Alumni 212 Masih Bergerilya, Masih Percaya Bela Agama?

oleh Riduan Situmorang pada 13 November 2017 (704 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari https://twitter.com/kamialumni212

 

Tak terasa, ternyata sudah lebih setahun demonstrasi besar-besaran untuk Sang Penista Agama (saya sebut saja demikian). Entah hanya saya yang merasakan, rasanya peristiwa demo berjilid-jilid itu baru kemarin terjadi. Karena itu, ketika Facebook mengingatkan saya tentang sebuah ulasan saya di salah satu media nasional yang saya posting di beranda terkait Ahok dengan tragedi kata “pakai”-nya, saya sangat terkejut lalu berkata dalam hati: ternyata sudah setahun. Betapa tidak, sekali lagi, rasa-rasanya bagi saya peristiwa itu masih baru saja terjadi. Ibarat makanan, sajian itu belum basi, malah masih hangat.

Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa peristiwa tragedi Ahok itu masih terasa hangat sampai sekarang? Tak lain tak bukan karena kebencian yang mengular dan mengalir dalam balutan peristiwa itu selalu diawetkan dan dihangatkan. Selain itu, di sini berlakulah apa yang kemudian dinubuatkan Nietzsche: hanya hal-hal yang tak henti menyakiti yang tetap berkutat dalam ingatan. Tak bisa ditolak, peristiwa ini sangat menyakitkan kita. Di dalam peristiwa itu, kita saling menerkam. Hasilnya, pada saat itu benar-benar tak ada lagi arti persaudaraan.

Dengan sadar, kita menyempitkan definisi persaudaraan menjadi sebatas pertemanan yang terbagi secara kontras: pendukung dan anti-Ahok. Definisi ini kemudian bahkan semakin ganas lagi: sesama Islam dan non-Islam. Kalau kita lacak lagi, definisi Islam pun semakin didangkalkan. Islam tak lagi soal agama. Islam dan non-Islam sudah menjadi soal kubu-kubuan. Masih segar di ingatan kita bagaimana Lieus Sungkharisma dan Harry Tanoe yang sebenarnya beragama non-Islam malah dibaca sebagai “Islam” sejati.

Barang Pasif

Sebaliknya, para pendukung Ahok yang sebenarnya beragama Islam langsung diartikan sebagai “pengkhianat Islam”. Pengertian “pengkhinat” pada saat itu pun terasa sangat kekal. Tolehlah pada kebudayaan dan kenyataan yang saat itu saling memunggungi. Budaya kita adalah sikap untuk saling menghormati. Tak ada kebencian yang kekal. Maka, jika seseorang meninggal, entah seseorang itu jahat atau tidak, maka sesaat setelah meninggal, kita akan mengenang orang itu sebagai orang baik. Kita tak pernah mencaci, apalagi menolak orang mati.

 

Baca Juga Opini Lainnya: Meretas Generasi Baper

 

Namun, pada masa itu, jangankan mencaci, kita malah menolak untuk mendoakan mayat hanya karena “mayat” itu dulunya pendukung Ahok . Saya tak sedang menghakimi. Yang pasti, dalam pandangan saya, agama adalah hal-hal suci. Saking sucinya, hal-hal kotor pun tak akan sanggup menodainya. Tetapi, agama dengan segala kesuciannya ternyata hanya barang pasif sepasif-pasifnya. Benar bahwa agama tak bisa ternodai. Namun, di balik itu, kita juga harus sadar bahwa agama juga tak bisa menyucikan.

Sekali lagi, agama hanya barang pasif: tak bisa ternodai dan tak bisa menyucikan secara serta-merta. Sayangnya, di tangan para politisi, agama bisa menjadi sesuatu yang berbahaya, aktif, bahkan ganas seganas-ganasnya. Betapa tidak, para politisi bisa menggunakan kesucian agama sebagai pelindung untuk berbagai kejahatannya. Agama bisa menjadi tawar untuk tangan yang buas. Agama bahkan bisa menjadi mesin pembunuh yang paling efektif. Sejarah sudah membuktikan itu bahwa betapa dalam penyebarannya niscaya ada marah dan darah.

Karena itu, Titus Lucretius Carus (99-55 SM) pun berkata, “Tantum religio potuit suadere malorum!” (betapa hebatnya agama sampai bisa mendorong orang untuk melakukan perbuatan jahat). Ini terjadi karena agama adalah sebuah gerakan kesucian yang dibelokkan. Karena agama adalah gerakan kesucian, maka sudah pasti gerakan di dalamnya juga adalah gerakan kebenaran. Nah, motif gerakan kebenaran inilah yang kemudian yang di(ko)modifikasi para politisi. Sebab, seperti kita ketahui, kehendak untuk benar, kata Foucault (1990), berbanding lurus dengan kehendak untuk berkuasa juga.

Bagaimanapun, politik tak lain tak bukan hanyalah cara untuk menggapai kekuasaan. Untungnya (sebenarnya: biadabnya), agama benar-benar berpotensi menjadi kendaraan sekaligus menjadi jalan tol untuk meraih kursi dengan sangat gampang. Sebab, dengan agama, tentu saja setelah diperalat para penganut politik praktis, segala kebodohan dan kekerasan bisa menjadi sah. Saya jadi teringat pada Abu Nawas. Konon, sang penyair keturunan Arab-Persia ini pernah berkata pada masyarakat bahwa di dalam topinya ada surga berikut bidadarinya.

Karena Abu Nawas menjual surga dan bidadari, orang-orang lantas terkesima. Nalar menjadi pudar. Karena itu, tanpa melihat, mereka pun berteriak tegas: wahai teman-teman, Tuhan ada dalam topi Abu Nawas. Hingga kemudian, ada seorang yang tak melihat apa-apa. Seseorang itu lantas melaporkan Abu Nawas kepada Sang Raja. Sang Raja pun bertanya, “Abu Nawas, apakah kamu bilang bahwa di balik topimu ada surga dan bidadari?” Abu Nawas menjawab, “Hanya orang beriman dan saleh yang dapat melihatnya”.

Seberkas Sinar

Sang Raja kemudian melihat topi Abu Nawas. Sang Raja sebenarnya tak melihat apa-apa. Benar-benar tak melihat apa-apa. Tetapi, pada akhirnya, Sang Raja mengaku telah melihat surga dan bidadari. Sang Raja mendadak kehilangan sesuatu yang berharga karena kerakusannya untuk tetap menggapai kekuasaan (politik): nalar. Menyebut tak melihat apa-apa, maka Sang Raja menjadi sang terkutuk, bisa-bisa dirajam dan lengser dari jabatan. Karena itu, Sang Raja membohongi dirinya sendiri. Sang Raja bahkan menghukum orang yang menyebut tak melihat apa-apa itu. Begitulah agama!

 

Baca Juga Opini Lainnya: Siapakah Tuhan?

 

Saya tak sedang berkotbah agar kita tak lagi patuh pada agama. Agama adalah sebuah zat adikodrati. Namun, ada sesuatu yang harus kita awasi bahwa pada perisitiwa politik, agama hanyalah alat. Tolehlah pada peristiwa beberapa tahun belakangan ini selepas Pilpres 2014 kemudian memuncak pada Pilkada Jakarta. Hanya karena Ahok latah, berbagai demonstrasi dilakukan secara TSM (terstruktur, sistematis, dan masif). Saat itu, jargon perjuangan dari gerakan yang dibuat “Aksi Bela Islam” adalah menolak Ahok, Sang Penista Agama, jadi gubernur.

Setelah Ahok gagal jadi gubernur, gerakan berlanjut lagi: penjarakan Ahok (bila perlu hukum mati). Setelah Ahok dipenjarakan dan Anies menang, gerakan itu masih saja awet. Malah kini, pada peringatan setahun demosntrasi bertajuk 411, gerakan ini coba dibangkitkan lagi. Pidato Ketua Alumni 212 dengan tegas mengatakan bahwa mengalahkan Ahok cum memenjarakannya adalah perjuangan awal. Perjuangan selanjutnya adalah memenangi Pilkada 2018. Perjuangan puncaknya adalah menggulingkan Presiden Jokowi yang sebenarnya beragama Islam. Lantas, masihkah kita yakin gerakan ini adalah gerakan keagamaan?

Maaf, harus saya katakan: tidak. Ini hanya trik bagaimana politik telah memperdaya dan memperalat agama. Apakah memperalat agama adalah aksi bela agama? Mungkin di sinilah Titus Lucretius Carus dengan nasihatnya “seluruh hidup merupakan perjuangan dalam kegelapan” menemui definisi terbaiknya. Ah, semoga esok, matahari masih terbit agar kita bisa melihat setitik sinar! Yang paling penting, semoga kita masih mau membuka mata. Sebab, apa artinya setitik sinar bagi orang yang membutakan matanya?

Baca Juga Opini Lainnya: Ketika Manusia Menjadi Tuhan Sekaligus Iblis

Baca Juga Opini Lainnya: Generasi Sofa Kentang

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar