itu, meski kesal dengan ulah para penumpang fery yang malah sibuk memvideokan “kematian” para korban Sinar Bangun, saya tetap tak menyalahkan para penumpang fery itu. Yang bisa saya kesalkan, mengapa penumpang fery itu mengabadikan detik-detik “kematian” orang lain tanpa merasa bersalah. Saya kesal karena ini benar-benar memilukan. Korban berharap ditolong. Mereka yang sempat pasrah untuk mati tiba-tiba semakin bersemangat berenang karena mereka yakin, mereka akan selamat karena di danau itu, ada banyak orang, ada kapal besar, ada sekoci, ada pelampung.

Sayangnya, hanya korban saja yang bersemangat untuk diselamatkan.Penumpang fery tak semangat untuk menolong. Mereka hanya semangat untuk memvideokan. “Yang lebih menyayat hati, awak kapal fery itu tak memberikan pertolongan,” kata teman yang lain. “Mereka juga sama seperti penumpang. Mereka tak tahu berenang,” jawabku membela awak kapal fery itu. “Apa? Awak kapal fery tak bisa berenang? Apa-apaan ini? Standar nahkoda kapal, apalagi kapal sebesar fery itu, harus bisa berenang, lho” serangnya semakin kesal.

“Lagipula,” dia melanjutkan, “peralatan keselamatan di kapal sebesar fery sangat cukup. Ada sekoci. Ada pelampung. Ada tali. Ada pula awak kapal yang bisa berenang. Masakan mereka hanya melempar-lempat ban dan pelampung. Bodoh sekali. Masakan lagi fery itu malah diam. Fery itu mestinya mendekat ke korban agar korban bisa berpegangan pada bahu kapal fery,” katanya. Saya tak bisa menyanggah lagi. Apalagi, semua yang dia katakan itu benar adanya. Untuk kapal penyeberangan fery di Danau Toba, peralatan keselamatan lengkap. Awak kapal juga mestinya profesional.

“Banyaknya korban hilang ini hanya karena hati awak kapal fery untuk menolong korban sangat rendah,” seorang yang lain mulai turut meramaikan pembicaraan. “Awak kapal dan penumpang fery hanya mental medsos,” jelasnya lagi. “Apa itu mental medsos?” tanyaku. “Mental untuk pamer seakan sudah menolong banyak orang. Padahal, dari puluhan, bahkan ratusan, yang selamat hanya tiga orang. Kau tahu, kapal kayu yang divideokan dari kapal fery itu tak memvideokan apa-apa. Tapi, justru kapal kayu itu yang menyelamatkan lebih banyak dari kapal fery. Itu yang membuat aku semakin kesal,” lanjutnya.

Indianapolis

Entah mengapa, setelah sampai di titik pembicaraan itu juga saya semakin kesal. Penumpang di kapal fery itu memang memvideokan kapal kayu itu. Padahal, kapal kayu itu tak memvideoakan apa-apa, namun justru mereka berbuat lebih banyak. Sayangnya lagi, sempoat beredar pujian bahwa ferylah yang menyelamatkan. Namun, keselamatan seperti apa yang patut dipuji jika dari ratusan yang mestinya bisa ditolong dengan sangat mudah karena didukung peralatan yang memadai, namun yang tertolong hanya tiga orang?

Sekali lagi, entah mengapa, di malam yang dingin pada pembicaraan ini, saya sangat kesal. Saya jadi membayangkan, andai saja saya di kapal fery itu. Saya tidak akan memvideokan seakan-akan saya bisa menyelamatkan, seakan-akan saya pahlawan. Saya benar-benar tidak tega memvideokan jerit tangis minta tolong orang lain jika saya tak bisa untuk menghapus dan menampung air mata mereka. Saya akan mencoba menceburkan diri karena peralatan lengkap. Saya akan menceburkan diri, karena saya sudah berani untuk mengandaikan, andai saja korban yang berteriak minta tolong itu adalah ibu saya, adik saya, ayah saya, pacar saya.

“Sudah hilang simpati dari kita,” kata seorang kawan dengan lirih. Suaranya bergetar. Saya merindukan dan mendoakan, semoga banyak orang seperti teman-teman budayawan dan seniman ini. Supaya tidak ada “pamer-pamer kematian orang lain”. Saya lebih-lebih merindukan, supaya awak kapal di Danau Toba profesional, seperti kapal kayu itu. Mereka sepi dari berita meski mereka banyak menyelamatkan. Sementara fery ramai berita meski mereka hanya menyelamatkan sedikit orang.

Ah, sudahlah. Barangkali, selain melatih para awak kapal untuk tanggap darurat di samping cepatnya pertolongan dari pemerintah, saya menyarankan, supaya awak kapal di Danau Toba menonton film Indianapolis. Film itu mengisahkan bagaimana kapten kapal mengutamakan keselamatan bawahannya. Sayangnya, mereka semua tak bisa diselamatkan karena serangan ikan-ikan lapar. Karena tak bisa menyelamatkan, kapten kapal itu merasa sangat berdosa dan bersalah meski ia tak berdosa dan bersalah. Yang lebih dramatis, karena tak bisa menyelamatkan, kapten kapal itu pun bunuh diri. Andai saja itu terjadi di Danau Toba!

Baca Berita Terkait: Warganet Sambut Hercules sebagai Penjemput Mayat

Baca Berita Terkait: Katanya Monaco Asia, tapi Pelayanan Minim

Baca Berita Terkait: Sejarah Kecelakaan di Danau Toba, dari Mitos Hingga Human Eror

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar