Agar Danau Toba tak Jadi Danau Tuba

oleh Riduan Situmorang pada 5 Juli 2018 (684 kali dibaca)

Tulisan Riduan SItumorang di Harian Waspada (5/7/2018)

 

Hampir sepekan saya di pinggiran Danau Toba. Saya meliput berita, mendengar keluh kesah, menyaksikan kesedihan, hingga menyimak olok-olok masyarakat kepada pemerintah, terutama dinas perhubungan setempat. Kebetulan, tiga hari setelah tragedi karamnya Sinar Bangun, saya juga ikut menjadi panitia Hari Batak Dunia di Balige. Ada yang menarik pada seminar itu karena kami juga menghadirkan Basar Simanjuntak dari BPODT di mana inti pembahasannya adalah bagaimana menjual Danau Toba ke pasar internasional. Kala itu, Basar Simanjuntak tidak “menjual” Danau Toba sebagai danau, tetapi sebagai aspek kebudayaan.

Menjual Danau Toba dari aspek kebudayaan tentu sangat menarik diperbincangkan. Namun, kebudayaan seperti apa yang kita jual jika semuanya tidak ditata dengan baik? Saya pikir, hal pertama yang harus kita sepakati adalah bahwa tenggelamnya Kapal Sinar Bangun bukan karena ganasnya ombak. Tenggelamnya Sinar Bangun lebih pada keroposnya pemahaman kita terhadap kebudayaan. Sebab, menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

            Senada dengan Tylor, Selo Soemardjan juga menyebutkan bahwa budaya itu adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Orang Batak adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kebudayaan. Terbukti, dari aspek visual, ketika orang Batak meninggal, mereka akan dibawa kembali Bona Pasogit. Budayawan-budayawan Batak menguatkan hal itu. Komponis Nahum Situmorang, misalnya, menulis lagi “Pulo Samosir” di mana salah satu liriknya adalah permohonan jika kelak meninggal agar dimakamkan di Pulau Samosir.

Patuh pada Kebudayaan

Sastrawan Sitor Situmorang juga menuliskan puncak impiannya dalam sebuah puisi dengan liriknya yang tegas bila nanti ajalku tiba/ kubur abuku di tanah Toba/ di tanah danau perkasa/. Sayangnya, Nahum Situmorang tak kunjung dimakamkan di Bona Pasogit. Setelah dirawat di rumah sakit umum yang kini bernama RS. dr. Pirngadi, Medan, Nahum wafat dan dimakamkan di Pekuburan Kristen, Jalan Gajah Madah, Medan. Medan dan Samosir sebenarnya bukan jarak yang jauh, apalagi setelah ada jalan tol Medan-Tebing Tinggi. Namun, Nahum tak bisa dimakamkan di Samosir justru karena alasan kebudayaan dan ini semakin membuktikan, orang Batak sangat patuh pada kebudayaan.

Baca Ulasan Lainnya: Bagaimana Meledakkan Pariwisata Danau Toba?

Nahum mati muda. Dia melajang hingga akhir hidupnya. Karena melajang, dia tak terpandang dari segi ritual adat. Beda dengan Sitor. Dia sudah menikah dan punya anak. Maka, meski jauh dari Belanda, jenajah Sitor tetap dimakamkan di Bona Pasogit. Ada satu fakta yang sangat menarik dari kisah Nahum. Secara lahiriah, Nahum sebenarnya lahir di Sipirok, bukan di Samosir. Lalu, mengapa dia punya mimpi dimakamkan di Pulau Samosir? Thompson HS, budayawan Batak yang sudah menerima anugerah kebudayaan dari Kemendikbud, menyebutkan karena secara kebudayaan, Samosir itu adalah Bona Pasogit bagi setiap orang Batak.

Di sini, Danau Toba tentu menjadi titik awal dan titik pulang. Danau Toba bukan lagi sekadar danau. Dengan kata lain, mengutip Mangadar Situmorang, Samosir dan daerah sekitar Danau Toba tidak hanya bermakna sebagai tempat (locus), tetapi habitus yang menyatupadukan aspek-aspek teritorial, kultural, dan spiritual. Ringkasnya, Danau Toba menjadi tempat pemghidupan. Dan memang, demikianlah adanya. Dalam tradisi lisan Batak jelas disebutkan, Danau Toba menjadi lambang penghidupan, bahkan keselamatan dari musim haleon (kelaparan).

Konon, seekor ikan menjelma menjadi wanita cantik. Kedatangan wanita ini menjadi sebuah oase di mana sebelumnya dan sudah pada waktu yang sangat lama, sorang pria kehausan. Serba kehausan, terutama jiwanya. Tersebutlah pria ini berhasil bertahan hidup dari sebuah masa haleon dengan cara makan paruh burung dan akar-akar rumput. Sanak saudaranya menghilang dan kampung lenyap ditelan bencana. Dia sebatang kara. Tak ada yang menemani. Hingga pada sebuah siang, dia memancing di sebuah sungai. Tiba-tiba pancingnya direnggut seekor ikan besar.

Seperti kita ketahui bersama, ikan itu menjadi manusia. Inilah oase itu: di tengah kesebatangkaraan yang bahkan sudah tak pernah lagi melihat manusia, dia tiba-tiba melihat seorang manusia. Bukan sekadar seorang manusia, dia manusia-wanita. Bukan sembarang wanita, dia wanita-cantik. Kelak dia dinamai Sondang Nauli (sinar yang berbinar). Sungguh sebuah berkat mahabesar. Kedatangan ikan inilah—lagi-lagi menurut mitologi Batak—yang menyelamatkan Sang Pria pemancing (manusia).

Secara simbolis, ini mengandung makna, Tuhan menjadikan alam sebagai penyelamat manusia. Penyelamatan ini gratis, tapi bukan murahan. Karena itu, ada perjanjian yang harus dipegang teguh: Sang Pria tak boleh menyebut asal ikan yang kini jadi wanita. Menyebut asal (rahasia penyelamatan) secara vulgar setara dengan menyumpahi. Saat itu, janji adalah sebuah kesucian. Setiap kata-kata bermakna magis dan sakral. Pengingkaran atas janji mengandung makna mengutuki diri sendiri. Jika manusia berasal dari tanah, maka dia akan kembali ke tanah. Jika dari ikan, akan kembali menjadi ikan.

Belum Terlambat

Sayang, manusia tetaplah manusia. Sesuka hatinya menista alam. Apalagi laki-laki, sesuka hatinya pula mengobral janji. Serakah dan penuh murkah. Dalam bukunya yang berjudul Woman at Lake’s Edge tentang mitologi Danau Toba, Lena Simanjuntak-Mertes menukilkan kata-kata puitis. Kata itu berasal dari Sondang Nauli kepada Sang Pria. Begini bunyinya, “Kalian harus menjaga kebersihan dan kesucian air danau tempatku hidup supaya supaya pada saat bulan purnama kalian dapat melihat bayangku dalam air bersama seluruh penghuni serta keindahan danau. Dan, danau ini suatu saat akan menjadi sumber kehidupan manusia.”

Baca Ulasan Lainnya: Danau Toba dan Nation Lain

Saya tak sedang mengajak agar kita menghamba pada mitologi. Saya hanya mengangkat, betapa leluhur kita mewariskan kekayaan budaya berupa nasihat, petuah, dan pedoman hidup. Supaya danau, misalnya, menjadi sumber kehidupan, bukan sumber keserakahan. Jelas, tenggelamnya kapal Sinar Bangun, sekali lagi, bukan karena ombak, tetapi karena kita tak berbudaya. Kita menjadi serakah sehingga daya tampung kapal yang semestinya, menurut Menteri Perhubungan 43 orang, dijejali menjadi 200-an ditambah ratusan sepeda motor.

Danau diekspoiltasi semaksimalnya sehingga tidak hanya kapal yang tenggelam, air danau juga sudah keruh. Hasban Ritonga, Sekda Provinsi Sumut, bahkan menyebutkan, air danau sudah tak layak mandi. Ini merupakan dampak dari penebangan hutan secara liar, perikanan jaring apung (keramba), dan pembuangan limbah ke danau oleh industri peternakan dan pertanian (pestisida). Daya hidup dan daya dukung kawasan dimatikan. Hasilnya, Danau Toba pun menjadi danau tuba. Air susu dari Sondang Nauli berubah menjadi air tuba.

Pada titik inilah kita lantas bertanya, aspek kebudayaan apa yang bisa kita jual dari danau ketika para turis, misalnya, menjadi ketakutan? Belum terlambat. Danau masih bisa diselamatkan. Membuat danau ini kembali menjadi sumber penghidupan baiknya kita mengimani pesan kebudayaan dari Sondang Nauli. Pesan kebudayaan ini jika diterjemahkan adalah pesan revolusi mental: membuat tenang para tamu, membuat senang masyarakat setempat, membuat danau kembali alami. Titik bergeraknya harus dari sisi penghidupan, bukan eksploitasi, apalagi keserakahan. Jika tidak, air danau benar-benar akan menjadi tuba!

Baca Ulasan Lainnya: Danau Toba bukan Danau Tuba

Baca Ulasan Lainnya:  Andai Saja Aku Awak Kapal Atau Penumpang Kapal Fery

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar