Agamamu Agama Impor, Agamaku Agama Warisan Penjajah…

oleh Riduan Situmorang pada 28 April 2018 (579 kali dibaca)

Ilustrasi Diambil dari Kaskus.co.id

 

So what dengan agama warisan? Kenapa mesti gengsi dan denial? Tanya Iqbal Aji Daryono dalam Agama Saya Agama Warisan. Apakah agama memang warisan? Ya, betul dan itu sudah pasti! Memang, belum ada survei yang menyebutkan berapa persen agama orangtua yang juga diwarisi oleh anaknya. Tapi, aku sangat yakin, jumlah anak yang mengikuti agama orangtuanya pasti di atas 90 persen. Pertanyaannya, apakah karena 90 persen, maka agama yang kita warisi itu sudah 100 persen lebih benar dari yang lainnya? Tidak. Sama sekali tidak!

Sederhana saja. Bayangkan saja aku mewarisi kebun sawit bokap dan nyokapku. Lalu, ada tetanggaku mewarisi kebun lada. Apakah kebun sawitku lebih menguntungkan dari kebun lada tetangga sehingga aku bisa bersombong ria pada tetangga itu? Bagaimana kalau harga sawit tiba-tiba turun dan harga lada naik? Bagaimana kalau aku mati di kebun sawit itu, sementara tetangga hanya tumpur saja? Mana yang lebih menguntungkan? Tidak ada. Jawaban paling aman adalah relatif. Relatif berarti sama kuat. Tak ada yang benar dan tak ada yang salah.

Tapi, di sinilah kita selalu berkutat dan beradu kuat. Kebenaran yang sama kuat selalu kita pertengkarkan. Kita tak sadar bahwa mengadu banteng dengan banteng lebih sulit daripada mengadu banteng dan anjing (andaikan banteng itu sama kuat). Anjing akan mati seketika dan pertandingan pun selesai. Pertandingan selesai maka damai akan tiba. Sementara kalau banteng bertarung dengan banteng, pemenangnya tak akan ada. Ring sudah babak belur, tetapi pemenang belum juga timbul. Yang ada, banteng itu mati kelelahan.

Begitulah agama. Agama adalah pucuk dan akar dari kebenaran. Tak ada agama yang salah. Mempertengkarkan agama adalah mempertengkarkan kebenaran atau sama dengan mempertengkarkan banteng dengan banteng. Ring sudah hancur lebur, tapi belum ada pemenang. Padahal, lama ada pemenang, maka lama pula datang damai. Tak ada pemenang, maka tak ada damai. Kadang agama ini kalah, kadang agama itu malah yang kalah.

Sudah beribu-ribu tahun agama bertengkar di dunia ini. Itu artinya, beribu-ribu tahun kita habiskan tanpa damai. Kita tak sadar, betapa agama menjadi sumber perpecahan. Coba kalau beribu-ribu tahun itu kita tak bertengkar?

Baca Juga Ulasan Lainnya: Alumni 212 Masih Bergerilya, Masih Percaya Bela Agama?

Baiklah, mari kita bahas yang lain. Bagaimana dengan anak yang tak mengikuti agama orangtuanya. Tadi, saya bilang, golongan ini hanya 10 persen. Pertanyaannya, apakah golongan 10 persen ini sudah lebih benar dari golongan 90 persen? Tidak. Sama sekali tidak!

Pertama, perlu kita tanya: apa dasar peralihan agama itu? Apakah betul karena niat tulus? Beberapa orang boleh jadi ada karena niat tulus. Tapi, catat, itu hanya beberapa orang. Perpindahan agama seringkali hanyalah karena alasan perkawinan, politik kekuasaan, dominasi, bahkan intimidasi. Kalau begini halnya, apakah 10 persen itu sudah menang atas 90 persen? Tidak! Justru yang menang adalah perkawinan terhadap agama, politik kekuasaan terhadap agama, dominasi dan intimidasi terhadap agama. Sedih sekali!

Kedua, mungkin ada juga orang berpindah karena sudah belajar agama lain. Tapi, ini pun tetap juga masih mencurigakan. Lagipula, apakah motif belajar agama sudah sahih? Aduhai, siapa kali kita ini? Seperti kata Iqbal Aji Daryono, sekurang-kurangnya di dunia ini ada 4.200 sistem keyakinan. Apakah kita sudah mempelajari sistem itu semua lalu mengurutkannya dari nomor satu sampai nomor sekian? Kapan lagi kita makan, tidur, berak, bercinta, mandi? Sodaraku, membaca kitab suci boleh selesai satu hari, apalagi kalau tulisannya mengalir kayak di Mojok dot co. Tapi, apakah dengan membaca lantas kita sudah paham?

Ketiga, ini yang paling akurat. Berpindah agama berarti ada penilaian dari kita. Bahwa agama yang kita tinggalkan adalah agama sesat dan agama yang baru adalah agama penyelamat. Saya kira, ini perlu digarisbawahi karena di sinilah poin pentingnya. Siapa dari kita yang bisa memastikan agama lain sebagai agama yang sesat? Adakah buktinya? Siapa dari kita yang bisa memastikan agama baru kita sebagai penyelamat? Adakah buktinya? Seberapa hebat pun kau sodaraku tak akan bisa membuktikan itu.

Satu-satunya yang menilai kesesatan agama hanyalah Tuhan. Apakah kita Tuhan? Satu-satunya cara kita tahu mana yang sesat dan mana penyelamat juga adalah saat kita sudah bertemu dengan Tuhan: mati bahasa langsungnya! Adakah di antara kita yang sudah pernah mati, lalu bangkit lagi? Adakah di antara kita sudah pernah bertemu dengan orang yang pernah mati? Banyak lagi pertanyaan sodara-sodaraku sekalian.

Saya membilangkan ini-ini ke kita supaya kita tak lagi mengadu banteng dengan banteng. Sampai kiamat dunia ini, banteng itu tak akan menang, juga tak kalah. Mereka hanya bertukar posisi. Kadang menang, kadang kalah. Saya membilangkan ini juga untuk menguatkan statement bahwa agama itu hanya warisan. Benar-benar hanya warisan. Kau 90 persen tak akan jadi Katolik kalau orangtuamu muslim. Kau hanya akan jadi Katolik kalau pacarmu memaksa, sementara kau tak mau kehilangan pacarmu itu.

Sekali lagi, agama itu hanya warisan. Ya, warisan, seperti bagaimana kita mewarisi barang-barang. Parah memang, tetapi begitulah adanya. Oke, adalah hakmu untuk menilai bahwa warisanmu itu lebih berharga, lebih benar, lebih mulia. Tetapi, kau juga harus ingat Sodaraku bahwa orang lain juga punya hak dan pandangan yang sama tentang warisannya. Mereka juga menganggap agama mereka paling benar, paling mulia. Apa itu salah? Tidak!

Baca Juga Ulasan Lainnya: Agama, Bahasa, dan Sepatu

Itu justru benar. Siapa lagi yang mengimani agama kita kalau bukan kita. Yang salah adalah kalau kau tak hanya yakin, lalu kau menghakimi agama orang lain, bahkan menyesatkannya (sementara tadi, kau belum pernah mati). Yakinilah agamamu paling benar dengan cara jangan sampai menjelek-jelekkan, apalagi mengafirkan agama lain. Kau tak punya hak untuk mejelekkan, apalagi mengafirkan. Kalau sudah begini, dunia ini akan damai. Adakah cara lain yang lebih hebat agar dunia ini lebih damai?

Ada. Kalau kau mau lebih moderat dan modern, yakinilah bahwa semua agama adalah paling benar. Meyakini begitu tak lantas membuat dirimu kotor dan kafir. Meyakini begitu juga tak harus membuatmu gonta-ganti agama tiap tahun. Oh, iya, ngomong-ngomong, aku pribadi, sih, dalam hati pengennya gonta-ganti agama. Tapi aku sadar, gonta-ganti agama akan membuat orang lain marah. Ada yang tersakiti. Ada yang merasa menang, ada yang merasa ditinggalkan, bahkan dikhianati.

Kalau sudah begini, orang lain pasti marah. Padahal, kalau orang lain marah, apa lagi artinya agama? Agama itu damai. Karena itu, kuputuskan untuk mengimani imanku saja tanpa bermaksud menarik orang lain. Agama hanya warisanku, milikku. Agama bukan sepak bola, lomba-lomba cari penggemar. Agama tak butuh manusia banyak-banyak.

Apa penjelasan ini rumit? Baik, mari sederhanakan! Begini, aku punya istri. Katakanlah istriku cantik dan seksi. Walaupun istriku itu cantik dan seksi, tetap harus kuterima bahwa Raisa jauh lebih cantik dan seksi. Lalu, apakah karena Raisa cantik dan seksi maka aku harus meninggalkan istriku begitu saja. Istri yang telah memberiku anak? Maksudnya, gonta-ganti istri saja amat susah. Keluarga akan tersakiti, bahkan malu. Konon lagi kalau gonta-ganti agama!

Baiklah, tak usah panjang-panjang. Poin pentingnya, agama itu warisan yang tak bisa kita pilih. Warisan yang kadang-kadang kalau dipikir-pikir membuat ngeri. Andai Arab tak “menjajah”, maka aku pasti tak Islam. Andai Eropa tak menjarah, aku juga tak Kristen. Andai India dan Tiongkok tak menjelajah, aku tak akan Budha, Hindu, Konghucu. Andai aku dilahirkan dari negara yang asli, karena aku Batak, pasti aku Parmalim. Tapi, karena agama adalah warisan, jadilah aku begini.

Apakah harus berteriak bahwa warisan ini ternyata bukan warisan asli dari leluhur, karena itu, ini bukan warisan dari ayah-ibuku, tapi dari warisan penjajah? Ah, semakin rumit saja ternyata! Sudahlah, mari warisi saja warisan kita tanpa merebut dan menjelekkan warisan orang lain! Pis…!

Baca Juga Ulasan Lainnya: Manusia-Manusia Setan

Baca Juga Ulasan Lainnya: Ketika Manusia Menjadi Tuhan Sekaligus Iblis

Info Penulis

Terlanjur Suka Manulis, tapi Bukan Hoax. Pengajar di Prosus Inten Medan. Sangat Bersemangat untuk Mengajar Orang Lain Menulis. Sudah Pernah Ke Paris atau Keliling Eropa (Cie, ketahuan bohongnya) hanya Karena Menulis dan Berkebudayaan

Bagikan:


Komentar